Senin, 07 Februari 2022

Berilah kemudahan kepada Saudaramu

*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

Berilah kemudahan kepada Saudaramu

Coba bayangkan jika kita bisa mengangkat kesulitan orang yang kesusahan, mengenyangkan yang lapar, melepaskan orang yang terlilit utang, membuat orang lain bahagia,

Keutamaannya, itu lebih baik dari melakukan ibadah i'tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Sungguh ini adalah amalan yang mulia, keutamaan orang yang beri kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

*وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ*

"Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya." 
(HR. Muslim no. 2699).

Dari Ibnu 'Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

*وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ*

"Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya." 
(HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Dari Ibnu 'Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

*أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا*

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. 

Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. 

Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri'tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh." 
(HR. Thabrani di dalam Al Mu'jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. 

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami' no. 176).

Kita tutup group ini dengan membaca do'a Kafaratul Majelis :

*سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ*

*"Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik"*

"Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu"
بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ



Kamis, 03 Februari 2022

Puasa Hari Tertentu di Bulan Rajab

*بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم*

Puasa Hari Tertentu di Bulan Rajab

*✍️Muhammad Abduh Tuasikal*

*Di awal atau saat memasuki bulan Rajab, sebagian saudara kita ada yang menyebarkan info bahwa*

*▪️puasa Rajab tanggal 1 akan menghapus dosa selama 3 tahun,*
*▪️tanggal 2 akan menghapus dosa 2 tahun,*
*▪️tanggal 3 akan menghapus dosa 1 tahun,*
*▪️tanggal 4 akan menghapus dosa selama 1 bulan,*
*▪️dan amal di bulan rajab akan diberi pahala 70 kali lipat.*

*Adakah anjuran secara khusus puasa awal Rajab?❓*

*🔸Hadits Tentang Puasa Rajab*

*👤Ibnu Rajab rahimahullah berkata,*

*"Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya."*
 (Latho'if Al Ma'arif, hal. 213). 

*👤Ibnu Rajab menjelaskan pula,*
*"Sebagian salaf berpuasa pada bulan haram seluruhnya (bukan hanya pada bulan Rajab saja, pen).*
*Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu 'Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi'iy.*

*👤Ats Tsauri berkata,*
*"Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya."*
(Latho'if Al Ma'arif, hal. 214).

*👤Ibnu Rajab kembali berkata,*
*"Tidak dimakruhkan jika seseorang berpuasa Rajab namun disertai dengan puasa sunnah pada bulan lainnya.*
*Demikian pendapat sebagian ulama Hambali.*

*Seperti misalnya ia berpuasa Rajab disertai pula dengan puasa pada bulan haram lainnya.*

*Atau bisa pula dia berpuasa Rajab disertai dengan puasa pada bulan Sya'ban.*

*Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu 'Umar dan ulama lainnya berpuasa pada bulan haram (bukan hanya bulan Rajab saja).*

*👤Ditegaskan pula oleh Imam Ahmad bahwa siapa yang berpuasa penuh pada bulan Rajab, maka saja ia telah melakukan puasa dahr yang terlarang (yaitu berpuasa setahun penuh)."*
 (Latho'if Al Ma'arif, hal. 215).*

*▫️Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,*
*"Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta." (Al Manar Al Munif, hal. 49).*

*✍️Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, "Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus.*

*Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung."*
(Fiqh Sunnah, 1: 401).

*Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,*

*▫️"Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut.*

*▫️Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab.* 

*▫️Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung."*

*👤Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah berkata, "Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab.* *° Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut." (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 75394)*

*🔸Puasa Hari Tertentu dari Bulan Rajab*

*👥Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya,*

*"Diketahui bahwa di bulan Rajab dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.*

*Apakah puasa tersebut dilakukan di awal, di tengah ataukah di akhir."*

*👥Jawaban dari para ulama yang duduk di komisi tersebut,*

*"Yang tepat, tidaklah ada hadits yang membicarakan puasa khusus di bulan Rajab selain hadits yang dikeluarkan oleh An Nasa-i dan Abu Daud, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah*

