Mengenal Gejala dan Tanda Karsinoma Nasofaring
Insyaallah hari ini,
Selasa 14 Januari 2020
pukul *11:30-selesai WITA
*WAG BALI MENGAJI AKHWAT*
TEMA : *MENGENAL GEJALA DAN TANDA KARSINOMA NASOFARING*
🎙Profil pemateri
Nama: dr. Duhita Yassi, Sp.THTKL
TTL: Yogyakarta, 25 Agustus 1982
Alamat: Jl. Osamaliki 26A Salatiga
Pendidikan terakhir:
Dokter umum: FK Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (lulus th 2007)
Spesialis: THT-KL FK UI (lulus th 2014)
Tempat bekerja:
- RSP dr. Ario Wirawan Salatiga
- Klinik THT Syifaa Rohmani Salatiga
Penyakit Karsinoma Nasofaring (KNF) saat ini masih sering dijumpai di sekitar kita. Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring, khususnya di daerah fosa Rossenmuller. Nasofaring adalah bagian dari saluran pernapasan yang terletak di tenggorokan bagian atas, terdapat di belakang hidung. Masih cukup banyak pasien yang datang pada stadium lanjut dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai KNF sehingga sangat menurunkan kualitas hidup bahkan mengurangi angka kesembuhannya. Pengetahuan yang baik mengenai gejala awal karsinoma nasofaring dapat memungkinkan dilakukan deteksi dini sehingga dapat segera diatasi.
Penyakit ini banyak didapatkan di daerah China Tenggara dengan angka kejadian 40-50 kasus per 100.000 orang per tahun, seperti dikutip dari Pedoman Nasional Kanker Nasofaring Kementerian Kesehatan. Di Indonesia, KNF menempati urutan ke-5 dari 10 besar tumor ganas yang terdapat di seluruh tubuh dan menempati urutan pertama di bidang Telinga, Hidung dan Tenggorok (THT). KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun jarang dijumpai pada usia dibawah 20 tahun dengan usia terbanyak antara 45 – 54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2,18 : 1.
Penyebab KNF
Dalam Pedoman Nasional Kanker Nasofaring Kementerian Kesehatan, dipaparkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena KNF, diantaranya:
1. Virus Eipstein-Barr
Penyakit ini dihubungkan dengan adanya peran Virus Epstein-Barr (EBV) terutama pada KNF jenis tidak berdifrensiasi (undifferentiated) dan KNF non-keratinisasi (non-keratinizing). Virus ini akan menginfeksi sel-sel epitel mukosa nasofaring sehingga bertransformasi menjadi sel ganas. Tidak semua orang yang terinfeksi virus ini akan menjadi KNF, tentu saja tergantung pada faktor lainnya seperti tingkat kerentanan pasien, gaya hidup serta kemungkinan genetik.
2. Faktor Lingkungan
Pada beberapa penelitian, dibuktikan adanya hubungan antara beberapa zat karsinogenik seperti golongan nitrosamin, hidrokarbon aromatic serta nikel sulfat. Bahan kimia nitrosamin dilepaskan dalam bentuk uap saat memasak makanan yang berupa ikan atau sayuran yang diawetkan. Uap tersebut masuk melalui rongga hidung dan meningkatkan risiko KNF terutama jika mendapatkan paparan sejak usia dini.
3. Genetik
KNF bukan merupakan tumor yang diturunkan secara genetik, namun terdapat kecenderungan adanya kerentanan terhadap kelompok masyarakat tertentu dan dihubungkan dengan peran gen pengkode enzim sitokrom p4502E1 (CYP2E1) yang bertanggung jawab pada aktivasi metabolik nitrosamin dan beberapa zat karsinogenik lainnya.
Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi histopatologi menurut WHO, KNF dibagi menjadi tipe karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi (WHO 1), karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih ke arah diferensiasi baik (WHO 2), karsinoma tidak berkeratin tanpa diferensiensi (WHO 3), serta Karsinoma Basaloid Skuamosa (Dikutip dari Journal of Nasopharyneal Carcinoma). Jenis KNF yang banyak dijumpai adalah tipe 2 dan tipe 3 yang berkaitan dengan virus EBV dan sensitif terhadap terapi radioterapi.
