Jumat, 20 Januari 2023

Memejamkan Mata Saat Shalat Dan Berdoa

Memejamkan Mata Saat Shalat Dan Berdoa



✍🏻 Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Ada banyak diantara kita yang saat shalat atau berdoa nyaris full dengan mata terpejam. Tidak diragukan lagi ini jelas menyelisihi Sunnah. Beberapa argumentasi yang menunjukkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dalam keadaan mata terbuka dan *dibencinya shalat atau berdo'a dengan mata terpejam.*

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma menceritakan:

رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُصَلِّي بَيْنَ يَدَيْ النَّاسِ

_"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat masjid, sedang beliau dalam keadaan shalat di hadapan manusia"._ [HR. Bukhari no.753]

Hadits di atas jelas menunjukkan *Nabi shalat matanya tidak sambil terpejam* karena beliau sampai bisa melihat dahak. Tidak mungkin beliau bisa melihatnya kalau shalatnya sambil memejamkan mata. Kita pun mungkin semua telah tahu bahwa saat berdiri shalat, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengarahkan matanya ke tempat sujudnya dan saat tasyahud, maka beliau mengarahkan matanya pada ujung telunjuknya sambil membaca doa tasyahud. Ini semua menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu shalat sambil terbuka matanya.

Atas dasar ini maka pada dasarnya, sepakat *para Ulama membenci shalat sambil memejamkam mata,* walau mereka berbeda pendapat kalau hal itu dilakukan karena alasan kekhusyuan. Bahkan diantara Ulama ada yang menyatakan shalat sambil mata terpejam itu *menyerupai ibadahnya Yahudi.*

Perhatikan perkataan dari Ibnu Rajab rahimahullah berikut: "Adapun shalat sambil memejamkan mata, maka para Ulama berselisih pendapat. *Mayoritas Ulama membencinya.* Ini adalah pendapat Abu Hanifah, At Tsuur, Al Laa'its, dan Ahmad rahimahumullah.

Imam Mujjahid rahimahullah mengatakan: *"Memejamkan mata termasuk perbuatan orang Yahudi".* (Fathul Bari VI:443)

Benar, beberapa Ulama membolehkan shalat atau berdoa sambil menutup mata jika itu terjadi sesekali karena ada sesuatu dihadapkannya yang benar-benar akan mengganggu kosentrasinya saat shalat. Tetapi ingat, itu bukan setiap kali shalat atau berdoa selalu memejamkan mata dengan alasan untuk kosentrasi. Tindakan ini jelas *menyelisihi sunnah*.

Berikut beberapa fatwa Ulama dalam masalah memejamkan mata saat shalat atau berdoa,

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: *"Bukan termasuk sunnah Nabi* shallallahu 'alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat". (Zadul Ma'ad 1/283)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata: "Memejamkan mata saat shalat, maka para Ulama telah menyebutkan bahwa hal itu *dibenci.* Kecuali bila ada sebab, seperti di hadapan seseorang yang sedang shalat ada yang menyibukkan atau sinar yang terlalu tajam, maka dalam kondisi semacam ini boleh ia memejamkan kedua matanya untuk menghindari bahaya tersebut.

Adapun dugaan sebagian manusia bahwa dengan memejamkan mata saat shalat itu bisa lebih menimbulkan khusyu, maka saya khawatir itu *jebakan setan* untuk menjerumuskan dia dalam perkara yang dibenci tanpa dia sadari. Sekiranya ia membiasakan dirinya baru dapat khusyu bila shalat sambil memejamkan mata, maka sebenarnya inilah sumber masalah yang menjadikan dia merasa lebih khusyu shalat sambil memejamkan mata dibandingkan shalat sambil membuka kedua matanya". (Majmu Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin XIII:299)

Syaikh bin Baaz rahimahullah berkata: *"Memejamkan mata dalam shalat dibenci dan tidak termasuk dari sunnah,* adapun memejamkan, maka tidak disyari'atkan, bahkan dia dibenci, bahkan sebagian Ahli Ilmu berkata, hal ini termasuk amalan Yahudi". https://binbaz.org.sa/fatwas/15386/