*👤dari hadits Usamah,*
ia berkata,*
 *"Wahai Rasulullah, aku tidaklah pernah melihatmu berpuasa yang lebih bersemangat dari bulan Sya'ban.*

*💫" Beliau bersabda,*

 *"Bulan Sya'ban adalah waktu saat manusia itu lalai, bulan tersebut terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya'ban adalah saat amalan diangkat pada Allah, Rabb semesta alam

.*

*Oleh karenanya, aku suka amalanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa."*
 (HR. Ahmad 5: 201, An Nasai dalam Al Mujtaba 4: 201, Ibnu Abi Syaibah (3: 103), Abu Ya'la, Ibnu Zanjawaih, Ibnu Abi 'Ashim, Al Barudi, Sa'id bin Manshur sebagaimana disebutkan dalam Kanzul 'Amal 8: 655).*

*Yang ada hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk melakukan puasa tiga setiap bulannya dan juga dorongan untuk melakukan puasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah.*

*Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan puasa pada bulan haram (Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab).*

*Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis.*

*Puasa Rajab masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi.*

*Jika engkau ingin melakukan puasa di bulan Rajab, maka pilihlah hari-hari yang ada dari bulan tersebut. Engkau bisa memilih puasa pada ayyamul bidh atau puasa Senin-Kamis.*

*Jika tidak, maka waktu puasa pun bebas tergantung pilihan.*

*Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, kami tidak mengetahui adanya dalil yang mensyari'atkan amalan tersebut.*

*Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.*


*✍️Muhammad Abduh Tuasikal*



----------••♛♛♛••----------

ALLAH MEMBAGI AMALAN SEBAGAIMANA ALLAH MEMBAGI REZEKI

ALLAH MEMBAGI AMALAN SEBAGAIMANA ALLAH MEMBAGI REZEKI


🌴🌴🌴
Amalan-amalan sholeh itu seperti rezeki yang dibagi-bagikan Allah kepada hamba-hambaNya.. ada yang jadi tukang kayu, ada pengusaha, ada pedagang, dll.

🌴🌴🌴
Demikian pula amalan sholeh,
▶️ ada orang yang dimudahkan untuk selalu sholat malam (namun jarang puasa sunnah)..

▶️ ada yang sebaliknya dimudahkan untuk selalu puasa sunnah (namun jarang sholat malam)..

▶️ ada yang dimudahkan untuk sholat malam dan puasa sunnah..

▶️ ada yang dimudahkan Allah untuk bersedekah namun tidak pandai berceramah..

▶️ ada yang pintar ceramah tapi tidak mampu bersedekah, dan demikianlah..

🌴🌴🌴
Karenanya masing-masing kita hendaknya menekuni amal sholeh yang dimudahkan Allah baginya, dan jangan pernah menyepelekan amalan sholeh tersebut, serta jangan pernah pula menyepelekan amal sholeh orang lain.

🌴🌴🌴
Bukankah tanpa donatur, dakwah sulit untuk berjalan..? dan bukankah dana tanpa arahan da'i juga kurang optimal..?

🌴🌴🌴
Sebagaimana sholat malam merupakan sebabnya masuk surga, maka demikan pula puasa, bersedekah, dan berdakwah.

🌴🌴🌴
Menekuni amalan sholeh yang Allah mudahkan bagi kita -apapun bentuk amalan sholeh tersebut- merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah memudahkan segalanya

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

=====🌴🌴🌴🌴🌴=====

Rabu, 02 Februari 2022

Membiasakan Anak Kecil Melakukan Ketaatan

Membiasakan Anak Kecil Melakukan Ketaatan

Mendidik anak itu membutuhkan 'seni mendidik' dan strategi tertentu. Harapannya, kita dapat menunaikan tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua dalam memberikan pendidikan terbaik kepada mereka. Tentunya kita pun berharap buahnya ketika mereka sudah dewasa. Bahkan lebih jauh lagi, setelah kita wafat pun mereka dapat menjadi 'mesin' pendistribusi pahala yang terus menerus bagi kita.