Gejala Karsinoma Nasofaring
Gejala awal yang terjadi sering tidak diperhatikan oleh pasien. KNF sangat mudah menyebabkan penyumbatan pada saluran Tuba Eustachius telinga tengah sehingga menimbulkan keluhan rasa penuh pada telinga, telinga berdengung hingga gangguan pendengaran yang awalnya terjadi pada satu sisi telinga. Gejala lain terjadi pada hidung berupa mimisan akibat dinding tumor yang rapuh serta sumbatan hidung yang menetap. Keluarnya darah biasanya berulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah muda. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental. Perdarahan yang banyak bisa terjadi seiring bertumbuh besarnya tumor dan kadang darah keluar melalui mulut.
Gejala lanjut dapat terjadi pada leher dengan munculnya benjolan pada leher. Pembesaran kelenjar limfe leher yang timbul di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe yang merupakan pertahanan pertama sebelum tumor meluas ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, sehingga sering diabaikan oleh pasien. Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter. Perluasan ke arah rongga tengkorak dan ke sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan penglihatan ganda (diplopia), rasa baal didaerah wajah, kelumpuhan lidah, gangguan pendengaran serta penciuman. Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak serta pergerakan rahang yang terbatas akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor. Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja tetapi pada beberapa kasus dapat terjadi pada kedua sisi tubuh.
Gejala akibat metastasis apabila sel-sel kanker ikut mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini disebut metastasis jauh. Yang tersering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis buruk.
Diagnosis
KNF dapat dideteksi dari pemeriksaan nasoendoskopi pada daerah nasofaring. Nasoendoskopi dapat dilakukan dengan endoskop rigid maupun fleksibel untuk melihat adanya massa tumor di daerah nasofaring, gambaran tersebut dapat terlihat dari layar monitor. Pemeriksaan ini biasanya tidak menyebabkan rasa nyeri, hanya menimbulkan perasaan tidak nyaman. Tindakan dilakukan dengan bius lokal pada daerah hidung. Bila pada pemeriksaan didapatkan adanya massa tumor, maka dilakukan biopsi pada daerah nasofaring untuk mengetahui jenis tumor nya karena jenis tumor ini akan menentukan terapi yang akan diberikan. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan untuk melihat perluasan tumor ke daerah sekitarnya. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal dan lain -lain dilakukan untuk memprediksi adanya metastasis. Saat ini juga berkembang pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mendeteksi karsinoma nasofaring, namun tidak berperan pada penegakan diagnosis melainkan sebagai skrining dan data dasar untuk evaluasi pengobatan.
Pengobatan
Radioterapi masih merupakan pengobatan utama. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa kemoterapi dan tindakan pembedahan. Pengobatan pembedahan diseksi leher dilakukan terhadap benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, tetapi tumor induknya sudah hilang (Ear, Nose & Throat Journals).
🌸Pencegahan
Walaupun belum terbukti efektif, dikembangkan usaha untuk mencegah KNF dengan pemberian vaksinasi khususnya pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi. Disamping itu perlu juga adanya perubahan kebiasaan hidup menuju hidup sehat untuk mengurangi resiko terkena KNF. Contohnya dengan mengurangi makanan dengan bahan pengawet, daging asap, ikan asin, serta menghindari makan makanan dalam kondisi yang masih sangant panas. Tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA juga dapat dilakukan untuk skrining KNF.