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: "Adapun yang dilakukan sebagian orang yang saat shalatnya memejamkan matanya dalam shalat, maka ini adalah *waro' yang berlebihan".* (Ashlu Shifat Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hal. 233)

Kesimpulan, *biasakanlah shalat atau berdoa dengan mata sambil terbuka.* Membiasakan shalat atau berdoa dengan mata terpejam tanpa ada udzur syar'i dibenci, bahkan sebagian Ulama menyebutnya menyerupai Yahudi.

http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/05/memejamkan-mata-saat-shalat-dan-berdoa.html

•┈┈•••  ❁🌻💠🌻❁  •••┈┈• 

18 SUNNAH DARI SUNNAH - SUNNAH PADA HARI JUM'AT

بِسْمِ الله
18 SUNNAH DARI SUNNAH - SUNNAH PADA HARI JUM'AT


@Mutiara_NasehatMuslimah

➡1. Mandi jum'at, sebagaimana pendapat kebanyakan para ulama (bahkan sebagian ulama berpendapat mandi jum'at adalah wajib bagi yang hendak menghadiri shalat jum'at, pent)

➡2. Memakai minyak wangi

➡3. Memakai pakaian yang terbaik dan terindah, berdasarkan kesepakatan para Ulama (sebagaimana perkataan Ibnu Quddamah rahimahullah)

➡4. Bersiwak

➡5. Bersegera dan datang lebih awal untuk melaksanakan jum'at (sebagaimana pendapat kebanyakan para Ulama)

➡6. Menuju masjid dengan berjalan kaki, bukan dengan menaiki kendaraan, berdasarkan kesepakatan Ulama (sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi).

➡7. Shalat jum'at di masjid yang terdekat dengan tempat tinggal anda

➡8. Berjalan menuju masjid dengan penuh ketenangan

➡9. Memperhatikan dan berusaha mendapatkan waktu yang mustajab untuk berdoa (khususnya di akhir waktu ba'da ashar menjelang maghrib)

➡10. Memperbanyak shalawat atas Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam

➡11. Membaca surat Al-Kahfi

➡12. Mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan khutbah jum'at

➡13. Mendekat dan merapat ke tempat Imam, berdasarkan kesepakatan para ulama (sebagaiaman dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah).

➡14. Mengarahkan wajah kearah khatib ketika ia berkhutbah, berdasarkan Ijma' para Ulama. (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Quddamah rahimahullah).

➡15. Shalat sunnah rawatib setelah shalat jum'at 2 rekaat atau 4 rekaat (dengan dua kali salam).

➡16. Melakukan shalat tathawwu' (shalat sunnah) hingga khatib naik ke mimbar.

➡17. Memberikan wewangian pada masjid dengan bukhur atau sejenisnya, sebagaimana pendapat Jumhur Ulama.

➡18. Dan bersedekah pada hari ini memiliki keistimewaan dibandingkan hari-hari lainnya (sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya 'Zadul Ma'ad').

♨ *PERINGATAN DAN PERHATIAN* ⛔

Beberapa hal yang perlu di hindari, diantaranya:

📌1⃣ Jangan memisahkan antara dua orang (yang duduk berdekatan)

📌2⃣ Jangan melangkahi leher dan bahu-bahu jamaah jum'at yang telah duduk mendahului anda.

📌3⃣ Jangan berbuat hal-hal yang sia-sia, termasuk juga bersiwak atau memainkan biji tasbih atau lainnya ketika khatib sedang berkhutbah.

📌4⃣ Jangan membangunkan saudaramu muslim dari tempat duduknya agar anda bisa duduk di tempatnya.

📌5⃣ Dan apabila anda telah masuk masjid, dan khatib sedang berkhutbah maka janganlah duduk sampai anda melaksanakan dua rekaat ringan  'tahiyatul masjid'.

Demikian, mudah-mudahan bermanfa'at.  Wabillahi at-Taufiiq

📋 Diterjemahkan dari tulisan Syaikh DR. Muhammad bin Abdullah Al-Habdan, حفظه الله تعالى

✒ Oleh: Andri Abdul Halim, Lc. حفظه الله تعال

KEUTAMAAN PAHALA BAGI YANG BERLOMBA-LOMBA MENYEGERAKA KEBERANGKATAN KE MASJID DI HARI JUMAT

🔘•┈┈•••○○❁﷽❁○○•••┈┈•🔘
KEUTAMAAN PAHALA BAGI YANG BERLOMBA-LOMBA  MENYEGERAKA KEBERANGKATAN KE MASJID DI HARI JUMAT

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa mandi pada hari jumat sebagaimana mandi janabah lalu berangkat menuju masjid, maka dia seakan-akan berkurban dengan seekor unta. Barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) kedua, maka dia seakan-akan berkurban dengan seekor sapi. Barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) ketiga, maka dia seakan-akan berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk. Barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) keempat, maka dia seakan-akan berkurban dengan seekor ayam. Dan barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) kelima, maka dia seakan-akan berkurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khotbah), maka para malaikat hadir mendengarkan zikir (khotbah tersebut)." [HR. Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850]

Bagaimana menentukan jam pertama hingga jam kelima?

Yaitu selang waktu dari terbitnya matahari hingga masuknya waktu Zuhur dibagi menjadi 5. Misalnya waktu terbit jam 6 pagi dan waktu masuk Zuhur jam 12 siang. Maka selang waktu antara keduanya adalah 6 jam. 6 jam dibagi 5, maka masing-masing waktu adalah 72 menit atau 1 jam 12 menit.

Sesuai dengan contoh di atas, maka berikut rinciannya:

• Jam pertama: 06.00-07.12 (unta)

• Jam kedua: 07.12-08.24 (sapi)

• Jam ketiga: 08.24-09.36 (domba bertanduk)

• Jam keempat: 09.36-10.48 (ayam)

• Jam kelima: 10.48-12.00 (telur)

[Lihat selengkapnya dalam Syarhul Mumthi' Li Syeikh Ibni Utsaimin]

🔰💫  *ALHAMDULILLAH SUDAH MASUK HARI JUM'AT*

✅ _Mari kita perbanyak bershalawat dan mari kita selesaikan membaca Al Kahfi..._

✅ _Mari jadikan hari jumat kita hidup dengan melaksanakan Sunnah2 di hari Jumat..._

📚 *Berikut ini beberapa amalan istimewa dihari jumat* 📚

1⃣ Membaca surat al-Kahfi pada malam Jum'at. Bila tidak sempat membacanya di malam hari boleh membacanya disiang hari. 
(HR. Ad-Darimi, An-Nasa'i, Al Hakim)

2⃣ Membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan secara sempurna pada dua rakaat shalat Shubuh 
(HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

3⃣ Memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.  
(HR. Abu Dawud)

4⃣ Wajib bagi laki-laki melaksanakan shalat Jum'at. (Lihat: Syarh al-Mumti': 5/7-24)

5⃣ Dianjurkan mandi besar  (HR. Muslim)

6⃣ Memakai wewangian, bersiwak atau menggosok gigi, serta mengenakan pakaian yang paling baik. 
(HR.Ahmad)

7⃣ Berangkat lebih awal menuju masjid. 
(HR. Muttafaqun 'alaih)

8⃣ Saat menunggu kedatangan imam dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan shalat, membaca shalawat, dzikir maupun membaca Al-Qur'an.

9⃣ Dianjurkan mendekat kearah khatib untuk mendengarkan khutbah. 
(HR. Abu Dawud)

🔟 Dianjurkan juga menghadapkan wajah ke arah khotib saat khutbah sedang berlangsung. 
(HR. Abdurrazzaq dan Al-Baihaqi)

1⃣1⃣ Wajib mendengarkan khutbah dengan seksama. Bagi siapa saja yang sibuk sendiri baik dengan bermain kerikil, berbicara, (mengotak-atik hp dll) pada saat khutbah sedang berlangsung, maka jum'atnya sia-sia. 
(Muttafaqun 'Alaih)

1⃣2⃣ Saat masuk masjid disunnahkan mengerjakan shalat dua rakaat terlebih dahulu sebelum duduk mendengarkan khutbah. Hal ini berlaku meskipun khotib sedang menyampaikan khutbah. 
(HR. Muslim)

1⃣3⃣ Setelah menunaikan sholat jum'at disunnahkan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat atau empat rakaat dengan dua kali salam. 
(HR. Muslim)

1⃣4⃣ Berdoa di penghujung hari Jum'at. 
(Muttafaqun 'Alaih)

🔄 _Silahkan dibagikan semoga bermanfaat._

Madinah 10-04-1436 H
📝 Ditulis oleh Ust. Aan Chandra Thalib El Gharantaly حفظه الله تعالى.                                   

✍👥 #SahabatHijrah Ikhwan
✍👥 #SahabatTaat Akhwat

Rabu, 18 Januari 2023

JIKA TUKANG JAGALNYA TIDAK SHALAT

BISMILLAH
JIKA TUKANG JAGALNYA TIDAK SHALAT


Oleh : Syaikh Abdul 'Aziz bin Baaz rahimahullah

Perta
Apakah boleh makan sembelihan orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, dan kalau diberitahu ia beralasan bahwa dirinya masih bersyahadat, bagaimana seharusnya kalau tidak ada jagal yang mendirikan shalat ?

Jawaban :

الذي لا يصلي لا تؤكل ذبيحته ، هذا هو الصواب ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( بين الرجل والشرك والكفر ترك الصلاة ) أخرجه مسلم في صحيحه عن جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما

، وقول الرسول عليه الصلاة والسلام : ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) أخرجه الإمام أحمد وأهل السنن الأربع بإسناد صحيح من حديث بريدة بن الحصيب الأسلمي رضي الله عنه

وقوله صلى الله عليه وسلم : ( رأس الأمر الإسلام وعموده الصلاة ) أخرجه الإمام أحمد والترمذي بإسناد صحيح عن معاذ بن جبل رضي الله عنه

فكل شيء سقط عموده لا يستقيم ولا يبقى ، ومتى سقط العمود سقط ما عليه .

وبذلك يعلم أن الذي لا يصلي لا دين له ، ولا تؤكل ذبيحته ، وإذا كنت في بلد ليس فيها جزار مسلم فاذبح لنفسك ، واستعمل يدك فيما ينفعك ، أو التمس جزارا مسلما ولو في بيته حتى يذبح لك ، وهذا بحمد الله ميسر فليس لك أن تتساهل في الأمر

Orang yang tidak shalat, maka sembelihannya tidak boleh dimakan, inilah yang benar. Hal ini didasarkan pada sabda Rasululah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :

"(Perbedaan) antara seseorang dan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (Hadist Riwayat Muslim dalam shahihnya, dari Jabir bin Abdullah al Anshari radhiyallahu 'anhuma).

Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang lain :

"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir." (Hadist Riwayat Ahmad, dan ahlus sunan yang empat, dengan sanad yang benar dari hadits Buraidah bin al Hushaib al Aslami radhiyallahu 'anhu)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :

"Pangkal segala sesuatu adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat." (Hadist Riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad yang shahih dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu)

Segala sesuatu yang roboh tiangnya, maka akan roboh pula bangunannya.

Oleh karenanya, dapat diketahui bahwa seseorang yang tidak shalat, tidak dianggap beragama, dan tidak boleh dimakan sembelihannya. Dan jika anda berada pada negara yang tidak ada jagal yang muslim, maka sembelihlah sendiri untuk diri anda, gunakan tangan anda untuk hal yang bermanfaat, atau carilah dulu jagal yang muslim meskipun di rumahnya, hingga ia menyembelih untuk anda, hal ini sebenarnya –alhamdulillah- mudah dilaksanakan, maka jangan sekali-kali anda meremehkannya.

(Majmu' Fatawa Syeikh bin Baaz: 10/ 274-276)

Wallahu'alam 

Hadapi setiap hal yang Allah persembahkan dalam hidupmu

ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ
Hadapi setiap hal yang Allah persembahkan dalam hidupmu

Dengan penuh rasa yakin bahwa kamu bisa taat kepada Allah,

Bahwa kamu mampu dengan terus mengharap selalu rahmat dan hidayah-Nya,

Karena pada akhirnya kekuatan itu akan muncul dalam dirimu.

Jangan pernah merasa ditinggalkan atau pun mengeluh, selesaikan saja apa yang telah Allah berikan kepadamu dengan terus bermodalkan yakin, pada akhirnya kamu akan tahu rencana indah-Nya yang luar biasa.

Ketahuilah, Allah tidak akan pernah menjerumuskanmu pada hal yang nantinya akan membuatmu merugi, karena pasti semua yang Allah putuskan untuk kebaikanmu.

Semua yang Allah rangkaikan untukmu, walau itu berupa takdir yang sulit maka pasti bersamanya ada kebaikan yang luar biasa.

Yang Allah berikan kepadamu sebagai takdir akan membuatmu berada pada keberuntungan hidup, walau sekarang kamu harus berjuang terlebih dahulu menghadapinya.

Intinya, yakinlah kepada Allah dengan tanpa ragu sedikitpun, karena selagi hatimu terus saja merasa yakin kepada kekuatan Allah, yakin kepada rencana-Nya, maka disitulah kamu akan selalu tangguh menghadapi yang tadinya rumit menurutmu.

Dan ketika kamu bertanya, kenapa Allah harus memberiku jalan yang begitu rumit? maka disitulah kamu harus mampu berhusnuddzan kepada-Nya, disitulah kamu harus mampu meyakinkan hatimu bahwa inilah cara Allah memberimu kebaikan yang baru.

Allah tahu dengan baik bahwa kamulah yang lebih kuat daripada yang lainnya, sebab itulah mengapa Allah memberimu jalan hidup yang mungkin tidak biasa.

Allah melihat kemampuanmu dengan sangat sempurna, bahkan Allah tahu seperti apa yang mampu kamu hadapi dengan baik, sebab itu mengapa kamu harus percaya saja kepada Allah atas apa yang tengah Allah persembahkan kepadamu, meski itu semua tidaklah mudah.

Jangan pernah kamu meragu, jangan pernah kamu takut, dan jangan pernah kamu merasa berat, karena selagi kamu mengandalkan Allah untuk melalui semuanya maka pasti akan baik-baik saja hingga akhir.

Percayalah kepada Allah, percayalah pada kebesaran-Nya, dan percayalah kepada pertolongan-Nya, karena Allah tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian.
 

ZIKIR-ZIKIR SETELAH SHALAT (SALAM)

ZIKIR-ZIKIR SETELAH SHALAT (SALAM)
_SERI 2 (TERAKHIR)_

_Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du._

Pada pembahasan sebelumnya telah kita sebutkan beberapa zikir setelah salam. Berikut ini akan kita lanjutkan zikir berikutnya.

Setelah membaca:

*اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ*

*• Kemudian membaca tasbih, tahmid, dan takbir* dengan salah satu dari cara berikut ini:

*سُبْحَانَ اللَّهِ (33×) اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33×) اَللَّهُ أَكْبَرُ (33×) لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ*

*Subhaanallaah (33x). Alhamdulillaah (33x). Allaahu akbar (33x). Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamd, wa huwa 'alaa kulli syai-in qodiir.*

_"Maha suci Allah (33x). Segala puji bagi Allah (33x). Allah Maha Besar (33x). Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan bagiNya pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."_ *[HR. Muslim no. 597]*

Atau membaca:

*سُبْحَانَ اللَّهِ (33×) اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33×) اَللَّهُ أَكْبَرُ (34×)*