Di antara strategi, metode ataupun 'seni' mendidik anak adalah membiasakan mereka melakukan ketaatan (ibadah) sejak usia dini. Seorang penyair Arab menuturkan,

يَنْشَأُ نَاشِيْءُ الفِتْيَانِ مِنَّا عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ

"Tumbuh berkembang para pemuda kami  di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya"

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita untuk membiasakan anak-anak kita melakukan ketaatan, adab dan perilaku yang baik. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أبْنَاءُ سَبْعِ سِنينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا ، وَهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المضَاجِعِ

 "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika usia mereka mencapai tujuh  tahun (hijriyah -pen). Pukullah mereka (tidak dengan pukulan yang membekas –pen) dan pisahkan tempat tidur mereka ketika usia mereka mencapai sepuluh tahun." (HR. Abu Dawud no. 495. Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai hadits ini hasan shahih)

Hadits ini memberikan bimbingan kepada kita untuk membiasakan anak-anak kita melakukan ketaatan, meskipun mereka belum mencapai usia balig (mukallaf). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah mengatakan,

"Yang dimaksud dengan pukulan pada hadits ini adalah pukulan yang dengannya terwujud bentuk pengajaran, bukan pukulan yang membahayakan. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh memukul anaknya dengan pukulan yang menyakitkan. Orang tua juga tidak diperbolehkan memukul anaknya terus menerus tanpa adanya kebutuhan akan hal itu. Namun, pukulan hanya boleh dilakukan jika dibutuhkan saja. Misalnya, anak tersebut tidak mau mengerjakan shalat kecuali jika dipukul. Ketika itu, anak tersebut dipukul namun tidak dengan pukulan yang keras, melainkan pukulan biasa saja. Hal ini karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hanya memerintahkan kita untuk memukul mereka dalam rangka pengajaran dan meluruskan mereka, dan bukan untuk menyakiti mereka." (Syarh Riyadhush Sholihin, III/174)

Syaikh 'Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah mengatakan, "Hal ini berlaku untuk anak laki-laki maupun anak perempuan." (Syarh Sunan Abi Dawud, III/317)

Intinya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menuntun kita untuk membiasakan anak-anak kita, baik laki-laki maupun perempuan, untuk melakukan ketaatan ketika mereka belum mencapai usia baligh (mukallaf). Ini merupakan bentuk pembiasaan bagi mereka agar ketika sudah baligh diharapkan mereka sudah terbiasa melakukan berbagai kewajiban syariat atas mereka.

Pada hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita untuk memisahkan tempat tidur anak-anak. Syaikh 'Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa anak-anak dipisahkan tempat tidur mereka agar di antara mereka tidak terjadi sesuatu yang buruk, misalnya adanya bisikan setan yang dapat menggerakkan birahi mereka. Dikhawatirkan dengan dekatnya (atau menjadi satu) tempat mereka tidur, maka syahwat boleh jadi tergerak sehingga timbul fitnah (hal-hal yang buruk). Oleh sebab itu, mereka sejak kecil dibiasakan tidak boleh satu tempat tidur, baik antara laki-laki dan perempuan. Yaitu anak laki-laki saja atau anak perempuan saja." (Diringkas dari Syarh Sunan Abi Dawud, III/317).

Al-Munawi rahimahullah mengatakan, "(Memisahkan tempat tidur ini juga berlaku) walaupun mereka sesama perempuan." (Faidhul Qodir,  I/334)

Kesimpulan, jika anak kita laki-laki dan perempuan (berbeda jenis), maka kamar mereka harus dipisah. Jika anak kita laki-laki saja atau perempuan saja, boleh untuk satu kamar namun tempat tidur harus terpisah (tidak boleh digabung dalam satu tempat tidur yang sama).

Hadits ini juga menunjukkan haramnya ikhtilath, yaitu campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat yang sama. Sehingga hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hendaknya anak-anak kita diajarkan bahwa anak laki-laki itu dipisahkan dari anak-anak perempuan agar ketika mereka dewasa mereka mengerti larangan ikhtilath antara laki-laki dan perempuan. Allahu a'lam.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Bergabung di grup parenting sunnah (Akhwat)*

🌎 *Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project*

📷 *Instagram*


*Telegram*

📝 *informasi pendaftaran : http://bit.ly/GabungParentingSunnah*

📹 *YouTube*
💝 Dikelola oleh Salaf Project
💝 Tim Admin Group WA Parenting Sunnah

Bagaimana Mencetak Anak Shalih?

*Bagaimana Mencetak Anak Shalih?*

Semua orang yang telah menikah dan memiliki anak pasti menginginkan anaknya jadi shalih dan bermanfaat untuk orang tua serta agama.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shalih." (HR. Muslim no. 1631).

Berarti keturunan atau anak yang shalih adalah harapan bagi setiap orang tua. Terutama ketika orang tua telah tiada, ia akan terus mendapatkan manfaat dari anaknya. Manfaatnya bukan hanya dari doa seperti tertera dalam hadits di atas. Manfaat yang orang tua perolah bisa pula dari amalan anak. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

"Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua." (HR. Abu Daud no. 3528, An-Nasa'i dalam Al-Kubra 4: 4, 6043, Tirmidzi no. 1358, dan Ibnu Majah no. 2290. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ada beberapa kiat singkat yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan kali ini.
1- Faktor Utama adalah Doa
Tanpa doa, sangat tak mungkin tujuan mendapatkan anak shalih bisa terwujud. Karena keshalihan didapati dengan taufik dan petunjuk Allah.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'rof : 178)

Karena hidayah di tangan Allah, tentu kita harus banyak memohon pada Allah. Ada contoh-contoh doa yang bisa kita amalkan dan sudah dipraktikkan oleh para nabi di masa silam.

Doa Nabi Ibrahim 'alaihis salam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"Robbi hablii minash shoolihiin" [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]". (QS. Ash Shaffaat: 100).

Doa Nabi Zakariya 'alaihis salaam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii'ud du'aa'" [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa] (QS. Ali Imron: 38).

Doa 'Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman),

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa" [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al-Furqan: 74)

Yang jelas doa orang tua pada anaknya adalah doa yang mustajab. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

"Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi." (HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karenanya jangan sampai orang tua melupakan doa baik pada anaknya, walau mungkin saat ini anak tersebut sulit diatur dan nakal. Hidayah dan taufik di tangan Allah. Siapa tahu ke depannya, ia menjadi anak yang shalih dan manfaat untuk orang tua berkat doa yang tidak pernah putus-putusnya.

2- Orang Tua Harus Memperbaiki Diri dan Menjadi Shalih
Kalau menginginkan anak yang shalih, orang tua juga harus memperbaiki diri. Bukan hanya ia berharap anaknya jadi baik, sedangkan ortu sendiri masih terus bermaksiat, masih sulit shalat, masih enggan menutup aurat. Sebagian salaf sampai-sampai terus menambah shalat, cuma ingin agar anaknya menjadi shalih.

Sa'id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

"Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih, pen.)." (Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

Bukti lain pula bahwa keshalihan orang tua berpengaruh pada anak, di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang yang shalih. Silakan lihat dalam surat Al-Kahfi,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih." (QS. Al-Kahfi: 82). 'Umar bin 'Abdil 'Aziz pernah mengatakan,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

"Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah, pen.), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu." (Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

3- Pendidikan Agama Sejak Dini
Allah memerintahkan pada kita untuk menjaga diri kita dan anak kita dari neraka sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6). Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (7: 321), 'Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah,

أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

"Ajarilah adab dan agama pada mereka." Tentang shalat pun diperintahkan diajak dan diajarkan sejak dini. Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu 'anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

"Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka." (HR. Abu Daud no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Tentang adab makan diperintahkan untuk diajarkan. Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendidik 'Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada 'Umar,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu." (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Bukan hanya shalat dan adab saja yang diajarkan, hendaklah pula anak diajarkan untuk menjauhi perkara haram seperti zina, berjudi, minum minuman keras, berbohong dan perbuatan tercela lainnya. Kalau orang tua tidak bisa mengajarkannya karena kurang ilmu, sudah sepatutnya anak diajak untuk dididik di Taman Pembelajaran Al-Qur'an (TPA) atau sebuah pesantren di luar waktu sekolahnya. Moga kita dikaruniakan anak-anak yang menjadi penyejuk mata orang tuanya. Al-Hasan Al-Bashri berkata,

لَيْسَ شَيْءٌ أَقَرُّ لِعَيْنِ المؤْمِنِ مِنْ أَنْ يَرَى زَوْجَتَهُ وَأَوْلاَدَهُ مُطِيْعِيْنَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah 'azza wa jalla." (Disebutkan dalam Zaad Al-Masiir pada penafsiran Surat Al-Furqan ayat 74) Wallahu waliyyut taufiq.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Bergabung di grup parenting sunnah (Akhwat)*

🌎 *Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project*

📷 *Instagram*


*Telegram*

📝 *informasi pendaftaran : http://bit.ly/GabungParentingSunnah*

📹 *YouTube*
💝 Dikelola oleh Salaf Project
💝 Tim Admin Group WA Parenting Sunnah

Selasa, 01 Februari 2022

Jangan Hanya Bisa Melarang dan Menyuruh Saja

Jangan Hanya Bisa Melarang dan Menyuruh Saja

sebagai orang tua hendaklah kita jangan hanya mampu untuk melarang suatu perbuatan buruk, namun kita sendiri malah melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, bahkan aib yang sangat besar, ketika kita melarang anak kita dari akhlak yang buruk, namun kita sendiri yang justru melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, melarang mereka dari ucapan dusta, namun kita malah berdusta di hadapan mereka. Ketika seseorang datang ke rumah kita, orang tersebut (sang tamu) bertanya tentang keberadaan kita, namun kita malah menyuruh anak kita untuk mengatakan, "Bilang saja bahwa ayah atau ibu tidak ada." Bagaimana kita akan mengajarkan mereka tentang wajibnya memenuhi (menepati) janji, padahal kita sendiri menyelisihi janji di hadapan mereka?

Bagaimana mungkin kita melarang anak dari berteriak-teriak (bersuara keras) di rumah dan mengajarkan kepadanya tentang firman Allah Ta'ala,

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

"Dan lirihkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai" (QS. Luqman [31] : 19)

Namun kita malah meninggikan suara dengan cacian dan makian di rumah kita. Kita justru menghardik istri dan anak-anak kita.

Bagaimana mungkin kita melarang anak untuk tidak merokok, atau melihat yang haram, padahal kita sendiri merokok dan mata kita sering jelalatan ke mana-mana? Jika kita mengatakan kepadanya,"Jangan merokok!" Maka dia pun akan bertanya, "Mengapa tidak boleh merokok??" Karena sang anak tentu tidak merasa bersalah. Lantas apa yang dapat kita jawab kepadanya, karena kita sendiri juga menghisap rokok?

Sungguh Allah Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash–Shaf [61]: 2-3)

Nabi Syu'aib 'alaihissalam pernah mengatakan,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." (QS. Huud [11]: 88).

Berikut ini hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berkaitan dengan pembahasan ini,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ، فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

"Didatangkan seorang pria pada hari kiamat. Kemudian dia dilempar ke neraka. Ususnya keluar dan dia memutari ususnya bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik alat giling gandum. Penduduk neraka pun berkeliling mengelilinginya dan mengatakan, "Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dahulu Engkau adalah orang yang memerintahkan kami melaksanakan yang ma'ruf dan melarang kami dari hal yang mungkar?" Kemudian dia menjawab, "Dahulu aku memang memerintahkan kalian pada yang ma'ruf (kebaikan), tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Demikian juga, aku melarang kalian dari yang mungkar (keburukan), namun aku malah mengerjakannya." (HR. Bukhari no. 3267).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Bergabung di grup parenting sunnah (Akhwat)*

🌎 *Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project*

📷 *Instagram*


*Telegram*

📝 *informasi pendaftaran : http://bit.ly/GabungParentingSunnah*

📹 *YouTube*
💝 Dikelola oleh Salaf Project
💝 Tim Admin Group WA Parenting Sunnah

Dampak Pujian Dan Celaan Yang Ditujukan kepada Orang Tua

*Dampak Pujian Dan Celaan Yang Ditujukan kepada Orang Tua*

Amal shalih yang dikerjakan orang tua akan memberikan dampak positif secara kejiwaan kepada sang anak. Sebaliknya perbuatan buruk orang tua juga dapat memberikan dampak psikis yang buruk terhadap pendidikan anak.

Amal-amal kebaikan yang dilakukan kedua orang tua dapat mendatangkan pujian orang lain dari masyarakat kepada anak-anak kita. Demikian pula, perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan orang tua akan mendatangkan celaan, cibiran dan hinaan dari masyarakat. Semua hal di atas mempengaruhi kepribadian dan kondisi kejiwaan anak. Sehingga janganlah kita, wahai ayah dan ibu, menjadi sebab anak-anak dicela karena perbuatan kita sendiri.

Apakah kita ridho jika ada yang mengatakan kepada anak kita, "Ayahmu pencuri? Ayahmu pezina? Ibumu itu suka memasukkan lelaki hidung belang ke rumah? Laki-laki itu sering berdua-duaan dengan ibumu?".

Apakah kita ridho jika ada yang mengatakan kepada anak kita,"Sesungguhnya ibumu suka ingkar janji?"

Hal tersebut merupakan perkara yang akan menghancurkan kepribadian anak-anak kita, namun kita tidak sadar. Seorang anak yang jika disebutkan bahwa Engkau adalah anak orang yang shalih, orang tuamu adalah orang berilmu, orang yang pemberani, sering mendamaikan orang, dermawan kepada orang-orang miskin, orang yang sering ibadah, maka tentu kejiwaan sang anak akan meningkat, akhlaknya akan mulia dan dia akan bersemangat melakukan berbagai amal kebaikan.

Namun jika dia mendengar masyarakat menggelari orang tuanya dengan gelar buruk, mencela orang tuanya karena perilaku buruk dan memalukan, tentu jiwanya akan hancur.

Oleh karena itu, Allah Ta'ala banyak menyebut anak-anak dengan (sebab) keshalihan orang tuanya. Allah Ta'ala memotivasi mereka dengan hal tersebut untuk beriman, bersyukur dan beramal shalih. Allah Ta'ala berfirman,

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

"Anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isra' [17]: 3)

Maksudnya, kaum Nabi Nuh diingatkan bahwa sesungguhnya orang tua mereka adalah hamba yang bersyukur. Maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang shalih sebagaimana orang tuamu.

Allah Ta'ala berulang kali menyeru di banyak kesempatan dalam Al Qur'an,

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ

"Wahai Bani Israil." (QS. Al Baqarah [2]: 47)

Maksudnya, wahai anak keturunan Nabi Israil yang mulia, yaitu Nabi Ya'qub 'alaihissalam. Seruan ini untuk mengingatkan bahwa ayah atau kakek mereka adalah orang yang shalih, bahkan seorang Nabi yang mulia yaitu Israil (Ya'qub 'alaihissalam). Seruan ini sekaligus untuk mengingatkan mereka agar mereka meniru, meneladani orang tua mereka dalam hal kebaikan dan keshalihan.

Demikian pula kaum Maryam 'alaihassalam ketika mereka heran karena menyangka kalau beliau telah berzina, mereka lantas berucap kepadanya,

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

"Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina." (QS. Maryam [19] : 28)

Bertakwalah kepada Allah wahai ayahanda, bertakwalah wahai ibunda … demi anak keturunan kita …

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Bergabung di grup parenting sunnah (Akhwat)*

🌎 *Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project*

📷 *Instagram*


*Telegram*

📝 *informasi pendaftaran : http://bit.ly/GabungParentingSunnah*

📹 *YouTube*
💝 Dikelola oleh Salaf Project
💝 Tim Admin Group WA Parenting Sunnah