Kesimpulan
KNF masih sering dijumpai di negara kita. Pengetahuan yang cukup tentang penyakit tersebut terutama dalam hal gejala dini nya akan memungkinkan ditemukannya KNF lebih awal. Beberapa usaha dapat kita tempuh untuk mengurangi risiko terkena KNF, yang utama adalah dengan menempuh gaya hidup yang sehat
Insyaallah hari ini,
Selasa 14 Januari 2020
pukul *11:30-selesai WITA
*WAG BALI MENGAJI AKHWAT*
TEMA : *MENGENAL GEJALA DAN TANDA KARSINOMA NASOFARING*
🎙Profil pemateri
Nama: dr. Duhita Yassi, Sp.THTKL
TTL: Yogyakarta, 25 Agustus 1982
Alamat: Jl. Osamaliki 26A Salatiga
Pendidikan terakhir:
Dokter umum: FK Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (lulus th 2007)
Spesialis: THT-KL FK UI (lulus th 2014)
Tempat bekerja:
- RSP dr. Ario Wirawan Salatiga
- Klinik THT Syifaa Rohmani Salatiga
Penyakit Karsinoma Nasofaring (KNF) saat ini masih sering dijumpai di sekitar kita. Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring, khususnya di daerah fosa Rossenmuller. Nasofaring adalah bagian dari saluran pernapasan yang terletak di tenggorokan bagian atas, terdapat di belakang hidung. Masih cukup banyak pasien yang datang pada stadium lanjut dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai KNF sehingga sangat menurunkan kualitas hidup bahkan mengurangi angka kesembuhannya. Pengetahuan yang baik mengenai gejala awal karsinoma nasofaring dapat memungkinkan dilakukan deteksi dini sehingga dapat segera diatasi.
Penyakit ini banyak didapatkan di daerah China Tenggara dengan angka kejadian 40-50 kasus per 100.000 orang per tahun, seperti dikutip dari Pedoman Nasional Kanker Nasofaring Kementerian Kesehatan. Di Indonesia, KNF menempati urutan ke-5 dari 10 besar tumor ganas yang terdapat di seluruh tubuh dan menempati urutan pertama di bidang Telinga, Hidung dan Tenggorok (THT). KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun jarang dijumpai pada usia dibawah 20 tahun dengan usia terbanyak antara 45 – 54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2,18 : 1.
Penyebab KNF
Dalam Pedoman Nasional Kanker Nasofaring Kementerian Kesehatan, dipaparkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena KNF, diantaranya:
1. Virus Eipstein-Barr
Penyakit ini dihubungkan dengan adanya peran Virus Epstein-Barr (EBV) terutama pada KNF jenis tidak berdifrensiasi (undifferentiated) dan KNF non-keratinisasi (non-keratinizing). Virus ini akan menginfeksi sel-sel epitel mukosa nasofaring sehingga bertransformasi menjadi sel ganas. Tidak semua orang yang terinfeksi virus ini akan menjadi KNF, tentu saja tergantung pada faktor lainnya seperti tingkat kerentanan pasien, gaya hidup serta kemungkinan genetik.
2. Faktor Lingkungan
Pada beberapa penelitian, dibuktikan adanya hubungan antara beberapa zat karsinogenik seperti golongan nitrosamin, hidrokarbon aromatic serta nikel sulfat. Bahan kimia nitrosamin dilepaskan dalam bentuk uap saat memasak makanan yang berupa ikan atau sayuran yang diawetkan. Uap tersebut masuk melalui rongga hidung dan meningkatkan risiko KNF terutama jika mendapatkan paparan sejak usia dini.
3. Genetik
KNF bukan merupakan tumor yang diturunkan secara genetik, namun terdapat kecenderungan adanya kerentanan terhadap kelompok masyarakat tertentu dan dihubungkan dengan peran gen pengkode enzim sitokrom p4502E1 (CYP2E1) yang bertanggung jawab pada aktivasi metabolik nitrosamin dan beberapa zat karsinogenik lainnya.
Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi histopatologi menurut WHO, KNF dibagi menjadi tipe karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi (WHO 1), karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih ke arah diferensiasi baik (WHO 2), karsinoma tidak berkeratin tanpa diferensiensi (WHO 3), serta Karsinoma Basaloid Skuamosa (Dikutip dari Journal of Nasopharyneal Carcinoma). Jenis KNF yang banyak dijumpai adalah tipe 2 dan tipe 3 yang berkaitan dengan virus EBV dan sensitif terhadap terapi radioterapi.