*Subhaanallaah (33x). Alhamdulillaah (33x). Allaahu akbar (34x).*

_"Maha suci Allah (33x). Segala puji bagi Allah (33x). Allah Maha Besar (34x)."_ *[HR. Muslim no. 596]*

Atau membaca:

*سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ (33×)*

*Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wallaahu akbar (33x).*

_"Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar (33x)."_ *[HR. Bukhari no. 843 dan HR. Muslim no. 595]*

Atau membaca:

*سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ (25×)*

*Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar (25x).*

_"Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar (25x)."_ *[HR. An-Nasa-i no. 1351]*

*Yang afdhal adalah mengucapkan semua cara tersebut, terkadang yang ini dan terkadang yang itu demi menjaga sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.*

*• Kemudian membaca Ayat Kursi 1x:*

*اللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾*

_"Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhlukNya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."_ *[QS. Al-Baqarah: 255]*

HR. An-Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah No. 100 dan Ibnus Sinni no. 121, dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah hadis shahih, 2/697 no. 972.

*• Kemudian membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas setiap selesai shalat fardhu.* [HR. Abu Dawud (no. 1523), An-Nasaai (III/68), dan lainnya]

*• Setelah selesai shalat Subuh membaca:*

*اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*Allaahumma innii as-aluka 'ilman naafi'an, wa rizqon thoyyiban, wa 'amalan mutaqobbalan.*

_"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima."_ *[HR. Ibnu Majah, Ahmd, dan ahli hadis yang lain]*

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: _"(Untuk zikir-zikir setelah shalat ini) tidak ditentuka tempatnya. (Selesai shalat) mereka boleh pergi kemudian berzikir, boleh juga mereka tetap ditempatnya sambil berzikir."_ *[Fathul Baari (II/335)]*

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
https://permatasunnah.com/zikir-zikir-setelah-shalat-salam/

┈┉┉━━━❅❁®❁❅━━━┉┉┈ 

PUNCAK KEINGINAN

PUNCAK KEINGINAN

Keinginan meraih dunia seringkali menjadi yang terbesar dalam hati kita. Karena manusia lebih mengejar sesuatu yang kasat mata. keinginan meraih dunia seringkali mendatangkan kekecewaan dan kegalauan di saat tak dapat meraihnya. Ketika berhasil meraihnya, seringkali membuat lupa dan menimbulkan kecongkakan dan keserakahan. Bahkan tak pernah puas untuk mengumpulkannya. Menjadikan hati miskin dan rakus.

Sedangkan keinginan meraih akherat seringkali dikesampingkan. Padahal ketika hati hanya berharap akherat, ia akan menjadi hati yang kokoh. Ia akan selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya dari kehidupan dunia. Karena ia sadar bahwa kenikmatan dunia hanya sementara dan kelak akan dihisab oleh pemiliknya yaitu Allah Azza Wajalla.

Hati yang menginginkan akherat tak mudah galau dan bersedih hati ketika terluput dari dunia. Ia hanya menggantungkan pengharapannya kepada Sang Pencipta. Ia memandang dunia sebagai sesuatu yang hina. Sehingga ketika dunia mendatanginya, ia tak tertipu bahkan ia khawatir akan beratnya hisab pada hari kiamat. Sungguh indah hati seperti ini.

Inilah rahasia sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ

"Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia yang berhasil diraih hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya."

(Hadits Shahih HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/183), mam ad-Darimi (I/75), Imam Ibnu Hibban (no. 72 dan 73–Mawariduzh Zham'an), Imam Ibnu 'Abdil Barr dalam Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184).

Nabi shallallahu alaihi wasallam selalu memohon kepada Allah agar tidak menjadikan dunia sebagai puncak keinginan dan puncak keilmuannya. Beliau berdoa:

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

"Dan jangan engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak keinginan kami dan puncak pengetahuan kami. Dan jangan Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami sebagai penguasa kami." (HR At Tirmidzi).

sumber WAG SAHABAT SUNNAH