Jumat, 26 November 2021

KALAULAH BUKAN KARENA ALLAH MENUTUPI AIB-AIB KITA

KALAULAH BUKAN KARENA ALLAH MENUTUPI AIB-AIB KITA

Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu 'ala nabiyyinaa Muhammad, wa 'ala aalihi wa shahbihi wa man tabi'ahum bi ihsaan, wa ba'd.

Pada zaman Nabi Musa 'alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, "Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami." Maka berangkatlah Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, "Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur 'alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha'… wal bahaaim ar rutta'… wal masyaayikh ar rukka'….."

Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, "Ilaahi … asqinaa…."

Allah pun berfirman kepada Musa, "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…"

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…"

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..

Ia berkata dalam hatinya, "Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun."

Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, "Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi 'aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…"

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia." Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun."

Musa berkata, "Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."

Allah berfirman, "Ya Musa, Aku tidak membuka 'aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka 'aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!"

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul "Fii Bathni al-Huut" oleh Syaikh DR. Muhammad Al 'Ariifi, hal. 42)

Subhaanallah… Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…

***

Penulis: Abu Yazid T. Muhammad Nurdin

Sumber: https://muslim.or.id/472-allah-menutup-aib-kita.html

Via HijrahApp 

Senin, 08 November 2021

Ajarkan Al-qur'an pada Anak

Ajarkan Al-qur'an pada Anak

Al-Qur'an merupakan pedoman hidup umat Islam. Karena itu mengajari anak al-Qur'an dan tanamkan kecintaan kepada al-Qur'an sejak dini merupakan sesuatu yang harus diprioritaskan dalam kehidupan kita. 
.
‎خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
.
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya." (HR Bukhari dari Utsman bin 'Affan radhiyallahu'anhu)
.
Dalam hadits ini tidak ada pembatasan usia tentang usia berapa kita belajar dan siapakah orang yang kita ajari. Maka kita mengajarkan Al Quran kepada anak juga termasuk ke dalam cakupan hadits ini.
.
Beberapa tips mengajari anak membaca al-Quran:

1️⃣ Bacakan ayat-ayat al-Quran sejak anak masih dalam kandungan. Tidak sedikit yang sudah membuktikan hal ini. Banyak ibu-ibu yang merasa takjub saat anaknya berusia 2 tahun, kata yang pertama keluar dari mulutnya adalah ayat al-Quran. Ternyata setelah ditanya pada kedua orang tuanya, bahwa waktu di dalam kandungan orang tuanya sering membaca ayat-ayat al-Quran.

2️⃣ Perdengarkan ayat al-Quran setiap hari di rumah. Tidak menjadi masalah apakah anak mendengarkan atau tidak. Baik ia main-main atau melakukan aktivitas apapun di dalam rumah. Ketahuilah bahwa otak bawah sadarnya -tanpa si anak sadari- merekam bacaan alquran yang ia dengar. Bahkan mungkin anak akan hapal dengan sendirinya ayat-ayat al-Quran yang sering ia dengar.

3️⃣ Konsisten. Untuk mengajari anak membaca al-Quran syarat utamanya Anda harus konsisten jangan putus-putus. Karena kekonsistenan Anda adalah parameter keberhasilan Anda dalam mengajari anak membaca alquran.

4️⃣Menjadi suri tauladan bagi
anak. Ini sangat penting untuk bunda dan ayah perhatikan karena anak adalah peniru yang hebat. Maka otomatis Anda sebagai orang tua
yang sering bersamanya yang akan ia tiru
pertama kali. Kalau Anda sering membaca al-Quran dan menghapalnya maka secara otomatis anak-anak Anda akan melihat dan lama kelamaan mereka akan meniru Anda membaca al-Quran walaupun mungkin masih banyak salah. Tetapi paling tidak mereka sudah mengenal alquran sejak kecil.

5️⃣ Anak diminta membaca surat itu sepenggal-penggal lebih dari satu kali. Sementara itu Anda membenarkan kesalahan-kesalahan yang terjadi
pada anak saat membaca al-Quran.
.
6️⃣ Beri hadiah yang ia mau dengan syarat ia harus hapal surat atau ayat al-Quran.
Cara ini bisa Anda gunakan pada anak yang sudah punya keinginan pada sesuatu.
.
7️⃣ Perlu menanamkan dalam jiwa anak bahwa mempelajari Al-Quran adalah ibadah. Allah ta'ala memberikan pahala yang sangat besar. Ini akan membuat anak ikhlas dalam belajar al-Qur'an, sehingga tidak selalu tergantung terhadap hadiah yang bersifat materi duniawi.
.
8️⃣ Menjadi catatan bahwa anak perlu dilatih untuk dipahamkan dengan makna ayat-ayat yang dia pelajari dengan pemahaman sederhana. Tentunya sesuai tingkatan akalnya.
Semoga bermanfaat.
_Ust Abdullah Zaen_
.
➡️ Ikuti terus postingan kami berikutnya @alfirqotunnajiyahkids
.
➡️ Follow us on Instagram : https://instagram.com/alfirqotunnajiyahkids
➡️ Subcribe Channel YouTube : https://youtube.com/c/alfirqotunnajiyahkids
➡️ Join us on Telegram : https://t.me/alfirqotunnajiyahkids

MUSTAJABNYA DOA KETIKA SUJUD


🔴➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖🔴
     MUSTAJABNYA DOA KETIKA SUJUD
🔴➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖🔴

Selain hadis dalam gambar di atas, ada juga hadis yang menunjukkan keutamaan berdoa ketika sujud, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian."
*(HR. Muslim, no. 479)*
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
*Penjelasan:*
1. Hadis di atas menunjukkan dorongan untuk memperbanyak doa ketika sujud, karena ketika sujud adalah saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah.

2. Boleh meminta hajat apapun ketika sujud dan saat sujud adalah saat mustajabnya doa.

3. Boleh meminta berulang-ulang dalam doa agar mudah terkabul.

4. Ketika sujud diperintahkan menggabungkan bacaan subhanallah (tasbih) dan doa.

5. Ketaatan semakin membuat seorang hamba dekat dengan Allah.

6. Semakin seorang hamba bertambah ketaatan, maka semakin mudah doanya terkabul.

7. Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam semangat mengajarkan umatnya kebaikan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Catatan:
Doa yang dimaksud di sini harus berbahasa arab (tidak boleh menggunakan bahasa selain bahasa Arab), dan bentuk doanya harus dilafalkan, bukan bergumam di dalam hati.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Semoga bermanfaat

*Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan*

Yang selalu mengaharapkan ampunan & rahmat Rabbnya

Semoga bermanfaat

Barokalloh fiikum

#MariBerhijrah
#islam #tobat #istighfar #tawakal
#muslimah #beranihijrah #kembaliberhijrah #hijrahukhti
#hijrahislam #hijrahquote
#hijrahsantun #wanitasaleha
#hadits #hijrahyuk #hijrah #sunnah #dakwahtauhid
#dakwahsunnah #salaf
#indonesiabertauhid #salafy
#dakwahsalaf 
#dakwah

Minggu, 24 Oktober 2021

AWAS BAHAYA 'AIN !!

AWAS BAHAYA 'AIN !!

Apa itu 'Ain?
"Ain adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang dipandang." (Fathul Bari, 10/210)

Adapun tanda terkena gangguan 'ain, Syaikh 'Abdul 'Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta'ala berkata, "Tanda-tanda ('ain) berikut ini, jika bukan karena penyakit jasmani (penyakit medis), maka umumnya dalam bentuk:
Sakit kepala yang berpindah-pindah; pucat di wajah; sering berkeringat dan buang air kecil; nafsu makan lemah; mati rasa, panas atau dingin di anggota badan; "deg-degan" di jantung (detak jantung yang cepat dan tidak beraturan, pen.); rasa sakit yang berpindah dari bawah punggung dan bahu; bersedih dan merasa sempit (sesak) di dada; berkeringat di malam hari; perilaku (emosi) berlebihan, seperti ketakutan yang tidak wajar; sering bersendawa, menguap atau terengah-engah; menyendiri atau suka mengasingkan diri; diam atau malas bergerak; senang (terlalu banyak) tidur; adanya masalah kesehatan tertentu tanpa ada sebab-sebab medis yang diketahui.
Tanda-tanda tersebut atau sebagiannya bisa ditemukan tergantung pada kuat atau banyaknya 'ain." (Ar-Ruqyah Syar'iyyah, hal. 10)

Asy Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily hafidzahullah berkata,
"Diantara bentuk sedikitnya akal yaitu engkau memfoto anak-anakmu dengan sebaik-baiknya perhiasan lalu engkau mempostingnya di internet yang dapat menimbulkan bahaya bagi mereka."

💫Sayangi diri, keluarga, dan buah hatimu dengan tidak memajang fotonya di sosmed, karena kita tidak pernah tahu siapa orang yang memandang dengan pandangan hasad yang dapat menyebabkan penyakit 'ain.

Wallahu a'lam, semoga bermanfaat.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
🌐 salaf.ittiba
Bergabung di grup parenting sunnah (Akhwat)

Senin, 18 Oktober 2021

Rukun Shalat (Ucapan dan Gerakan)

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


Rukun Shalat (Ucapan dan Gerakan)

✍️Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,

Apa saja yang termasuk dalam rukun shalat, ada yang berupa ucapan dan perbuatan, juga mana yang termasuk dalam wajib shalat.

Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di
Kitab Shalat

Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata dalam kitabnya Manhajus Salikin,

وَالأَرْكَانُ القَوْلِيَّةُ مِنَ المَذْكُوْرَاتِ:
تَكْبِيْرَةُ الإِحْرَامِ وَقِرَاءَةُ الفَاتِحَةِ عَلَى غَيْرِ مَأْمُوْمٍ وَالتَّشَهُّدُ الأَخِيْرِ وَالسَّلاَمُ

"Dan rukun berupa ucapan dari cara shalat yang telah disebutkan adalah:
takbiratul ihram,
membaca Al-Fatihah bagi selain makmum,
tasyahud akhir,
dan salam."

Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah
melanjutkan,

وَالأَرْكَانُ القَوْلِيَّةُ مِنَ المَذْكُوْرَاتِ:
تَكْبِيْرَةُ الإِحْرَامِ وَقِرَاءَةُ الفَاتِحَةِ عَلَى غَيْرِ مَأْمُوْمٍ وَالتَّشَهُّدُ الأَخِيْرِ وَالسَّلاَمُ
وَبَاقِي أَفْعَالِهَا: أَرْكَانٌ فَعِلْيَةٌ, إِلَّا :
اَلتَّشَهُّدَ اَلْأَوَّلَ , فَإِنَّهُ مِنْ وَاجِبَاتِ اَلصَّلَاةِ
وَالتَّكْبِيرَاتِ غَيْرَ تَكْبِيرَةِ اَلْإِحْرَامِ.
و "سُبْحَانَ رَبِّي اَلْأَعْلَى" مَرَّةً فِي اَلسُّجُودِ.
و "رَبِّ اِغْفِرْ لِي" بَيْنَ اَلسَّجْدَتَيْنِ مَرَّةً, مَرَّةً, وَمَا زَادَ فَهُوَ مَسْنُونٌ.
وَقَوْلَ: "سَمِعَ اَللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ" لِلْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ.
و "رَبَّنَا لَكَ اَلْحَمْدُ" لِلْكُلِّ.
فَهَذِهِ اَلْوَاجِبَاتُ تَسْقُطُ بِالسَّهْوِ, وَيَجْبُرُهَا سُجُودُهُ اَلسَّهْوَ, وَكَذَا بِالْجَهْلِ
وَالْأَرْكَانُ لَا تَسْقُطُ سَهْوًا وَلَا جَهْلاً وَلَا عَمْدًا.

"Dan rukun berupa ucapan dari cara shalat yang telah disebutkan adalah:
takbiratul ihram,
membaca Al-Fatihah bagi selain makmum,
tasyahud akhir, dan salam.

🔸Dan sisa gerakan itu masuk dalam rukun shalat yang berupa perbuatan kecuali:

1️⃣Tasyahud awwal, ini termasuk wajib shalat.

2️⃣Takbir-takbir dalam shalat kecuali takbiratul ihram.

3️⃣Ucapan "SUBHAANA ROBBIYAL A'LAA" sekali ketika sujud.

4️⃣Bacaan "ROBBIGH-FIR LII" di antara dua sujud satu kali satu kali; jika ditambah lebih dari itu, maka masuk dalam sunnah shalat.

5️⃣Ucapan "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH" bagi imam dan munfarid (orang yang shalat sendirian).

6️⃣Ucapan "ROBBANAA LAKAL HAMDU" untuk imam, munfarid, dan makmum.

Enam hal di atas masuk dalam wajib shalat.

▪️Wajib shalat bisa gugur karena lupa dan ditutup kelupaan tersebut dengan sujud sahwi, begitu pula gugur jika tidak tahu.

▪️Sedangkan rukun shalat tidaklah bisa gugur walau seseorang lupa, tidak tahu, atau sengaja."

🔸Salam dan Takbiratul Ihram Termasuk Rukun Shalat

🔹Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

"Pembuka shalat adalah bersuci,
yang mengharamkan dari perkara di luar shalat adalah ucapan takbir dan yang menghalalkan kembali adalah ucapan salam."
(HR. Tirmidzi, no. 238 dan Ibnu Majah, no. 276. Abu 'Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

🔸Tasyahud Akhir Yang Setelah Itu Salam Termasuk Rukun Shalat

🔹Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata,
كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا: السَّلَامُ علَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ، السَّلَامُ علَى جِبْرِيلَ، السَّلَامُ علَى مِيكَائِيلَ، السَّلَامُ علَى فُلَانٍ وفُلَانٍ، فَلَمَّا انْصَرَفَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، أقْبَلَ عَلَيْنَا بوَجْهِهِ، فَقالَ : إنَّ اللَّهَ هو السَّلَامُ، فَإِذَا جَلَسَ أحَدُكُمْ في الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، والصَّلَوَاتُ، والطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّها النبيُّ ورَحْمَةُ اللَّهِ وبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وعلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، فإنَّه إذَا قالَ ذلكَ أصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ في السَّمَاءِ والأرْضِ، أشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الكَلَامِ ما شَاءَ

"Jika shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kami mengucapkan salam kepada Allah sebelum salam kepada para hamba-Nya,
lalu salam kepada Jibril, salam kepada Mikail, salam kepada fulan dan fulan.

Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai beliau lantas menghadap kami dengan wajahnya, lantas beliau berkata,
'Sesungguhnya Allah itu As-Salaam (Yang Memberi Keselematan).

▪️Jika salah seorang di antara kalian duduk,
maka ucapkanlah:
AT-TAHIYAATU LILLAH, WASH-SHOLAWAAT, WATH-THOYYIBAAT, ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH, ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALA 'IBAADILLAHISH SHOLIHIIN. Jika engkau membaca seperti itu, maka setiap hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi akan mendapatkan doa kebaikan tersebut.

▪️Lalu mengucapkan:
ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA ROSUULUH. Lalu silakan pilih kalimat setelah itu yang mau diucapkan." (HR. Bukhari, no. 6230). Kalimat perintah membaca tasyahud di sini menunjukkan akan wajibnya. Sedangkan tasyahud awal tidaklah masuk dalam rukun shalat.

🔸Hukum Membaca Al-Fatihah untuk Makmum

Membaca Al-Fatihah di sini berlaku bagi imam dan orang yang shalat sendirian. Sedangkan makmum dalam shalat jahriyah (Maghrib, Isya dan Shubuh) tidak membaca Al-Fatihah, ia cukup mendengarkan, inilah pendapat yang lebih kuat.

💎Karena Allah Ta'ala memerintahkan,
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat."
(QS. Al-A'raf: 204).

🔹Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata,
صَلَّى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِأَصْحَابِهِ صَلاَةً نَظُنُّ أَنَّهَا الصُّبْحُ فَقَالَ هَلْ قَرَأَ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ. قَالَ رَجُلٌ أَنَا. قَالَ  إِنِّى أَقُولُ مَا لِى أُنَازَعُ الْقُرْآنَ.
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya yang kami mengira bahwa itu adalah shalat Shubuh.

Beliau bersabda, "Apakah salah seorang dari kalian ada yang membaca surah (di belakangku)?" Seorang laki-laki menjawab, "Saya." Beliau lalu bersabda, "Kenapa aku ditandingi dalam membaca Al-Quran?"
(HR. Abu Daud, no. 826 dan Tirmidzi, no. 312. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

🔹Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,
أَنْصِتْ لِلْقُرْآنِ فَإِنْ فِي الصَّلاةِ شُغْلا، وَسَيَكْفِيكَ ذَلِكَ الإِمَامُ
"Diamlah saat imam membaca Al-Quran karena dalam shalat itu begitu sibuk. Cukup bagimu apa yang dibaca oleh imam."
(HR. Ath-Thabrani, 9:264)

🔹Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,
يَنْصِتُ لِلْإِمَامِ فِيْمَا يَجْهَرُ بِهِ فِي الصَّلاَةِ وَلاَ يَقْرَأُ مَعَهُ
"Hendaklah diam ketika imam mengeraskan bacaannya dalam shalat. Dan janganlah baca bersamanya."
(HR. Abdur Razaq, 2:139).


🔰Rukun Shalat Berupa Perbuatan (Gerakan)

1️⃣Berdiri bagi yang mampu untuk shalat wajib.

Sedangkan untuk shalat sunnah, untuk berdirinya dihukumi sunnah.

'Ali Al-Qari mengatakan, "Boleh shalat sunnah dilakukan dalam keadaan duduk padahal mampu berdiri. Ini dibolehkan dengan ijmak (kata sepakat ulama). Namun orang yang mampu berdiri dan tidak ada uzur lantas memilih shalat sunnah dalam keadaan duduk, maka pahalanya separuh dari yang berdiri."
(Jam'u Ar-Rasail fi Syarh Asy-Syamail, 2:99. Dinukil dari Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:254)

2️⃣Rukuk, karena berdasarkan hadits musii' fii shalatihi dan dikatakan wajib berdasarkan ijmak.

Sedangkan rukuk kedua untuk shalat gerhana (dalam satu rakaat) dihukumi sunnah (tidak wajib).

3️⃣Berdiri untuk iktidal, wajibnya juga berdasarkan hadits musii' fii shalatihi.

4️⃣Sujud,
wajibnya juga berdasarkan hadits musii' fii shalatihi dan ada ijmak tentang hal ini.

5️⃣Duduk antara dua sujud, juga berdasarkan hadits musii' fii shalatihi.

6️⃣Duduk tasyahud akhir karena duduk di sini adalah tempat untuk rukun tasyahudnya.

7️⃣Tertib (berurutan),

karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan rukun-rukun ini secara berurutan, juga ditegaskan dalam hadits musii' fii shalatihi dengan kata "tsumma (arti: kemudian)", lalu ada ijmak dalam hal ini.

8️⃣Thumakninah ketika rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, duduk antara dua sujud

karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan pada orang yang jelek shalatnya demikian.

Standar minimal thumakninah yaitu keadaan tenang dan membedakan antara berpindah dan rukun.

Kesimpulan rukun shalat berupa ucapan dan perbuatan berarti ada dua belas.

✍️Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,
💠Rumaysho 

SYIRIK YANG SERING DI UCAPKAN

SYIRIK YANG SERING DI UCAPKAN

Oleh :
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 

Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK." (HR. Ibnu Abi Hatim)

Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah Ta'ala. Kita semua telah mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam semesta, Yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang menurunkan hujan untuk menyuburkan tanaman sebagai rizki bagi kita. Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam beribadah. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al Baqarah [2]: 22)

*● Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam*
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,"Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali  daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.

Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, 'Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan', 'Demi hidupku' atau 'Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu' atau 'Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu', dan ucapan seseorang kepada kawannya 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu', juga ucapan seseorang 'Kalau bukan karena Allah dan karena fulan'.

Akhirnya beliau radhiyallahu 'anhuma mengatakan, Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK." (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo'a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). Syirik seperti ini ada 2 macam.
*● Pertama,* syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta'ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya') atau didengar (sum'ah) orang lain.Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta'ala.

*● Kedua,* syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i'tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I'anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.

*● Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa*
Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, 'Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro' atau mengatakan 'Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen' atau dengan mengatakan pula, 'Aduh!! hujan lagi, hujan lagi'.

Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta'ala.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Allah Ta'ala berfirman, 'Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.' " (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,"Janganlah kamu mencaci maki angin." (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, seperti mengatakan,'Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek'-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.

*● Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah*
Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini, seperti ucapan, 'Demi Nyi Roro Kidul' atau 'Aku bersumpah dengan nama …'. Semua perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta'ala semata. Barangsiapa mengagungkan selain Allah Ta'ala dengan suatu pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah Ta'ala, maka dia telah terjatuh dalam *syirik akbar* (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta'ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).

Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya,"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan." (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jaami')

Menyandarkan nikmat kepada selain Allah
Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran kepada-Nya. Allah Ta'ala mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat Allah dalam firman-Nya yang artinya,"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An Nahl: 83)

Menurut salah satu penafsiran ayat ini : 'Mereka mengenal berbagai nikmat Allah (yaitu semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati mereka, namun lisan mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada selain Allah. Atau mereka mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi hati mereka menyandarkannya kepada selain Allah'.

*● Menyandarkan nikmat kepada selain Allah* termasuk syirik karena orang yang menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa selain Allah-lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam tauhid rububiyah). Dan ini juga berarti dia telah meninggalkan ibadah syukur. Meninggalkan syukur berarti telah menafikan (meniadakan) tauhid. Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Contoh dari hal ini adalah mengatakan 'Rumah ini adalah warisan dari ayahku'. Jika memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah, maka perkataan ini tidaklah mengapa. Namun, yang dimaksudkan termasuk syirik di sini adalah jika dia mengatakan demikian dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah Ta'ala.

Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada Allah dengan memenuhi 3 rukun syukur, yaitu: [1] Mensykuri nikmat tersebut dengan lisan, [2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati, dan [3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan kepada Allah.  (Lihat I'anatul Mustafid, hal. 148-149 dan Al Qoulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid, II/93)

*● Perbaikilah Diri*
Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta'ala telah berfirman yang artinya,"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.

Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam,"Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka." (HR. Bukhari)

Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do'a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam: 'Allahumma inni a'udzubika an usyrika bika sya'an wa ana a'lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a'lamu' (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).

***

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

📘📖.................✍🏻 

YANG PALING BERMANFAAT



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
YANG PALING BERMANFAAT

*Siapa yang tidak ingin kebaikan dan berbuat baik?*

Sebagian manusia menjadikan patokan kebaikan
Adalah banyaknya harta semata
Luasnya ilmu semata
Tingginya jabatan dan kedudukan semata
.
Bahkan manusia menyebut harta dengan "kebaikan" (خير/khair)
Sebagaimana dalam al-Quran,
.
ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻟِﺤُﺐِّ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻟَﺸَﺪِﻳﺪٌ
.
Artinya: "Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada (AL-KHAIR) harta."
*(QS. AL 'Adiyat: 8)*
.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
.
ﻭﺇﻧﻪ ﻟﺤﺐ ﺍﻟﺨﻴﺮ - ﻭﻫﻮ : ﺍﻟﻤﺎﻝ - ﻟﺸﺪﻳﺪ
.
"Maksudnya adalah dan dia sungguh sangat mencintai 'khair/kebaikan' yaitu harta."
*(Tafsir Ibnu Katsir)*
.
*Akan tetapi salah satu patokan kebaikan adalah "manfaat dan memberikan manfaat"*
.
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
.
ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨﺎﺱِ ﺃَﻧْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻟِﻠﻨﺎﺱِ
.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
*(HR. Ahmad, Shahihul Jami' no:3289).*
.
Ada pohon yang menjulang tinggi
Tapi tidak memberi manfaat sekitarnya
Tidak memberikan buah apalagi naungan yang luas
Bahkan akarnya memakan semua saripati tanah
Membuat kering tanaman sekitar
.
Itulah orang yang jabatannya tinggi
Hartanya banyak dan ilmunya tinggi
Tapi TIDAK PEDULI sama sekali dengan sekelilingnya
Tidak ada manfaat sedikitpun darinya
Yang dirasakan oleh manusia
Ia hanya fokus memikirkan diri sendiri
Menambah harta dan meninggikan kedudukan
.
Tapi ada yang jabatannya tidak terlalu tinggi
Harta tidak banyak dan ilmu tidak terlalu banyak
Tapi memberi manfaat yang banyak
Dan memudahkan urusan manusia
.
Karena bersedekah tidak harus menunggu kaya
Membantu tidak perlu menunggu dibantu dahulu
Menghormati tidak perlu menunggu dihormati dahulu
Memberi manfaat dengan apa yang ada
.
Keberadaannya disenangi
Ketiadaannya dinanti-nantikan
Kedatangannya disambut gembira
Kepergiaannya disedihkan bahkan ditangisi
.
Semoga kita semua yang dimaksud
Paling bermanfaat bagi manusia
Aamiin yaa Mujiibas saa-iliin


*Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan*

Yang selalu mengaharapkan ampunan & rahmat Rabbnya

Semoga bermanfaat

Barokalloh fiikum

*MET MUNAJAD*
*ISTIGHFAR*
*ZIKIR*
*SHOLAWAT*
*TILAWAH*
*SAHUR*

Kalimat Tauhid Lebih Berat Timbangannya Dari Langit Dan Bumi

Kalimat Tauhid Lebih Berat Timbangannya Dari Langit Dan Bumi

Dari Abu Sa'id Al-Khudri rodhiyallahu 'anhu bahwa Rosulullah ﷺ bersabda,

يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به قال قل يا موسى لا إله إلا الله قال يا رب كل عبادك يقولون هذا

"Musa berkata, "Ya Robb, ajarkanlah aku sebuah kalimat yang dengannya aku berdzikir kepada-Mu dan berdoa. Allah berfirman, "Katakanlah wahai Musa, "Laa ilaaha illallaah". Lalu Musa berkata, "Ya Robb, semua hamba-Mu mengucapkannya."

قال يا موسى لو أن السماوات السبع عامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ولا إله إلا الله في كفة مالت بهن لا إله إلا الله

Allah berfirman, "Wahai Musa, andaikata langit yang tujuh beserta penghuninya selain Aku dan bumi yang tujuh diletakkan di atas satu anak timbangan, sedangkan kalimat "Laa ilaaha illallaah" diletakkan pada anak timbangan yang lain, maka lebih berat timbangan yang di sana ada kalimat "Laa ilaaha illallaah"."

(HR. Ibnu Hibban dalam "Shohihnya" 2324, Al-Hakim dalam "Al-Mustadroknya" 1/528 dishohihkan oleh beliau dan disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi, sanadnya dishohihkan Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam "Al-Fath" 11/208)

Nabi Musa 'alaihissalam di dalam hadits ini memohon kepada Allah agar mengajarinya untuk berdzikir dan berdoa. Ini menunjukkan dzikir dan doa harus dilandasi dalil.

Syariat tidak mengizinkan berdzikir dengan kalimat yang mengada-ada begitu pula dengan cara berdzikirnya.

Seperti model berdzikir dengan menyebut ismul jalal yang diulang-ulang yaitu Allah, Allah, Allah sekian kali atau menyebut ism dhomir yaitu huwa, huwa, huwa sekian kali sembari menggoyangkan kepala dan badan.

Hal tersebut tidak ada petunjuknya dari Rosulullah ﷺ dan tidak pernah dicontohkan oleh para shohabat. Alhamdulillah Islam syariat yang mudah.

Para ulama juga telah meluruskan kesalahpahaman istidlal (cara berdalil) mereka di samping riwayat-riwayatnya yang tidak shohih.

Syaikh Abdullah Alu Jarullah berkata,

"Adapun yang dimaksud berdzikir kepada-Mu dari ucapan Nabi Musa dalam hadits yaitu maknanya memuji Allah. Sedangkan berdoa yaitu memohon kepada-Nya.

Firman Allah, "Katakanlah wahai Musa, "Laa ilaaha illallaah", menunjukkan betapa agungnya kalimat tauhid yang Allah istimewakan untuk menjawab pertanyaan Musa.

Hadits juga memberi faidah bahwa langit terdiri dari tujuh lapis dan ada penghuninya. Dan beriman dengan adanya mizan yaitu timbangan yang memiliki dua anak timbangan."

(Al-Jami'ul Farid hlm. 16)

Maka setinggi-tinggi pujian dari kalimat dzikir adalah kalimat tauhid "Laa Ilaha Illallaah" yaitu tidak ada yang sesembahan yang benar selain Allah. Bukan Allah, Allah, Allah atau huwa, huwa, huwa.

Para ulama juga berdalil dengan hadits ini yang menunjukkan ketinggian Allah di atas langit. Sebagaimana dalam ayat yang berbunyi

أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض فإذا هي تمور

"Apakah engkau merasa aman dari Allah yang berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (Al-Mulk: 16)

Frasa "Fis sama'" dalam ayat ini maknanya di atas, bukan di dalam langit yang terkungkung oleh ruang dan waktu.

Kata "Fi" dalam bahasa Arab bisa bermakna "'Ala" yakni di atas seperti dalam ayat:

ولأصلبنكم في جذوع النخل

"Dan sungguh aku (Fir'aun) akan menyalib kalian di atas pohon kurma." (Thoha: 71)

Atau dalam ayat yang lain,

فسيحوا في الأرض أربعة أشهر

"Maka berjalanlah kalian di atas bumi selama empat bulan." (At-Taubah: 2)

Demikian aqidah yang diajarkan oleh Rosulullah ﷺ kepada para shohabat yang sampai kepada kita.

Dan aqidah ini telah disepakati oleh para salaf dan tidak membuka ruang ijtihad atau perselisihan di dalamnya.

Al-Imam Ibnu Batthoh Al-Ukbari berkata,

وأجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أنَّ الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سماواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

"Para ulama dari kalangan shohabat, tabiin dan segenap ulama kaum mukminin telah berijma' (sepakat) bahwa Allah tabaroka wa ta'ala tinggi di atas Arsy-Nya, di atas langit-langit-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya.

لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين 

Tidaklah enggan menerimanya dan tidak pula mengingkarinya melainkan dia telah terpengaruh oleh madzhab hululiyyah. Mereka adalah kaum yang telah menyimpang hatinya dan disesatkan oleh syaithon."

(Al-Ibanah 3/136)

Semoga Allah meneguhkan keyakinan kita di atas kalimat tauhid laa ilaaha illallaah, menjadikannya sebagai sebab gugurnya dosa, dan memperberat timbangan amal sholih kita.

*💟💫manhajulhaq💫💟* 

Minggu, 17 Oktober 2021

NERAKA DAN 70.000 TALI KEKANGNYA

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ 

NERAKA DAN 70.000 TALI KEKANGNYA

DALIL DAN HUJJAH

1. Tali Kekang Neraka

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُؤتى بالنارِ يومَ القيامةِ لها سبعون ألفَ زمامٍ
مع كلِّ زمامٍ سبعون ألفَ ملَكٍ يجرُّونَها

_"Neraka (Jahannam) pada hari kiamat akan didatangkan, ia memiliki 70.000 tali. Pada setiap talinya terdapat 70.000 malaikat yang menariknya"_

 ✍️ _(HR. Muslim No. 2842)_

*2. Kedalaman Neraka*

Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata:

_"Kami pernah bersama Nabi ﷺ tiba-tiba beliau mendengar seperti suara benda jatuh ke dasar. Nabi ﷺ bertanya, 'Tahukah kalian suara apa itu?' Kami menjawab, 'ALLAH dan Rasul NYA lebih mengetahui.'_

Beliau bersabda:

هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا
فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

_'Ini adalah batu yang dilemparkan ke Neraka sejak 70 tahun yang lalu dan sekarang baru mencapai dasarnya'"_

✍️ _(HR. Muslim No. 2844)_

*3. Api Neraka*

Rasulullah ﷺ bersabda:

نَارُكم هذِه ما يُوقدُ بنُو آدمَ جُزْءٌ واحدٌ
من سبعين جزءاً من نار جهنَّم

_"Api yang dinyalakan oleh Ibnu Adam adalah satu bagian dari 70 bagian dari panasnya api Jahannam"_

✍️ _(HR. Bukhari No. 3265, Muslim No. 2834)_

*4. Bahan Bakar Neraka*

ALLAH ﷻ berfirman:

ياٰأيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

_"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.."_

✍️ _[QS. At Tahrim: 6]_
━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💠
👥 *NASEHAT ULAMA*

*Mendidihnya Neraka*

_Sufyan Ats Tsauri berkata:_

_"Neraka itu mendidih gara-gara orang kafir yang masuk di dalamnya. Gambaran mendidihnya adalah seperti sebuah biji yang jumlahnya sedikit mendidih dalam air yang jumlahnya banyak."_
━━━━━━━━━━━━━━━━━ 💠
_*Neraka didatangkan oleh ALLAH ﷻ pada hari kiamat dan diperlihatkan kepada seluruh penduduk Padang Mahsyar*_

_Saat didatangkan, Neraka ditarik oleh 70.000 Malaikat pada tiap tali kekangnya, dan jumlah tali kekang neraka adalah 70.000 pula_

_Itu artinya terdapat 4.9 M Malaikat yang menarik Neraka. Dalil ini menunjukkan betapa banyaknya jumlah Malaikat yang menariknya dan betapa besarnya Neraka_

_Sungguh teramat sangat besar dan luasnya Neraka. Kita berlindung kepada ALLAH ﷻ dari dimasukkan ke dalamnya.._

_*WALLAHUL MUSTA'AN*_

TUJUH GOLONGAN YANG DINAUNGI ALLAH AZZA WA JALLA PADA HARI KIAMAT

 TUJUH GOLONGAN YANG DINAUNGI ALLAH AZZA WA JALLA PADA HARI KIAMAT

Oleh :
Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.' Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya."

*● TAKHRIJ HADITS*
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh :

1. Al-Bukhari (no. 660, 1423, 6479, 6806),
 2. Muslim (no. 1031 (91)),
3.  Malik dalam al-Muwaththa' di Kitâbusy Syi'ar bab Mâ Jâ-a fil 
 Muttabi'iin fillâh (hlm. 725-726, no. 14),
4. Ahmad (II/439),
5 .At-Tirmidzi (no. 2391),
6. An-Nasa-i (VIII/222-223),
7. Ibnu Khuzaimah (no. 358),
8. Ath-Thahawi dalam 
Musykilul Âtsâr (no. 5846, 5847), dan
Al-Baihaqi dalam Sunannya (IV/190, VIII/162).

*● SYARAH HADITS*
Penyebutan jumlah "tujuh" di dalam hadits ini tidaklah merupakan pembatas, sehingga tidak dapat diartikan bahwa golongan yang akan dinaungi Allâh Ta'ala pada hari Kiamat hanya terbatas pada tujuh golongan ini saja. Menurut Ulama ahli ushul, istilah ini disebut dengan mafhûmul 'adad ghairu murad, yaitu mafhum dari 'adad (bilangan) itu tidak dimaksudkan. Sehingga apabila disebutkan tujuh, bukan berarti hanya tujuh ini saja.

Kedudukan hadits ini sangat penting agar kaum Muslimin dapat melaksanakan amalan-amalan yang terkandung di dalamnya, sehingga kita dapat memperoleh perlindungan dan naungan Allâh Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

Kemudian Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ..

Mereka dinaungi oleh Allâh dalam naungan-Nya..

Ada pendapat bathil yang mengatakan bahwa mereka (tujuh golongan itu) dilindungi dari matahari, jadi antara mereka dan matahari terdapat Allâh. Ini adalah pendapat yang bathil, karena Allâh Azza wa Jalla di atas segala sesuatu sedangkan matahari dan golongan ini di bawah 'Arsy Allâh. Jadi yang benar adalah mereka (tujuh golongan itu) akan dilindungi oleh Allâh di bawah 'Arsy-Nya, karena Allâh di atas segala sesuatu dan berpisah dengan makhluk-Nya.

Lafazh فِي ظِلِّهِ, yaitu idhâfah (penyandaran) bayangan kepada Allâh Azza wa Jalla . Para Ulama mengatakan,

إِضَافَتُهُ إِلَى اللهِ إِضَافَةُ تَشْرِيْفٍ.

Penyandarannya kepada Allâh, yaitu penyandaran yang bertujuan untuk memuliakan

Yaitu menunjukkan kemuliaan, seperti masjidullaah, baitullaah, dan selainnya.

Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa naungan yang dimaksud adalah naungan 'Arsy Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalani rahimahullah dari Shahabat Salmân al-Fârisi Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهِ فِيْ ظِلِّ عَرْشِهِ

Tujuh golongan yang dilindungi di bawah naungan 'Arsy-Nya.[1]

Nanti pada hari Kiamat, manusia sangat membutuhkan perlindungan Allâh Azza wa Jalla . Pada hari itu mereka dikumpulkan di tempat lapang yang sangat luas, tidak ada naungan apapun juga. Mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak memakai alas kaki, tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya, laki-laki dan perempuansama. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ إِلَى اللهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً

Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dihimpun (pada hari Kiamat) menuju Allâh Azza wa Jalla dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan.[2]

Kemudian matahari didekatkan di atas kepala-kepala manusia, hingga peluh keringat bercucuran membasahi tubuh mereka. Sebagian manusia, ada yang terendam sebatas mata kakinya, ada yang terendam sebatas lututnya, ada yang sampai pinggangnya, ada yang sampai pundaknya, bahkan ada yang sampai ke mulutnya. Keadaan mereka ini sesuai dengan amalan-amalan mereka.

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ

(Pada hari Kiamat) matahari akan didekatkan (oleh Allâh) kepada seluruh makhluk hingga hanya sejarak satu miil.[3]

Pembahasan tentang tujuh golongan yang dilindungi Allâh dalam naungan-Nya pada Kiamat ini sangat penting karena berkaitan dengan iman kepada hari Akhir serta pengetahuan tentang amalan-amalan yang membawa kita dalam naungan dan perlindungan Allâh Azza wa Jalla .

*1. Seorang imam yang adil*
Yang dimaksud dengan Imam yaitu seorang yang mempunyai kekuasaan besar seperti raja, presiden atau yang mengurusi urusan kaum Muslimin.

Yang dimaksud adil yaitu seorang imam yang tunduk dan patuh dalam mengikuti perintah Allâh Azza wa Jalla dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya, tanpa melanggar atau melampaui batas dan tidak menyia-nyiakannya.

Keadilan seorang imam yaitu dengan menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi dan menyingkirkan segala perbuatan syirik, dan melaksanakan hukum-hukum Allâh Azza wa Jalla , sebab kezhaliman yang paling zhalim adalah perbuatan menyekutukan Allâh padahal Allâh-lah yang menciptakannya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya syirik (menyekutukan Allâh) adalah benar-benar kezhaliman yang paling besar."[Luqmân/31:13]

Karena tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah hanya kepada-Ku. [Adz-Dzâriyât/51:56]

Apabila imam atau pemimpin atau raja atau presiden tidak melaksanakan syari'at Islam artinya dia tidak berlaku adil, maka Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar. Fenomena yang kita lihat sekarang, jika ada seorang imam, penguasa atau pemimpin yang melakukan kesalahan maka orang-orang berusaha untuk menjatuhkannya dan berebut untuk dapat menggantikannya. Menurut syari'at Islam, berkeinginan untuk menjadi penguasa adalah keinginan terlarang, sebagaimana Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang para Shahabatnya untuk berkeinginan menjadi penguasa. Maka yang menjadi tugas kita sekarang adalah mendukung kebaikannya dan menasihati penguasa yang ada agar ia dapat menegakkan Tauhid di muka bumi ini, dan kita wajib bersabar atas kesalahannya. Kita berusaha untuk menasehati dengan cara yang baik sesuai dengan syari'at.

Jika ada pertanyaan, Bolehkah seorang wanita menjadi penguasa atau pemimpin?"

Maka jawabnya, "Tidak boleh."

Di dalam hadits di atas pun disebutkan bahwa imam di sini adalah laki-laki. Tidak ada wanita dalam hal kepemimpinan. Islam melarang wanita menjadi pemimpin dan melarang suatu kaum menjadikan wanita sebagai pemimpin mereka.

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُفْلِحُ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ

Tidak berbahagia suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.[4]

Imam al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah menjelaskan tentang keharaman seorang wanita menjadi pemimpin.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri bahwa ketika para Shahabat  menyampaikan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa orang-orang Persia dipimpin oleh seorang wanita, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً

Tidak akan berbahagia suatu kaum jika yang memimpin urusan mereka adalah seorang wanita[5]

Lafazh lan (لَنْ) di sini menunjukkan lit ta'-bîd, yaitu untuk selama-lamanya kaum tersebut tidak akan bahagia.

Hadits ini dijadikan dalil (dasar) oleh para Ulama tentang tidak bolehnya seoang wanita menjadi pemimpin. Dan ini adalah pendapat jumhur Ulama.

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, Seorang wanita tidak boleh menjadi amir atau menjadi qadhi (hakim)."

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata,Para Ulama sepakat bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi imam (penguasaatau pemimpin), juga tidak boleh menjadi qadhi (hakim)."[6]

*2. Seorang pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allâh*
Dalam sebuah hadits dari Shahabat Salmân al-Fârisi Radhiyallahu anhu disebutkan:

أَفْنَى شَبَابَهُ وَنَشَاطَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ

Dia menghabiskan waktu mudanya dan rajin dalam beribadah kepada Allâh[7]

Pada umumnya, seseorang saat masa mudanya lebih condong kepada kejahatan, kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang melanggar syari'at. Namun ada orang di saat mudanya ia justru mengekang hawa nafsunya dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Orang seperti inilah yang akan dilindungi oleh Allâh Azza wa Jalla .

*3. Seseorang yang hatinya bergantung pada masjid*
Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan,

وَرَجُلٌ كَانَ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِالْـمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ …

Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, apabila ia keluar dari masjid hingga kembali kepadanya.[8]

Hal ini menunjukkan tentang rasa cintanya kepada masjid untuk shalat dan dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla . Hatinya bagaikan lampu pelita yang terpasang di atapnya, di mana tidaklah dia keluar darinya melainkan dia akan kembali.

Kata rajulun (seorang laki-laki) disini hanya terbatas pada laki-laki saja karena perempuan tidak diperintahkan untuk meramaikan masjid-masjid Allâh, dalam artian untuk melaksanakan shalat berjama'ah di masjid. Namun dianjurkan bagi para wanita Muslimah untuk melaksanakan shalat di rumah mereka,

وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka[9]

Sedangkan bagi laki-laki diwajibkan untuk melaksanakan shalat berjama'ah di masjid.

Wanita Muslimah shalat di rumah-rumah mereka lebih baik daripada di masjid, akan tetapi apabila mereka meminta izin kepada suami untuk shalat di masjid, maka suami hendaknya mengizinkannya dengan ketentuan tidak menimbulkan fitnah. Pakaiannya harus menutup seluruh tubuh dan tidak memakai parfum (wangi-wangian).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَمْنَعُوْا نِسَائَكُمُ الْـمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Janganlah kalian melarang isteri-isteri dan perempuan (untuk datang) ke masjid, dan rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka[10]

Dalam hadits yang lain, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ

Janganlah kalian melarang para wanita (shalat) di masjid Allâh, akan tetapi hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai parfum[11]

*4. Dan orang yang saling mencintai di jalan Allâh, dia berkumpul dan berpisah karena-Nya*
Imam an-Nawawi rahimahullah memasukkan hadits ini dalam kitabnya, Riyâdhush Shâlihîn pada bab *Keutamaan Cinta karena Allâh"*

Mencinta seseorang hanya karena Allâh Azza wa Jalla adalah cinta yang tidak dapat dinodai oleh unsur-unsur keduniaan, ketampanan, harta, kedudukan, fasilitas, suku, bangsa dan yang lainnya. Akan tetapi dia melihat dan mencintai seseorang karena ketaatannya dalam melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla dan kekuatannya dalam meninggalkan larangan-Nya. Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, Disebut dengan dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, di mana ia berpisah dan berkumpul karena-Nya, yaitu apabila keduanya saling mencintai karena agama, bukan karena yang lainnya. Dan cinta agama ini tidak putus karena dunia, baik dia berkumpul secara hakiki atau tidak, sampai kematian memisahkan keduanya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Humaidi disebutkan bahwa yang dimaksud yaitu dia berkumpul di atas kebaikan.[12]

Kemudian sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

تَفَرَّقَا عَلَيْهِ

Keduanya berpisah karena-Nya.
Yaitu keduanya berkumpul dan berpisah hanya karena Allâh Azza wa Jalla , badannya terpisah karena safar atau kematian tetapi ruhnya tetap berkumpul di atas manhaj Allâh Azza wa Jalla .[13]

Sebagaimana yang disebutkan pada sebuah hadits dari 'Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا اِئْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ.

Ruh-ruh itu selalu terkumpul dan terhimpun, siapa yang kenal ia akan berkumpul; dan siapa yang tidak saling mengenal, maka ia berpisah[14]

Hal ini juga berlaku bagi dua orang wanita Muslimah yang saling mencintai karena Allâh Azza wa Jalla , yaitu cinta dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla .

Oleh sebab itu, apabila kita mencintai seseorang karena ketaatannya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan kesungguhannya dalam menjauhi larangan-Nya, maka dianjurkan oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam agar kita memberitahukan kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, yaitu:

إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ

Sesungguhnya aku cinta kepadamu karena Allâh .
Kemudian jawabannya adalah:

أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

Mudah-mudahan Allâh mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya[15]

Saling mencintai karena Allâh Azza wa Jalla memiliki keutamaan yang sangat besar, bukan hanya mereka akan dikumpulkan dan diberikan naungan, bahkan mereka akan diberikan mimbar-mimbar dari cahaya oleh Allâh Azza wa Jalla di hari Kiamat.

Sebagaimana hadits dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu bahwa ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اَلْـمُتَحَابُّوْنَ فِي جَلاَلِي، لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ

Orang yang saling mencintai berada dalam lindungan-Ku; diberikan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya yang dicita-citakan oleh para Nabi dan syuhada' (orang-orang yang mati syahid)[16]

*5. Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu laki-laki tersebut berkata, "Sungguh aku takut kepada Allâh.*
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

Dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu laki-laki tersebut berkata: 'Sungguh aku takut kepada Allâh.

Hal ini bukan hanya berlaku bagi laki-laki, namun juga bagi wanita. Apabila dia diajak berzina oleh laki-laki kemudian dia menolaknya sambil mengatakan,

إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Sungguh aku takut kepada Allâh, Rabb semesta alam.

Yaitu dia takut hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , maka dia akan diberikan perlindungan oleh-Nya.

Disebutkannya laki-laki ini sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur-an, yaitu kisah Nabi Yûsuf Alaihissallam. Beliau diajak oleh seorang isteri penguasa pada waktu itu untuk berzina, namun beliau  menolaknya. Allâh Azza wa Jalla melarang seseorang mendekati perbuatan zina. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. [Al-Isrâ'/17:32]"

*6. Seseorang yang bersedekah dengan sesuatu lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.*
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Seseorang yang bershadaqah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.

Sudah diketahui bersama bahwa infaq itu dianjurkan agar dilakukan dengan tangan kanan karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan menggunakan tangan kanan ketika mengambil sesuatu, makan, minum, maupun bershadaqah. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad (VI/94). Juga dalam Shahîh al-Bukhâri di Kitab az-Zakâh terdapat bab dengan judul Bab as-Shadaqati bil yamin (Bab Sedekah dengan Tangan Kanan).

Allâh Azza wa Jalla sangat menganjurkan para hamba-Nya untuk bershadaqah. Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allâh akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allâh Mahateliti apa yang kamu kerjakan..[Al-Baqarah/2:271]

Menyembunyikan sedekah dalam Islam memiliki keutamaan, yaitu dapat menjauhkan diri dari sifat riya'. Maka sangat dianjurkan untuk bershadaqah dalam keadaan sepi dan sembunyi-sembunyi, tidak terang-terangan.

Namun pada saat-saat tertentu diperlukan memberikan sedekah secara terang-terangan, misalkan di suatu tempat didapati orang-orang yang sangat sulit untuk bersedekah, maka dianjurkan untuk memulainya secara terang-terangan agar menjadi contoh bagi mereka. Sebagaimana asbâbul wurûd (sebab-sebab datangnya hadits), sabda Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ…

Barangsiapa yang memulai sunnah dalam Islam dengan sunnah yang baik, maka diberikan pahala baginya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka…[17]

Sedekah wajib dilakukan dengan ikhlas, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Orang yang riya' dalam beramal, baik ketika memberikan sedekah maupun yang lainnya, maka amalannya itu tidak bernilai di sisi Allâh Azza wa Jalla . Yaitu jika dia ingin dilihat orang, ingin didengar, atau dia mengungkit-ungkit amalan yang dilakukannya, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu. [Al-Baqarah/2:264]

Maksud dari seseorang yang menyembunyikan shadaqah yang dilakukan dengan tangan kanannya dari tangan kirinya adalah orang ini bersungguh-sungguh dalam menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya, meskipun dekat dengan tangan kanan (padahal berada dalam satu tubuh), tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya dalam sedekahnya tersebut.[18] Namun bagi para isteri dianjurkan meminta izin kepada suaminya jika ingin bershadaqah.

*7. Seseorang yang mengingat Allâh Azza wa Jalla dalam keadaan sepi lalu air matanya mengalir*
Sabda Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam :

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dan seseorang yang mengingat Allâh dalam keadaan sepi lalu air matanya mengalir

Yaitu, seorang laki-laki yang mengingat Allâh atau berdzikir kepada-Nya, berdzikir dengan hati dan lisannya, dan dalam keadaan sepi lalu air matanya mengalir. Penyebutan rajulun (seorang laki-laki) bukan pembatasan karena ini juga berlaku bagi kaum wanita. Jika seorang Muslimah mengalir air matanya tatkala berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla di kala sepi, maka ia berhak atas naungan Allâh Azza wa Jalla di hari Kiamat.

Penyebutan syarat dalam keadaan sepi di sini karena di saat itu sangat jauh dari perbuatan riya'. Tentang mengalir air matanya karena takut kepada Allâh terdapat beberapa keutamaan, di antaranya tidak disentuh oleh api Neraka.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.

Ada dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allâh dan mata yang bergadang karena menjaga peperangan di jalan Allâh.[19]

Berdzikir (mengingat) Allâh Azza wa Jalla , baik dengan membaca dzikir, do'a maupun bangun untuk shalat di tengah malam, harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam . Jadi, dzikir-dzikir, do'a atau amalan lainnya, baik jenis, kaifiyat (tata cara), waktu maupun bilangannya, yang tidak dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam akan tertolak. Karena Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak dicontohkan dari kami maka ia tertolak!![20]

Demikian juga apabila seorang suami yang bangun di tengah malam lalu melaksanakan shalat Tahajjud, kemudian dia membangunkan isterinya untuk melakukan shalat Tahajjud atau sebaliknya, maka keduanya termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla .

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Seorang suami yang bangun ditengah malam dan membangunkan isterinya lalu keduanya shalat malam, maka keduanya termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allâh.[21]

*● FAWAA-ID.*

1. Keutamaan seorang imam atau pemimpin yang adil, yang berhukum dengan syari'at-syari'at Allâh Azza wa Jalla dan memperhatikan rakyatnya.

2. Keutamaan anak muda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak berbuat maksiat kepada-Nya serta tidak berbuat kejahatan, begitu juga wanita.

3. Wajib mendidik anak-anak dalam taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan mengajarkan tauhid kepada mereka dan akhlak yang mulia.

4. Keutamaan orang yang selalu datang ke masjid dan hatinya selalu bergantung kepadanya untuk berzikir kepada Allâh Azza wa Jalla dan menegakkan shalat berjama'ah.

5. Wajib bagi laki-laki shalat berjama'ah di masjid, sementara bagi kaum wanita, rumah merupakan tempat shalat terbaik mereka.

6. Hati seorang Muslim selalu rindu untuk ibadah di masjid.

7. Cinta yang sebenarnya, dilakukan di jalan Allâh dan semata-mata karena Allâh Azza wa Jalla .

8. Wajib menutup jalan yang membawa kepada perzinaan.

9. Keutamaan menjaga diri dan berpaling dari perbuatan zina karena takut kepada Allâh Azza wa Jalla .

10. Berzina adalah perbuatan keji, dosa besar dan sejelek-jelek jalan.

11. Keutamaan sedekah yang tersembunyi jauh dari perbuatan riya'.

12. Keutamaan merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla dan takut kepada Allâh Azza wa Jalla disaat sendirian.

13. Keutamaan menangis karena takut kepada Allâh Azza wa Jalla .

14. Keutamaan berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla ketika sendirian.

15. Bahwa ganjaran itu tergantung dari keikhlasan dan sesuai dengan Sunnah.

*● MARAJI*

1. Kutubussittah.
2. Musnad Imam Ahmad Darul Fikr.
3. Al-Mustadrak, oleh Imam al-Hâkim.
4. Riyâdhush Shâlihîn.
5.Shahîh al-Jâmi'ish Shaghîr, oleh Syaikh al-Albani.
6. Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, oleh Syaikh al-Albani.
7. Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdish Shâlihin, oleh Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali.
8. Syarhus Sunnah, oleh al-Baghawi.
9. Dan kitab lainnya

............................

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 
_______

Footnote

[1] Fat-hul Bâri (II/144).
[2] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 3349) dan Muslim (no. 2860 (58)), dari 'Abdullah bin 'Abbâs Radhiyallahu anhuma
[3] Shahih: HR. Muslim (no. 2864 (62)), dari Miqdad bin al-Aswad Radhiyallahu anhu
[4] Shahih: HR. Ahmad (V/43, 47).
[5] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 4425, 7099), Ahmad (V/43, 47, 51), at-Tirmidzi (no. 2262), dan an-Nasa-i (VIII/227), dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu.
[6] Syarhus Sunnah (X/76-77).
[7] Lihat Fat-hul Bâri (II/145).
[8] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2391). Lihat Irwâ-ul Ghalîl (no. 887).
[9] Shahih: HR. Ahmad (II/76) dan Abu Dawud (no. 567) dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma
[10] Shahih: HR. Ahmad (II/76) dan Abu Dawud (no. 567) dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma
[11]  Shahih: HR. Ahmad (II/438) dan Abu Dawud (no. 565), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîh Sunan Abi Dawud (III/101, no. 574, cet Gharras)
[12] Lihat Fat-hul Bâri (II/145).
[13] Lihat Bahjatun Nâzhirîn (I/445)
[14] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 3336), Muslim (no. 2638 (159-160)), Abu Dawud (no. 4834), dan selainnya.
[15] Hasan: HR. Abu Dawud (no. 5125), al-Hâkim (IV/171), dan selainnya.
[16] Shahih: HR. Ahmad (V/ 239), at-Tirmidzi (no. 2390), dan selainnya. Lihat Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3019).
[17] Shahih: HR. Muslim (no. 1017), an-Nasa-i (V/76), dan selainnya.
[18] Lihat Fat-hul Bâri (II/147) karya al-Hâfizh Ibnu Hajar al-'Asqalani
[19] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 1639). Lihat Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 1229).
[20] Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 2697) dan Muslim (no. 1718 (18)).
[21] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 1451), Ibnu Mâjah (no. 1335) dan al-Hâkim (I/316). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani t dalamShahîh al-Jâmi'ish Shaghîr (no. 333)."

Ⓜ️edia Sunnah Nabi


📘📖........................✍🏻

TERSANDUNG ATAU TERPELESET BACA BISMILLAH YAA


بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
🔴➖➖➖➖➖➖➖🔴
*TERSANDUNG ATAU TERPELESET BACA BISMILLAH YAA⁣⁣⁣*
🔴➖➖➖➖➖➖➖🔴


⁣⁣⁣
🔸 Kadang-kadang ketika seseorang sedang berjalan atau berkendara, tiba-tiba ia tersandung atau terpeleset sehingga jatuh… Karena kesal, terkadang keluarlah ucapan-ucapan yang mengungkapkan kekesalannya ataupun caci maki :

"Aduh sialan!", ada juga yang ber-istirja': "inna lillaahi wa inna ilaihi roji'un!"… dan ada juga yang mencela syaithon:

"Setan sialan!"… dan seterusnya.⁣⁣⁣
ㅤ⁣⁣⁣
🔸 *Sebenarnya ada ucapan yang diajarkan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dalam hal ini, dan tuntunan beliau tentu lebih layak untuk diikuti.⁣⁣*
ㅤ⁣⁣⁣
✅ HADITS LENGKAPNYA⁣⁣⁣
ㅤ⁣⁣⁣
🔸 Salah seorang sahabat pernah membonceng Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian ontanya tersandung. Sahabat ini langsung mengatakan, Ta'isa as-Syaithan "Celaka setan"⁣⁣⁣
ㅤ⁣⁣⁣
Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan,⁣⁣⁣
ㅤ⁣⁣⁣
Jangan kamu mengucapkan 'celaka setan'. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah.
Setan akan membanggakan dirinya, 'Dia jatuh karena kekuatanku.'⁣⁣⁣
ㅤ⁣⁣⁣
*Namun ucapkanlah, 'Bismillah…' karena jika kamu mengucapkan kalilmat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat*.
*(HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)*
ㅤ⁣⁣⁣
💡 *PENJELASAN⁣⁣⁣*
ㅤ⁣⁣⁣
At-Thahawi menjelaskan hadis ini,⁣⁣⁣
ㅤ⁣⁣⁣
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang hal itu, karena ucapan itu akan membuat setan bangga, dia menyangka kecelakaan itu disebabkan diri setan, padahal sejatinya bukan darinya.
Namun datang dari Allah.

*Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memeritahkan untuk menggantinya dengan ucapan 'Bismillah..' sehingga setan tidak mengganggap bahwa kecelakaan itu darinya dan dia memiliki peran dengannya*
ㅤ⁣⁣⁣
*(Musykil al-Atsar, 1/346)*
ㅤ⁣⁣⁣
Sumber: konsultasisyariah ⁣___________________⁣⁣⁣

*Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan*

Yang selalu mengaharapkan ampunan & rahmat Rabbnya

Semoga bermanfaat

Barokalloh fiikum

*MET MUNAJAD*
*ISTIGHFAR*
*ZIKIR*
*SHOLAWAT*
*TILAWAH*
*SAHUR*

.

__ 

Sabtu, 16 Oktober 2021

BAHAYA MENUDUH

BAHAYA MENUDUH

بسم الله الرحمن الرحيم


Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan wanita, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata"
(QS. Al-Ahzab [33]: 58)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Barangsiapa berkata (menuduh) seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah akan menempatkannya dalam radghatul khabaal (nanah dan darah penduduk Neraka), hingga dia keluar dari apa yang dia ucapkan (berkata sesuai kenyataan tentang saudaranya)"
(HR. Abu Dawud no. 3597, ath-Thabrani no. 13435, al-Hakim no. 2222, al-Baihaqi no. 11223 dan Ahmad no. 5385, hadits dari Ibnu Umar, Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir no. 6196)
.
"Adapun orang yang engkau lihat dirobek pinggiran mulutnya (dengan pengait besi), dia adalah seorang pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dilakukan kepadanya (siksa kubur itu) HINGGA HARI KIAMAT"
(HR. Bukhari no. 1386, 7047 dan Ahmad V/8, hadits dari Samurah bin Jundab)

Sungguh begitu besar beban yang akan dipikul dan bahaya yang akan ditemui oleh manusia yang tidak pandai menjaga lisannya dari melontarkan kekejian dan tuduhan kepada seorang muslim.

Apalagi jika orang yang dituduh itu adalah para Ulama dan da'i-da'i Ahlussunnah yang hidup dan matinya di jalan Allah untuk membentengi agama-Nya.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar"
(QS. An-Nuur [24]: 11).



____________

Distributed by: *HIJRAH SALAF* and join us at:



📲  Fanspage: https://fb.me/salafhijrah

 📎Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bukan dengan kedustaan dan kedhaliman."
(Ibnu Taimiyyah rahimahullahu)

WANITA BEPERGIAN MENGGUNAKAN PESAWAT TANPA MAHRAM

WANITA BEPERGIAN MENGGUNAKAN PESAWAT TANPA MAHRAM






*Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du*

*Pertanyaan*

*Bolehkah wanita bepergian dengan menggunakan pesawat tanpa disertai mahram jika itu aman?*

*Jawaban*

*Nabi ﷺ  telah bersabda*

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ

*Wanita tidak boleh bepergian jauh (safar) kecuali bersama mahramnya*

*Beliau mengucapkan ini di atas mimbar pada saat haji, lalu seorang laki-laki berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, isteriku pergi haji sementara aku tercantum sebagai peserta perang itu dan itu." Mendengar itu Nabi ﷺ pun berkata*

اِنْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

*Berangkatlah engkau dan berhajilah bersama isterimu*

*Nabi ﷺ menyuruhnya untuk meninggalkan perang lalu pergi haji menyertai isterinya. Saat itu beliau tidak mengatakan kepada laki-laki tersebut, "Apakah isterimu aman?" atau "Apakah ia bersama wanita-wanita lain?" atau "Apa ia bersama para tetangganya?" Hal ini menunjukkan umumnya larangan bepergian bagi wanita tanpa disertai mahram. Sementara bahaya itu bisa terjadi di mana saja, bahkan di pesawat sekalipun. Karena itu, hendaknya kita semua mengikuti ketetapan ini*

*Laki-laki itu, yang isterinya hendak bepergian dengan pesawat, kapan ia kembali setelah mengantarkannya ke bandara? Ia akan kembali saat isterinya sedang menunggu pesawat, wanita itu akan berada di ruang tunggu tanpa mahramnya*

▪Anggaplah laki-laki itu masuk ke ruang tunggu menyertai isterinya sampai si isteri naik pesawat, lalu pesawat pun tinggal landas. Apakah tidak mungkin bila pesawat itu kembali lagi di tengah perjalanannya? Ini kenyataan, bisa saja pesawat itu kembali lagi karena gangguan teknis atau karena kondisi cuaca. Anggaplah pesawat itu penerbangannya lancar dan sampai di kota yang dituju si wanita, namun kondisi bandara yang dituju itu sangat sibuk atau kondisi cuaca di sekitarnya sedang buruk sehingga tidak bisa digunakan untuk landing, lalu pesawat itu terbang ke bandara lainnya*

*Ini mungkin saja terjadi.. Anggaplah pesawat itu terbang tepat waktu dan landing juga tepat pada waktu yang direncanakan, tapi mahramnya si wanita yang akan menjemputnya belum tiba di tempat karena suatu sebab. Anggaplah hal ini tidak terjadi, si penjemput itu sudah datang pada waktu yang direncanakan*

*Masih ada bahaya lain yang mungkin terjadi. Siapa yang duduk di samping wanita itu? Tidak mesti wanita. Bisa saja laki-laki, dan bisa saja itu laki-laki yang tidak menghormati hamba-hamba Allah, ia tersenyum kepada si wanita itu, mengajaknya ngobrol, mencandainya, meminta nomor teleponnya dan memberikan nomor teleponnya. Bukankah semua ini bisa terjadi? Siapa yang menjamin selamat dari bahaya-bahaya tersebut?*

*Karena itu, anda temukan hikmah yang sangat besar dalam larangan Rasulullah ﷺ tersebut yang melarang bepergiannya wanita tanpa disertai mahramnya yang beliau sampaikan tanpa rincian dan ikatan*

*Mungkin anda akan mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ tidak mengetahui yang ghaib, dan beliau pun tidak mengenal pesawat. Baik, sekarang kita arahkan perkataan beliau mengenai perjalanan dengan mengendarai unta, bukan dengan pesawat. Berarti, wanita tidak boleh bepergian dengan mengendarai unta tanpa disertai mahramnya, karena Rasulullah ﷺ  tidak mengetahui pesawat yang bisa menempuh perjalanan dari Thaif ke Riyadh hanya dalam waktu satu seperempat jam, Padahal bila ditempuh dengan mengendarai unta bisa sebulan penuh*

*Jawabannya*

*Walaupun Rasulullah ﷺ tidak mengetahui, tapi Rabb beliau mengetahui, Sebagaimana firman-Nya, "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri." [QS An-Nahl: 89]*

*Karena itu, saya peringatkan saudara-saudara sekalian terhadap fenomena berbahaya ini, yaitu meremehkan bepergiannya wanita tanpa mahram. Saya juga memperingatkan khulwahnya wanita dengan supir di dalam mobil, walaupun perjalanannya masih di dalam negeri (atau di dalam kota), karena masalah ini sangat berbahaya. Lain dari itu, saya juga memperingatkan tentang khulwahnya kerabat seseorang dengan isterinya di dalam rumah, karena ketika Nabi ﷺ bersabda*

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ. قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ


*Janganlah kalian masuk ke tempat wanita" lalu seorang laki-laki Anshar bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana kalau saudara ipar?" beliau menjawab, "Saudara ipar adalah maut." Maksudnya, harus lebih berhati-hati lagi*

*Anehnya, ada sebagian ulama semoga Allah memaafkan mereka yang menafsiri (saudara ipar adalah maut) bahwa ipar itu mesti datang kepada isteri saudaranya, sebagaimana kematian itu pasti datang*


والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


*🗃 Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal. 852-853*


*📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli*

ANAKKU, JIKA TELAH TERPUTUS AMALKU SETELAH MATIKU, MAKA ENGKAULAH HARAPANKU

ANAKKU, JIKA TELAH TERPUTUS AMALKU SETELAH MATIKU, MAKA ENGKAULAH HARAPANKU

Tahukah engkau saudaraku, salah satu doa yang mustajab? Yaitu doa dari seorang anak yang shalih untuk orang tuanya. Sambutlah kembali hadiah nabawiyah ini, saudaraku.

Sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,"
Maka ia pun bertanya: "Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?"
Allah menjawab: "Berkat istighfar anakmu bagi dirimu". (Hadits shahih. HR. Ahmad, no. 10232)

Istighfar di sini maksudnya permohonan ampunan kepada Allah Ta'ala dari seorang anak buat orangtuanya dalam bentuk doa.
Sebagaimana penjelasannya dalam hadits yang lain, masih dari sahabat yang sama Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
.
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
.
"Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya."
(Hadits shahih. HR. Muslim, no. 1631

Nah, saudaraku. Janganlah engkau enggan untuk berdoa demi kebaikan orang tuamu. Hanya Allah lah yang mampu Memberi petunjuk dan membukakan pintu hati kedua orang tuamu. Mintalah pada-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Memohonlah terus pada-Nya dan jangan pernah bosan meski kita tidak tahu kapankah doa kita akan dikabulkan. Pun seandainya Allah tidak berkehendak untuk memberi mereka petunjuk hingga ajal menjemput mereka, ingatlah bahwa Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. 

Janganlah berhenti berdoa saudaraku, karena tentu engkau sudah tahu bahwa doa seorang anak shalih untuk orang tuanya tidaklah terputus amalannya meski kedua orang tuanya sudah meninggal
.
.

Selasa, 21 September 2021

DO'A DI PENGHUJUNG JUM'AT

DO'A DI PENGHUJUNG JUM'AT


Pada hari Jum'at terdapat satu *waktu mustajab untuk berdo'a*. Waktu ijabah tersebut berada di penghujung hari Jum'at, *yakni setelah 'Ashar sampai menjelang Maghrib.*
                                     

💫  Yuk, panjatkan do'a  yang sangat lengkap ini di waktu mustajab Penghujung Jum'at ini.. 


اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، وَمَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مِمَّا سَأَلَكَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِمَّا تَعَوَّذَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَمَا قَضَيْتَ لِيْ مِنْ قَضَاءٍ فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا.
(رواه الحاكم، وصححه الألباني)


```Allohumma innii as aluka minal khoiri kullihi, 'aajilihi wa aajilihi, maa 'alimtu minhu wa maa lam a'lam, wa a'uudzu bika minasy syarri kullihi, 'aajilihi wa aajilihi, wa maa 'alimtu minhu wa maa lam a'lam, wa as alukal jannata wa maa qorroba ilaihaa min qoulin au 'amalin, wa a'uudzu bika minannaari wa maa qorroba ilaihaa min qoulin au 'amalin, wa as aluka mimmaa sa-alaka bihi muhammadun ﷺ , wa a'uudzu bika mimmaa ta'awwadza bihi muhammadun ﷺ , wa maa qodhoita lii min qodhoo-in faj'al 'aaqibatahuu rusydaa.```


Artinya:

_"Ya Allah, *aku meminta seluruh kebaikan, baik yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui*, dan aku berlindung dari seluruh keburukan, yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui dan yang tidak  aku ketahui._

_Dan *aku meminta surga dan yang mendekatkan kepadanya* dari perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung dari neraka dan yang mendekatkan kepadanya dari perkataan atau perbuatan._

_Dan *aku meminta segala sesuatu yang diminta oleh Nabi Muhammad*  ﷺ  dan berlindung dari segala yang diminta perlindungannya oleh Nabi Muhammad  ﷺ ._

_Dan *apapun yang Engkau takdirkan untukku, maka jadikanlah kebaikan pada akhirnya*."_

*(HR. Hakim dan dishahihkan Syeikh Albani).*


Semoga kita dapat menghafalkan dan membaca do'a ini dimanapun kita berada. Aamiiin.


✍🏻  *Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri*
*_حفظه الله تعالى._*


┈┈┈◉◈◉❒  *SKAI*  ❒◉◈◉┈┈┈

🔖 Join Grup WA : http://sabilulkhayr.com/join
🌐 Website: sabilulkhayr.com
📷 Instagram: Instagram.com/Sabilulkhayr
✉ Telegram Chanel: t.me/sabilulkhayr
📮 Tanya Jawab SKAI: t.me/tjsabilulkhayr