Gejala Karsinoma Nasofaring
Gejala awal yang terjadi sering tidak diperhatikan oleh pasien. KNF sangat mudah menyebabkan penyumbatan pada saluran Tuba Eustachius telinga tengah sehingga menimbulkan keluhan rasa penuh pada telinga, telinga berdengung hingga gangguan pendengaran yang awalnya terjadi pada satu sisi telinga. Gejala lain terjadi pada hidung berupa mimisan akibat dinding tumor yang rapuh serta sumbatan hidung yang menetap. Keluarnya darah biasanya berulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah muda. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental. Perdarahan yang banyak bisa terjadi seiring bertumbuh besarnya tumor dan kadang darah keluar melalui mulut.
Gejala lanjut dapat terjadi pada leher dengan munculnya benjolan pada leher. Pembesaran kelenjar limfe leher yang timbul di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe yang merupakan pertahanan pertama sebelum tumor meluas ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, sehingga sering diabaikan oleh pasien. Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter. Perluasan ke arah rongga tengkorak dan ke sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan penglihatan ganda (diplopia), rasa baal didaerah wajah, kelumpuhan lidah, gangguan pendengaran serta penciuman. Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak serta pergerakan rahang yang terbatas akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor. Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja tetapi pada beberapa kasus dapat terjadi pada kedua sisi tubuh.
Gejala akibat metastasis apabila sel-sel kanker ikut mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini disebut metastasis jauh. Yang tersering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis buruk.
Diagnosis
KNF dapat dideteksi dari pemeriksaan nasoendoskopi pada daerah nasofaring. Nasoendoskopi dapat dilakukan dengan endoskop rigid maupun fleksibel untuk melihat adanya massa tumor di daerah nasofaring, gambaran tersebut dapat terlihat dari layar monitor. Pemeriksaan ini biasanya tidak menyebabkan rasa nyeri, hanya menimbulkan perasaan tidak nyaman. Tindakan dilakukan dengan bius lokal pada daerah hidung. Bila pada pemeriksaan didapatkan adanya massa tumor, maka dilakukan biopsi pada daerah nasofaring untuk mengetahui jenis tumor nya karena jenis tumor ini akan menentukan terapi yang akan diberikan. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan untuk melihat perluasan tumor ke daerah sekitarnya. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal dan lain -lain dilakukan untuk memprediksi adanya metastasis. Saat ini juga berkembang pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mendeteksi karsinoma nasofaring, namun tidak berperan pada penegakan diagnosis melainkan sebagai skrining dan data dasar untuk evaluasi pengobatan.
Pengobatan
Radioterapi masih merupakan pengobatan utama. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa kemoterapi dan tindakan pembedahan. Pengobatan pembedahan diseksi leher dilakukan terhadap benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, tetapi tumor induknya sudah hilang (Ear, Nose & Throat Journals).
🌸Pencegahan
Walaupun belum terbukti efektif, dikembangkan usaha untuk mencegah KNF dengan pemberian vaksinasi khususnya pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi. Disamping itu perlu juga adanya perubahan kebiasaan hidup menuju hidup sehat untuk mengurangi resiko terkena KNF. Contohnya dengan mengurangi makanan dengan bahan pengawet, daging asap, ikan asin, serta menghindari makan makanan dalam kondisi yang masih sangant panas. Tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA juga dapat dilakukan untuk skrining KNF.
Kesimpulan
KNF masih sering dijumpai di negara kita. Pengetahuan yang cukup tentang penyakit tersebut terutama dalam hal gejala dini nya akan memungkinkan ditemukannya KNF lebih awal. Beberapa usaha dapat kita tempuh untuk mengurangi risiko terkena KNF, yang utama adalah dengan menempuh gaya hidup yang sehat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar