Rabu, 26 Mei 2021

Foto dari SuCi

🍃Tata Cara Shalat Gerhana🍃

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 


🌴🌴🌴
Bagaimana tata cara shalat gerhana?

Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka'at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih mengenai tata caranya.

Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka'at dan setiap raka'at ada sekali ruku', dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka'at dan setiap raka'at ada dua kali ruku', dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435-437)

🌴🌴🌴
Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah kami sebutkan:

"Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru 'ASH SHALATU JAMI'AH' (mari kita lakukan shalat berjama'ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku' dan empat kali sujud dalam dua raka'at. (HR. Muslim no. 901)

"Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku' dan memperpanjang ruku'nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku' kembali dan memperpanjang ruku' tersebut namun lebih singkat dari ruku' yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka'at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka'at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak." (HR. Bukhari, no. 1044)

🌴🌴🌴
Ringkasnya, tata cara shalat gerhana -sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama-, urutannya sebagai berikut.

[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.
[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
[3] Membaca do'a istiftah dan berta'awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:
جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana." (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

[4] Kemudian ruku' sambil memanjangkannya.
[5] Kemudian bangkit dari ruku' (i'tidal) sambil mengucapkan 'SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD'
[6] Setelah i'tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
[7] Kemudian ruku' kembali (ruku' kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku' sebelumnya.
[8] Kemudian bangkit dari ruku' (i'tidal).
[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku', lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka'at kedua sebagaimana raka'at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
[11] Tasyahud.
[12] Salam.
[13] Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama'ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo'a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1: 438)

🌴🌴🌴
Semoga bermanfaat.


Selesai disusun ulang pada 13 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal




======🌴🌴🌴🌴🌴======

Senin, 10 Mei 2021

Berbuat baik kepada Anak2 sebelum merekadilahirkan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

 BERBUAT BAIK KEPADA ANAK-ANAK SEBELUM MEREKA DILAHIRKAN

Kok bisa? Bagaimana caranya? Perhatikan percakapan ulama berikut

وقال أبو الأسود الدؤلي لبنيه : قد أحسنت إليكم صغارا وكبارا وقبل أن تولدوا .
قالوا : وكيف أحسنت إلينا قبل أن نولد ؟
قال : اخترت لكم من الأمهات من لا تسبون بها .

Abul Aswad Ad-Duaili berkata kepada anak-anaknya, "Sungguh aku telah berbuat baik kepada kalian sejak kalian masih kecil hingga kalian dewasa bahkan semenjak kalian belum dilahirkan."

Anak-anaknya bertanya, "Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami terlahir?"

Beliau menjawab, "Aku telah pilihkan untuk kalian ibu yang mana kalian tidak akan pernah kecewa kepadanya."
(Adabud dunya wad diin hal. 158, Darul maktabah, Syamilah)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،

"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah" (HR. Muslim: 1467)

wanita shalihah tidak akan silau dengan perhiasan dunia karena merekalah sebaik-baik perhiasan

 

dan inilah sifat utama dari wanita shalihah. Sebagaimana RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu,

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu [1]istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya." (HR. Abu Dawud no. 1417. Al-Jami'ush Shahih 3/57)

Beliau juga bersabda,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَاَلْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَركَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ.

"Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman.

 Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit." (HR. Ibnu Hibban , Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

Bukan rumah mewah atau mobil bagus patokan yang dimiliki, tetapi istri yang shalihah

Suatu ketika Umar ibnul Khaththabradhiallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallammenjawab:

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ

"Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat." (HR. Ibnu Majah no. 1856, Shahih Ibnu Majah no. 1505)

Dan dari semuanya memang hanya keshalihan wanita yang menjadi tolak ukur pertama. RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأََرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung." (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Jangan terperdaya dengan kecantikan wanita, tetap lihatlah keshalihannya…

Banyak juga laki-laki yang sudah paham agama tetapi masih memilih cantik sebagai patokan utama

 
Penyusun:   Raehanul Bahraen

Senin, 03 Mei 2021

Adakah Shalat Khusus Lailatul Qadar ?

Adakah Shalat Khusus Lailatul Qadar ?


*✍🏻 Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah*

💫 *(1) *Pertama,* Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa lailatul qadar itu besar
👉🏻 *kemungkinan terjadinya di 10 hari ganjil yang terakhir dari malam bulan Ramadhan*(malam 21,23,25,27,29) *lailatul qadar sendiri sebenarnya tidak ada yang bisa memprediksikan kapan pasti terjadinya.*

*تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ*

_"Carilah lailatul qadar *di malam ganjil* dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan"._
[HSR. Bukhari 2017]

💫 *(2) *Kedua,*
*malam lailatul qadar memang *memiliki tanda,* sebagaimana terdapat dalam hadits berikut:*

*ىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ* *-صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.*

💫 *_"Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh* (dari bulan Ramadhan). Dan *tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru."*_
[HSR. Muslim 762]

💫 *Walau hadits di atas disebutkan malam ke 27, bukan berarti selalu tanggal 27, karena setiap tahun bisa berubah tanggalnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh rahimahullah: *"Waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun".* (Selengkapnya penjelasan para Ulama dalam hal ini lihat dalam Fathul Baari IV:262-266)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa *ciri terjadinya lailatul qadar* adalah:

*لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء*

*_"Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, *tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan".*_
[HR. Ibnu Khuzimah 2192 dll dengan sedikit perbedaan redaksi. Kata Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibni Khuzimah 2192, Shahih karena adanya jalur pendukungnya]*

💫 *(3) *Ketiga,*
*namun tanda-tanda itu baru diketahui setelah terjadinya lailatul qadar (adapun sebelumnya tentu orang sulit untuk mengetahuinya). Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh rahimahullah berikut:*

*وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي*

"Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, *namun semua tanda itu tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu."* (Fathul Baari IV:260)

💫 *(4)*Keempat,* *
*dengan demikian bagaimana orang akan menyatakan ada shalat khusus lailatul qadar, sementara lailatul qadarnya saja tidak diketahui kapan hari terjadinya, kecuali setelah harinya berlalu.*

*💫 *(5) Kelima,*
*adapun ada suatu hadits yang spesifik menyebut tata cara khusus shalat lailatul qadar, yakni hadits berikut:*

*من صلّى ركعتين في ليلة القدر، فيقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب مرة، وقل هو الله أحد سبع مرات، فإذا فرغ يستغفر سبعين مرة.....*

*_"Siapa yang shalat dua rakaat saat lailatul qadar, lantas dia membaca Al-Fatihah satu kali di setiap rakaatnya dan membaca Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlash) 7 kali,  kemudian setelah selesai shalat dia beristighfar 70 kali, maka selama dia masih di tempat shalatnya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan kedua orang tuanya"._*

Maka *dipastikan hadits ini palsu.*
*Hal ini sebagaimana diperingatkan dalam Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyyah yang menyampaikan:*

*فلا شك في كون هذا الحديث كذبا مختلقا فلا تحل روايته ولا نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم، ولا وجود لهذا الحديث في شيء من كتب السنة البتة*

"Tidak diragukan lagi hadits ini adalah *hadits palsu yang direkayasa orang* (dengan demikian) tidak halal meriwayatkannya dan tidak boleh pula menisbatkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. *Hadis ini tidak pernah dijumpai sama sekali dalam kitab-kitab hadits manapun".*
(Fatawa Syabakah Islamiyah no.140030)

*Keenam,* adapun hadits shahih berikut:

*مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ*

_"Barangsiapa yang melakukan *qiyamul lail dimalam qadar (lailatul qadar)* maka akan *diampuni dosa-dosanya yang telah lewat."*_
[HSR. Bukhari 1901 dan Muslim 1817]

Maka, *hadits diatas bukan menunjukkan adanya shalat khusus dimalam qadar.*

*Bagaimana akan dikatakan ada shalat khusus lailatul qadar sementara sebagaimana telah kami jelaskan terdahulu bahwa *kapan malam persis terjadinya lailatul qadar tidak bisa diketahui melainkan baru pada esok (pagi harinya) dengan melihat tanda-tanda telah terjadinya lailtul qadar di malam tadi.*

*Jadi apa maksud hadits diatas?*

Begini, *kita disunnahkan untuk banyak meningkatkan amal ibadah bahkan i'tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan.* Nah, saat i'tikaf ataupun walau tidak i'tikaf *dianjurkan bagi kita di sepuluh hari Ramadhan itu banyak melakukan amal ibadah sunnah, seperti membaca Al-Quran, dzikir-dzikir syar'i dan sebagainya termasuk salah satunya mengintensifkan shalat malam.*

Jadi ini adalah *shalat malam biasa berupa tahajjud atau shalat sunnah mutlaq dan bukan shalat malam khusus lailatul qadar.* Karena itu dalam situs dorar net disebutkan bahwa maksud hadits di atas adalah:*

*ثم يُبيِّنُ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فضلَ ليلةِ القدرِ، وأنَّ مَن أحيَا هذه اللَّيلةَ المبارَكةَ بالصَّلاةِ وتلاوةِ القرآنِ، غفَر اللهُ له ذنوبَه السَّابقةَ*

*"Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan lailatul qadar, yakni bahwasanya barangsiapa yang menghidupkan malam-malam yang penuh keberkahan ini dengan *melakukan shalat (shalat malam atau shalat sunnah muthlaq -pent)* serta membaca Al-Quran, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lampau".*

Jadi, hadits shahih itu *tidak ada kaitannya dengan shalat khusus lailatul qadar.* Dengan penjelasan ini jelaslah bahwa *shalat khusus lailatul qadar apalagi dengan cara-cara tertentu sebagaimana yang telah ana sebutkan diatas adalah bid'ah yang munkar.*

Berhati-hatilah.!!

*وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم*

*https://dakwahmanhajsalaf.com/2019/06/shalat-khusus-lailatul-qadar.html*

*•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•*

🔰 *MANHAJ SALAF*🔰