Kamis, 24 Desember 2020

NASIHAT EMAS HASAN AL BASHRI

 NASIHAT EMAS HASAN AL BASHRI

👤 Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan :

تصبروا وتشددوا، فإنما هى ليال تعد، وإنما أنتم ركب وقوف، يوشك أن يدعى أحدكم فيجيب ولا يلتفت، فانقلبوا بصالح ما يحضرتكم

"Sabarkanlah dan kuatkanlah dirimu. Kehidupan dunia hanyalah beberapa malam yang bisa dihitung. Kalian hanyalah kafilah yang sedang singgah. Hampir-hampir salah seorang di antara kalian dipanggil (untuk berangkat) lalu dia memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat menoleh. Kembalilah kalian dengan mengambil bekal yang baik-baik yang ada di sisi kalian.

إن هذا الحق أجهد الناس، وحال بينهم وبين شهواتهم، وإنما يصبر على هذا الحق من عرف فضله وعاقبته

Sesungguhnya kebenaran ini memberatkan manusia dan menghalangi mereka dari syahwat mereka. Orang yang bisa bersabar di atas al-haq (kebenaran) ini hanyalah orang yang mengetahui keutamaan al-haq (kebenaran) dan akibatnya."

______________

📚 Al-Bidayah wan Nihayah 9/272

🌏 Web  shahihfiqih.com/mutiara-salaf/nasihat-emas-hasan-al-bashri/


📘📖........✍🏻 

Minggu, 20 Desember 2020

WANITA AKHIRNYA PAHAM, AGAMA & AKHLAK LAKI-LAKI YANG UTAMA

WANITA AKHIRNYA PAHAM, AGAMA & AKHLAK LAKI-LAKI YANG UTAMA

Pada akhirnya, setelah menikah dan punya anak, wanita akan paham bahwa agama, akhlak dan tanggung jawab laki-laki itu yang paling penting daripada HANYA ganteng, keren, macho, bisa gaya, Tetapi para gadis banyak yang tertipu dan akhirnya menyesal setelah pernikahan

Bisa jadi seperti ini:

Ketika Gadis, ia HANYA PAHAM memilih laki-laki itu karena ganteng, keren, stylist, dikagumi banyak wanita serta romantis

Setelah menikah dan punya anak, barulah PAHAM bahwa TANGGUNG JAWAB itu yang utama

Setelah di akhirat, barulah ia paham bahwa AGAMA & AKHLAK yang paling utama

Karena apabila AGAMA & AKHLAK BAIK, pasti ia akan bertanggung jawab, lalu menjadi suami yang shalih, meskipun wajah pas-pasan akan selalu dipandang gagah oleh istrinya dan selalu dirindukan

CATATAN:

1. Itulah mengapa ketika memilih suami yang jadi patokan utama adalah agama & akhlak

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

"Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan." [HR. At-Tirmidzi no. 1085]

2. Di akhirat nanti ada kasus seorang Istri akan menuntut suaminya karena tidak mengajarkan agama padanya, inilah tafsir ayat berikut:

Allah berfirman,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya". (QS. 'Abasa: 34-37)

Tafsir AL-Qurthubi menjelaskan,

أي تجيء الصاخة في هذا اليوم الذي يهرب فيه من أخيه ; أي من موالاة أخيه ومكالمته ; لأنه لا يتفرغ لذلك ، لاشتغاله بنفسه

"Yaitu ketika datangnya hari kiamat ia akan lari dari saudaranya yaitu lari dari berdekatan dan berbicara dengan saudaranya (keluarga). Ia tidak fokus (terlalu peduli) dengan hal tersebut karena sibuk dengan urusan dirinya." [Tafsir Al-Qurtubi]

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/wanita-akhirnya-paham-agama-akhlak-laki-laki-yang-utama.html

Via HijrahApp 

Sabtu, 19 Desember 2020

Ajarkan tauhid

KETIKA TAUHID SEORANG HAMBA TELAH KUAT

KETIKA TAUHID SEORANG HAMBA TELAH KUAT

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

"Setiap kali tauhid itu menguat dalam hati seorang hamba maka akan kuat pula keimanan, ketenangan, ketawakkalan dan keyakinannya."

Majmu' fatawa' (28/35)

🔖 Telegram: t.me/kendaribertauhid 

Hisab

Sudahkah engkau bersiap mempertanggung jawabkan semuanya?⁠
Sudahkah engkau menyiapkan jawaban ketika Allah bertanya nanti?⁠

Kenapa begini dan kenapa begitu?⁠

Engkau tidak akan bisa mengelak, engkau tidak akan bisa beralasan...⁠

Anggota tubuh nanti akan bersaksi, mata apa yang ia lihat, kaki kemana ia melangkah, dan seterusnya...⁠

Ya Allah ⁠

اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا⁠

Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah)⁠

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita hidayah...⁠
-----⁠
Dengarkan radio muslim di www.radiomuslim.com
.

Senin, 14 Desember 2020

Semua masalah pasti ada jalan keluarnya

SEMUA MASALAH PASTI ADA JALAN KELUARNYA
Setiap manusia pernah mengalami atau mendapatkan musibah.
Tapi, tak jarang kita malah mengeluh terhadap musibah tersebut, tanpa kita sadari bahwa musibah tersebut juga merupakan nikmat yang besar.
Dan sudah sepatutnya kita bersyukur dan bersabar saat ditimpa musibah.

Mengapa demikian?
Mari kita simak hadist dari Anas bin Malik,
beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat.
Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka.
Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka."
*(HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani)*

Dari hadist di atas hal yang harus kita pamahi, dengan adanya hal itu yang dapat meninggikan derajat seorang Muslim di sisi Allah.
Selain itu, ujian ini juga sebagai tanda cinta Allah kepada hambaNya, yang menunjukkan kualitas keimanan hamba tersebut.
Musibah yang didapat juga sebagai pembersih dosa di dunia, artinya jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba,
Dia akan segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah yang ia tidak suka sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa.
Sehingga, kita juga harus bersyukur saat Allah memberi kita musibah.

Selanjutnya, saat mendapatkan musibah, Allah juga akan memberikan pahala yang besar kepada hambaNya,
apabila ia ridho terhadap ketetapan Allah tersebut dengan sabar.

Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan,
"Hadits di atas adalah dorongan untuk bersikap sabar dalam menghadapi musibah setelah terjadi dan bukan maksudnya untuk meminta musibah datang karena ada larangan meminta semacam ini."

Semoga Allah memberikan kita taufiq agar bisa sabar saat mendapatkan ujian dan kita tidak lagi mengeluh terhadap cobaan tersebut.
Wallahu a'lam.

Kamis, 10 Desember 2020

KEMULIAAN SEORANG HAMBA TERLETAK PADA IBADAHNYA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

KEMULIAAN SEORANG HAMBA TERLETAK PADA IBADAHNYA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA

Oleh: Syaikh Hudzaifi hafizhahullah

Sesungguhnya kemulian seorang hamba terletak pada ketaatannya menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala ; Kekuatan seorang Muslim, terletak pada rasa tawakkalnya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Rasa berkecukupannya, terletak pada keistiqamahannya berdoa memohon semua hajatnya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Keselamatannya, terletak pada baiknya kwalitas shalat yang ditunaikan; Bagusnya kesudahan, terletak pada ketaqwaannya kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala ; Kelapangan dada atau kebahagiannya, terletak pada baktinya kepada orang tua, silaturrahmi, dan berbuat baik kepada makhluk. Ketenangan hatinya, terletak pada dzikirnya kepada Allâh Azza wa Jalla yang Maha Pemberi Nikmat. Keteraturan dan keistiqâmahan mereka, terletak pada ketaatannya menjalankan syariat dan meninggalkan yang diharamkan, seraya menyerahkan semua perkara kepada Sang Pencipta yang Maha Mengatur, dan menyelesaikan perkerjaan tepat waktu, tidak menunda dan bermalasan.

Sebaliknya, kerugian serta kehinaan seorang hamba, terletak pada kecondongan dan kecintaannya kepada dunia, lupa terhadap kehidupan akhirat, serta berpaling dan tidak melaksanakan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ﴿٧﴾ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. [Yûnus/10:7-8].

Firman-Nya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang dosa." [s-Sajadah/32:22].

Sungguh Allâh Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan banyak pelajaran pada kisah ummat-ummat terdahulu. Allâh Subhanahu wa Ta'ala telah memberi mereka umur panjang, mengalirkan sungai-sungai buat mereka, memberi kemampuan sehingga bisa membangun istana; Mereka diberi kekuatan fisik, pendengaran, dan penglihatan. Allâh kokohkan mereka di muka bumi, dan memudahkan bagi mereka segala sebab, akan tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

"Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. [al-Ahqâf/46:26].

Ketahuilah, bahwa semua kebaikan terkumpul pada ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala . Ibadah yang sesuai dengan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam dibarengi rasa ikhlas serta cinta kepada Allâh dan Rasul-Nya. Seseorang tidak akan mendapatkan ridha Allâh Subhanahu wa Ta'ala , tidak akan masuk surga, dan tidak akan bahagia di dunia dan setelah meninggalnya, kecuali dengan ibadah kepada Allâh. Dan untuk ibadah inilah, Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk-NyaBaca Juga   Adakah Isi Dan Kulit Dalam Ajaran Islam?

Salah satu bentuk kasih sayang Allâh kepada hamba-Nya dan kedermawanan-Nya yang luas adalah Allâh Azza wa Jalla mensyariatkan berbagai ibadah kepada semua hamba yang sudah baligh dan berakal sehat agar mereka bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengannya. Allâh Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan waktu-waktu yang pahala ibadah padanya berlipat ganda agar mereka memperbanyak kebaikan. Jikalau Allâh tidak menyampaikan, niscaya mereka tidak mengetahuinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "…serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [al-Baqarah/2:151]

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk mendekatkan diri dengan ibadah. Saat sebagian mereka tidak mampu melakukannya, maka Allâh membukakan pintu-pintu ketaatan lainnya. Allâh syariatkan ibadah yang sejenis dengan ibadah yang tidak mampu mereka lakukan, agar setiap hamba mendapatkan kemulian ketaatan dan pahala ibadah-ibadahnya. Seperti, seseorang yang tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya, maka Allâh mensyariatkan kepadanya untuk berdoa, bersedekah, dan juga berhaji atas nama mereka berdua, kemudian menyambung silaturahmi mereka, memuliakan kawan-kawan mereka. Dan barang siapa yang berjumpa dengan kedua orang tuanya kemudian mereka meninggal dunia, maka ia tetap wajib berbakti kepada keduanya.

Begitu pula, orang yang tidak mampu bersedekah maka hendaklah ia bekerja untuk kemaslahatan pribadinya kemudian bersedekah dengan hasilnya. Dari Sa'id bin Abi Burdah, dari bapaknya dan dari kakeknya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجِدْ ؟ قَالَ : يَعْتَمِلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ قَالَ : يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ . قَالَ : قِيلَ لَهُ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ قَالَ : يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوِ الْخَيْرِ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ ؟ قَالَ : يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ

"Wajib bagi setiap muslim bersedekah," kemudian dikatakan kepada beliau: "Bagaimana seandainya ia tidak mampu?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya untuk kemaslahatannya, kemudian ia bersedekah," dikatakan lagi kepada beliau, "Kalau ia masih belum mampu?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dia bisa membantu orang yang membutuhkan." Dikatakan lagi, "Bagaimana kalau masih belum mampu?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Dia bisa memerintahkan kepada yang ma'ruf atau kebaikan." Ada yang berkata, "Bagaimana kalau ia tidak bisa melakukannya?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dia menahan diri dari keburukan. Itu adalah sedekah". [Riwayat Muslim].

Sedangkan untuk mereka yang belum mampu berhaji dan berumrah, mereka masih bisa meraih pahala kedua ibadah besar itu dengan ibadah yang lain. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ»، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «تَامَّةٍ، تَامَّةٍ، تَامَّةٍ

"Barangsiapa shalat Shubuh secara berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allâh sampai terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka dia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah" Perawi mengatakan, "Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sempurna, Sempurna, Sempurna!"Baca Juga   Manusia Senantiasa Berdampingan Dengan Fitnah

Juga bagi mereka yang belum mampu menunaikan ibadah haji, maka disyariatkan baginya puasa Arafah. Dalam hadits disebutkan bahwa puasa Arafah menghapus dosa, setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Disyariatkan juga baginya untuk berkurban, maka dengan ini ia telah menyamai jamaah haji di Arafah dan kurban. Allâh Azza wa Jalla juga mensyariatkan untuk taqarrub kepada-Nya dengan berbagai ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu , beliau berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tiada hari yang lebih Allâh cintai amal shalih padanya selain amalan pada hari-hari ini," maksudnya sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah. Perawi hadits ini mengatakan, 'Para sahabat bertanya, 'Tidak pula jihad, wahai Rasûlullâh?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidak pula jihad fi sabilillâh, kecuali seorang laki-laki yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali dengannya sedikitpun.' [HR. al-Bukhâri]

Pada hari-hari yang penuh keutamaan, diantaranya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah nanti, dzikir merupakan amalan yang paling afdhal, dan ibadah yang paling mulia. Dulu, para salafush-shalih mengeraskan suara mereka untuk berdzikir kepada Allâh pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Begitulah Umar bin Khaththab dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma keluar ke pasar seraya bertakbir, kemudian para sahabat ikut bertakbir bersama mereka.

عن عبد الله بن بسر – رضي الله عنه – أنَّ رجلًا قَالَ: يَا رسولَ الله، إنَّ شَرَائِعَ الإسْلامِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ: لا يَزالُ لِسَانُكَ رَطبًا مِنْ ذِكْرِ الله

Dalam hadits Abdullah bin Yusr Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Ada seorang lelaki yang berkata, 'Ya, Rasûlullâh! Sesungguhnya syariat Islam telah banyak, maka beritahukanlah kepadaku ibadah yang akan aku lakukan terus," Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allâh." [HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani] 
Adapun sebaik-baik dzikir ialah membaca al-Qur`ân al-Karim. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. [al-Ahzab/33:41-42].

Akhirnya, kita berdo'a kepada Allâh Azza wa Jalla , semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Karena hanya dengan hidayah dan pertolongan dari-Nya kita bisa beribadah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 ]

sumber: https://almanhaj.or.id/4146-kemuliaan-seorang-hamba-terletak-pada-ibadahnya-kepada-allah-subhanahu-wa-taala.html

Via HijrahApp 

ᴊᴀɴɢᴀɴ ᴋᴀᴛᴀᴋᴀɴ : ᴍᴀᴀғ sᴀʏᴀ ᴍᴜsʟɪᴍ sᴀʏᴀ ᴛɪᴅᴀᴋ ᴍᴇʀᴀʏᴀᴋᴀɴ ɴᴀᴛᴀʟ & ᴛᴀʜᴜɴ ʙᴀʀᴜ

ᴊᴀɴɢᴀɴ ᴋᴀᴛᴀᴋᴀɴ : ᴍᴀᴀғ sᴀʏᴀ ᴍᴜsʟɪᴍ sᴀʏᴀ ᴛɪᴅᴀᴋ ᴍᴇʀᴀʏᴀᴋᴀɴ ɴᴀᴛᴀʟ & ᴛᴀʜᴜɴ ʙᴀʀᴜ

#Bismillah...
Ini adalah ucapan bathil dan merendah kepada agama kekafiran, apakah ketika engkau tidak merayakan hari kekafiran mereka berarti engkau berada dalam kesalahan sehingga engkau meminta maaf!

Katakan kepada mereka:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Untuk kalian agama kalian,
untuk kami agama kami"
[Al-Kafirun 6]

Barokallahufiikum..

```___✒️📚Za_``` 

Rabu, 09 Desember 2020

Ancaman bagi yang suka ganggu tetangga

Di antara bukti bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada sesama, terutama kepada orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita, di antaranya tetangga. Hubungan tetangga menjadi penting, karena tetangga memiliki hak yang lebih dibandingkan lainnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 
Bahkan, jika seseorang yang rajin shalat malam dan berpuasa sunnah tetapi selalu mengganggu tetangganya, ia mendapat ancaman dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 
Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya".
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka".
Para sahabat lalu berkata, "Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardu dan bersedekah dengan gandum, tetapi ia tidak mengganggu tetangganya".
Beliau bersabda, "Dia adalah dari penduduk surga." (Sahih) Lihat Ash Shahihah (190).
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 
Semoga nasihat ini bisa bermanfaat agar kita bisa benar-benar berbuat baik pada tetangga kita.
-
Yuk follow & like
👉🏻 Muslim My Way
👉🏻 Rumaysho TV
👉🏻 Fanpage Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 
#rumaysho
#rumayshocom
#ustadzabduhtuasikal
#rumayshoTV


♻️ Reshared @kajianwestcovina

Selasa, 08 Desember 2020

BANYAK YANG TIDAK LULUS DENGAN UJIAN KEKAYAAN

BANYAK YANG TIDAK LULUS DENGAN UJIAN KEKAYAAN

Sebagaimana kita ketahui bahwa ujian itu bisa berupa kebaikan dan keburukan, bisa berupa kekayaan dan kemiskinan. Sebagaimana firman Allah,
.
_"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian/ftinah."_ *(Al-Anbiyaa: 35)*
.
Ternyata banyak yang tidak lulus dengan ujian yang diberikan berupa kekayaan. Buktinya adalah *MAYORITAS PENDUDUK SURGA ADALAH ORANG MISKIN*. 
.
Berarti banyak orang kaya yang tidak lulus ujian kekayaan dan orang miskin banyak yang lulus. Orang kaya juga banyak yang tertahan (lama hisabnya) untuk masuk surga.
.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
.
_"Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka."_ [1]
.
▪️ *_Mengapa demikian?_*

Karena orang kaya merasa cukup dengan hartanya sehingga kurang merasa butuh Allah apalagi ditambah dengan kesombongan akan hartanya.
.
Syaikh Al-'Utsaimin menjelaskan hadits ini,
.
_"Orang kaya merasa dirinya sudah cukup dengan hartanya sehinga mereka sedikit beribadah dibandingkan orang miskin."_ [2]
.
Inilah maksud Ayat bahwa manusia akan melampui batas ketika merasa berkecukupan dengan hartanya.
.
_"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup"_. *(Al 'Alaq: 6-8)*
.
▪️ *_Apakah tidak boleh Kaya ?_*

Tentu tidak, bahkan jika memang ia bisa menjadi kaya, maka jadilah orang kaya dan tidak lupa gunakan kekayaan itu untuk membantu agama Allah dan menolong sesama manusia. 
.
▪️ *_Yang perlu diingat_*:
.
_*"Semakin kaya semakin dermawan, bukan semakin meningkatkan gaya hidup"*_
.
*Wallahu a'lam*
.
_Selengkapnya:_


Penyusun: Raehanul Bahraen
#selfreminder

┈┉┉━━━❅❁®❁❅━━━┉┉┈

ENGKAU LEBIH “CANTIK” BERCADAR [MENGANGKAT KEKHAWATIRAN DAN BELUM SIAPNYA WANITA UNTUK MEMAKAI CADAR]


ENGKAU LEBIH "CANTIK" BERCADAR [MENGANGKAT KEKHAWATIRAN DAN BELUM SIAPNYA WANITA UNTUK MEMAKAI CADAR]

Alhamdulillah, belakangan ini cadar dan purdah mulai tidak asing lagi di beberapa tempat di negeri kita. Sekarang sudah menjadi pemandangan biasa wanita keluar lengkap dengan seperangkat pakaian yang serba besar dan menutup aurat secara sempurna. Para wanita penggenggam bara  api kini tidak perlu resah lagi ketika keluar rumah, karena kita lihat wanita bercadar di tempat-tempat umum seperti pasar, kampus, kantor dan pusat kegiatan lainnya. Mereka tidak lagi merasa sendiri dan terasing dengan pakaian kemuliaan mereka.

Alhamdulillah juga, fase-fase sulit telah lewat. Dimana cadar dan purdah identik dengan terorisme dan bom. Sehingga image yang berkembang di masyarakat bahwa cadar adalah pakaian istri teroris. Menyulitkan wanita-wanita yang menyelamatkan pandangan para lelaki dari panah iblis. Diskriminasi, razia, periksa KTP sampai penggerebekan di rumah dialami oleh mereka. Ini karena perbuatan orang-orang yang hanya punya semangat dalam beragama tetapi tidak berlandaskan ilmu. Bom dan jihad seperti yang mereka agung-agungkan bukan ajaran Islam. Sumber ajaran mereka adalah paham takfiriy, yaitu mudah mengkafirkan orang lain sehingga jika sudah kafir maka halal darah dan hartanya. Berkat perjuangan para da'i dan aktifis dakwah akhirnya image tersebut hilang.

Bahkan cadar telah menjadi tren. Kami rasa dampak dari sebuah film yang sangat  booming yaitu film "ayat-ayat cinta" dimana di sana diceritakan ada sebuah tokoh wanita bidadari dunia yang hampir sempurna. Ia menggunakan cadar. Maka kebiasaan masyarakat kita yang latah ramai-ramai mengikutinya. Film dan sinetron yang lainnya ikut meramaikan dengan tokoh utamanya adalah wanita cantik yang bercadar. Para wanita mulai bergaya dengan selendang tipis menutup muka walaupun sekedar bergaya. Akun jejaring sosial ramai dengan gambar wanita bercadar atau sekedar kartunnya.

Mengenai hal ini, sangat patut disyukuri. Walaupun film tersebut ada yang bilang untuk berdakwah juga. Tetapi cara berdakwah seperti ini kurang tepat. Karena di sana ada campur baur laki-laki dan wanita, membuka aurat, bermesraan dan menyentuh dengan bukan mahram dan lain-lain. Bagaimana kita berdakwah kepada Allah dengan cara yang tidak diperkenankan oleh Allah.  Lho, tapi kan berhasil, buktinya cadar jadi populer di masyarakat. Kami tidak heran karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

وَأَنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

"Terkadang/boleh jadi Allah menolong agama ini dengan orang yang fajir/pelaku maksiat" [HR. Bukhari 4/72 no.3062 dan Muslim 1/105 no.111]

Kita tidak perlu kaget dengan hadits ini, karena bahkan terkadang Allah menolong agama ini dengan orang kafir seperti Abu Thalib paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Ibnu Batthal rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini,

وقوله: (إن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر) يشتمل على المسلم والكافر،

فيصح أن قوله: (لا نستعين بمشرك) خاص فى ذلك الوقت

"Sabda beliau, 'Terkadang/boleh jadi Allah menolong agama ini dengan orang yang fajir alias pelaku maksiat', mencakup orang muslim dan orang kafir, sabda beliau shohih yaitu 'kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang musyrik", maka hadits ini khusus pada waktu tersebut [tidak bertentangan, pent]" [Syarh Shahih Bukhari libni Batthal 5/222, Maktabah Ar-Rusyd, cet. Ke-2, 1432 H, Asy-Syamilah]

Ibnu Hajar Al-Asqolaniy rahimahullah menjelaskan hadits ini,

جزم بن المنير والذي يظهر أن المراد بالفاجر أعم من أن يكون كافرا أو فاسقا

ولا يعارضه قوله صلى الله عليه وسلم إنا لا نستعين بمشرك

"Ibnul Munir menegaskan bahwa pendapat terkuat yang dimaksud Al-fajir adalah lebih umum dari kafir atau fasik dan tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam 'kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang musyrik." [Fahtul Baariy 7/474, Darul Ma'rifah, Beirut, Asy-Syamilah]

Tulisan mengenai cadar ini kami bagi menjadi empat bagian:

1. Yang perlu diketahui tentang cadar
2. Yang dikhawatirkan wanita jika bercadar dan jawabannya
3. Motivasi untuk memakai cadar
4. Yang perlu diperhatikan jika sudah bercadar

I. Yang perlu diketahui tentang cadar

Hukum Cadar

Ada perselisihan yang panjang diantara ulama, ringkasnya ada dua hukum cadar yaitu:

1. wajib

Inilah pendapat  As-Suyuthi dan Ibnu Hajar Al-Asqolaniy. Sedangkan ulama sekarang yang mewajibkan adalah Syaikh Muhammad As-Sinqithi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Mushthafa Al-Adawi.

2. sunnah

Menurut madzhab Syafi'i, Imam Malik dan Abu Hanifah, hukum menutupi wajah itu sunnah. Ini juga pendapat ulama seperti Ibnu Hazm dan Ibnu Batthal. Adapun ulama sekarang adalah syaikh Al-Albani dan beliau membahas panjang lebar dalam kitab beliau Jilbab Al Mar'ah Al Muslimah.

Kita tidak bermaksud mentarjih mana yang lebih kuat, akan tetapi pengalaman kami bertemu dengan para ustdaz di Indonesia ketika dauroh-dauroh sebagian besar berpendapat bahwa hukum cadar adalah sunnah. Dan kami pun lebih mutmainnah[tenang] terhadap pendapat yang sunnah.

Akan tetapi yang terpenting adalah jangan sampai berpecah belah dan saling menyalahkan hanya karena masalah ini. Karena ini adalah ikhtilaf mu'tabar [terangggap]. Masing-masing punya dalil yang kuat. Kita harus menghormati pendapat orang lain.

Cadar bukan tolak ukur keshalihahan wanita

Sebagian beranggapan bahwa wanita yang sudah memakai cadar adalah pasti wanita yang sangat shalihah. Seperti wanita yang bercadar pasti pintar menjaga diri, ngajinya bagus dan pasti taat pada suami. Memang jika sebagian besarnya. Tetapi jangan dijadikan tolak ukur. Ini belum tentu karena tetap saja tolak ukurnya adalah akhlak dan takwa.

Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian" [QS. Al Hujurat: 13]

Bahkan ada yang beranggapan bahwa cadar adalah tolak ukur sudah ahlus sunnah atau belum, menjadi tolak ukur akhwat "ngaji" atau tidak. Ini adalah anggapan yang salah. Karena hukum asal seseorang adalah ia ahlus sunnah wal jama'ah kemudian dilihat bagaimana pemikiran dan manhaj/metodologi beragama yang ia tempuh, apakah sesuai dengan pemahaman salafus shalih atau tidak.

Sehingga kurang tepat jika ada wanita yang memandang kurang shalihah wanita yang belum bercadar, atau terkadang meremehkannya kemudian berkomentar,

"Sudah lama ngaji kok belum pakai cadar, apa dia ga tahu keutamaan bercadar."

Padahal bisa jadi, ia beranggapan sunnah kemudian ada penghalang. Dan bisa jadi ia punya amalan lain yang lebih banyak dan lebih ikhlas. Begitu juga dengan curhat seorang ikhwan kepada kami tentang perkataan orang-orang,

"Istri antum belum ngaji ya, kok nggak pakai cadar?"

Jelas ini adalah anggapan keliru dan perlu kita luruskan bersama.

Jangan kaku dan memaksa memakai cadar

Ini bagi mereka yang berkeyakinan bahwa cadar adalah sunnah. Jika belum mampu memakai cadar maka jangan memaksakan diri. Misalnya larangan keras dari orang tua dan keluarga. Masyarakat di sekitar belum menerima cadar. Cadar adalah suatu hal yang sangat asing dan masih dianggap pakaian istri teroris. Walaupun ia sudah menjelaskan dengan cara yang lembut dan baik lagi bijaksana. Akhirnya ia dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat kemudian putus silturahmi. Maka dalam kondisi seperti ini jangan memakai cadar. Walaupun niatnya melakukan sunnah karena berlaku kaidah

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

"Menolak mafsadat didahulukan daripada mendatangkan mashlahat"

Jika ia memakai cadar maka mendatangkan mashlahat yaitu melaksanakan sunnah, jika ia tidak pakai cadar maka menolak mafsadat yaitu tidak ridhanya orang tua, dikucilkan dan putusnya silaturahmi. Maka dengan kaidah ini ia wajib menolak mafsadat dengan tidak memakai cadar. Selain itu hukum wajib  ridha orang tua didahulukan dari hukum sunnah memakai cadar.

Akan tetapi kasus seperti ini sangat jarang sekali kita temui, yang ada adalah keluarga yang tadinya keras dan sangat anti cadar akhirnya luluh dengan dakwah lembut dan bijaksana dari akhwat tersebut. Sejak memakai cadar ia semakin berbakti kepada orang tua, semakin rajin, semakin ramah terhadap orang lain,  IPK meningkat dan semakin menunjukkan perubahan ke arah positif. Beberapa banyak tempat yang dulunya anti cadar sekarang cadar adalah menjadi hal yang biasa. Oleh karena itu harus tetap bersemangat mendakwahkah sunnah yang satu ini.

Terkadang memakai cadar dan terkadang tidak memakai cadar

Anggapan bahwa jika memakai cadar maka harus memakai cadar seterusnya adalah keliru. Ini jika meyakini sunnahnya. Jika tidak bisa memakai cadar seterusnya maka tidak ada salahnya jika selang-seling memakainya. Memakainya di tempat dan suasana yang mendukung dan melepasnya di tempat dan suasana tidak mendukung. Misalnya,

-jika di lingkungan keluarga dan kerabat dilarang oleh orang tua, maka silahkan dilepas. Tetapi ketika keluar rumah silahkan memakainya.

-jika di kampus atau di kantor dilarang memakainya, maka silahkan dilepas. Tetapi ketika ke pasar dan ke tempat kajian silahkan memakainya.

Karena Islam mengajarkan tidak perlu menunda sesuatu karena ingin sempuna sekali. Jika hanya bisa meraih setengahnya maka jangan ditinggalkan semuanya. Sesuai dengan kaidah fiqhiyah,

ما لا يدرك كله لايترك كله

"sesuatu yang tidak bisa dicapai seluruhnya jangan ditinggal seluruhnya"

Banyak jalan menuju surga

Jika ingin memakai cadar tidak mesti memakai cadar lengkap dengan purdahnya, kemudian memakai pakaian serba besar berwarna hitam. Karena tujuan cadar adalah menutup wajah yang merupakan salah satu bagian yang paling dinikmati oleh laki-laki, maka apapun yang digunakan untuk menutup muka maka boleh-boleh saja.

Misalnya slayer dan masker penutup muka. Para wanita bisa menggunakan slayer untuk menutup wajah mereka. Sehingga hampir mirip fungsinya dengan cadar. Dan kesan orang  memakai slayer tentu berbeda kesan orang memakai cadar. Karena slayer sudah dianggap biasa di masyarakat kita. Akan tetapi fungsinya hampir sama dan bisa diniatkan untuk melaksanakan sunnah, yaitu menutup wajah.

Cadar bukan sekedar budaya Arab

Banyak sekali dalil dari Al-Quran dan sunnah menunjukan bahwa menutup wajah dengan cadar adalah ajaran Islam. Salah satunya firman Allah subhanahu wa ta'ala,

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ

ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [ Al Ahzab: 59]

Di dalam Kitab Tafsir Jalalain, karya Jalaluddin ibn Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ibn Abi Bakrin as-Suyuthi rahimahumallahu dijelaskan,

وَهِيَ الْمُلَاءَة الَّتِي تَشْتَمِل بِهَا الْمَرْأَة أَيْ يُرْخِينَ بَعْضهَا عَلَى الْوُجُوه إذَا خَرَجْنَ لِحَاجَتِهِنَّ إلَّا عَيْنًا وَاحِدَة

"Pakaian besar yang menutupi perempuan, yaitu menjulurkan sebagiannya ke atas wajah-wajah mereka ketika keluar untuk suatu keperluan hingga tidak menampakkannya kecuali hanya satu mata saja." [Tafsir Al-Jalalain hal. 437, Darus salam, Riyadh, cet. Ke-2, 1422 H]

Dan masih banyak sekali dalil yang lainnya.

Ajaran islam menutup wajah sudah ada di Indonesia sejak dulu

Contohnya adalah di daerah kami, khususnya Bima dan Dompu provinsi NTB, yaitu apa yang dikenal dengan rimpu,adalah  sejenis kain yang dilipat sedemikian rupa hingga menutup semua kepala dan wajah kecuali mata. Dan ini karena pengaruh Islam.


Begitu juga kami mendengar ada di suku-suku  Sumatera yang memiliki budaya menutup wajah. Dan tentunya ini adalah pengaruh ajaran Islam.

Di Eropa juga demikian, dahulunya wanita bangsawan dan anggota kerajaan memakai cadar lengkap dengan purdahnya, tidak heran karena masih ada sisa-sisa ajaran samawi yang masih agak murni. Maka kita akan terkaget-kaget membaca dan melihat gambarnya karena sungguh sangat berbeda dengan Eropa sekarang.


Kemudian kami bawakan fatwa ulama sebuah wadah dakwah yang cukup berpengaruh di Indonesia dan sudah eksis sebelum kemerdekaan, yakni tentang membuka wajah pada wanita.

MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA

Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang

Hukum keluarnya wanita dengan terbuka wajah dan kedua tangannya

Pertanyaan : bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah haram atau makruh? Kalau dihukumkan haram, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi darurat, ataukah tidak? (surabaya)

Jawaban :

hukumnya wanita keluar yang demikian itu haram, menurut pendapat yang mu'tamad (yang kuat dan dipegangi – penj ). Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.

Sumber :

Ahkamul Fuqaha, Solusi problematika hukum islam, keputusan muktamar, munas, dan konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 m), halaman123-124, pengantar: Rais 'Am PBNU, DR.KH.Ma Sahal Mahfudh; lajnah ta'lif wan nasyr (ltn) NU Jatim dan Khalista, cet.iii, Februari 2007

Bagi yang berdakwah dan berpegang teguh dengan ajaran NU, silahkan menggunakan fatwa ini.

II. Yang dikhawatirkan wanita jika bercadar dan jawabannya

Cadar meyebabkan dirinya menjadi wanita yang terbatas dan tertutup dari masyarakat

Ini tidak benar karena masalah tertutup dari masyarakat adalah tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat. Memakai cadar dan purdah tidak mengharuskan menutup diri dari masyarakat. Tidak boleh keluar rumah, tidak boleh menghadiri acara dan kegiatan  [boleh, asalkan kegiatannya sesuai dengan Islam], kemudian haram sama sekali berbicara dengan laki-laki asing sehingga tidak boleh berbicara dengan sepupu laki-laki, kepada suami bibinya dan lain-lain.

Maka ini adalah anggapan yang keliru. Karena Islam malah mengajarkan kita untuk berinteraksi dengan masyarakat dengan berhias akhlak yang baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

"Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." [HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu 'Isa At Tirmidzi berkata, hasan shahih]

Jika ada acara khitanan, kelahiran dan lain-lain maka, wanita bercadar bisa berada di barisan terdepan dalam membantu tetangga dan saudaranya. Memasak dan menyiapkan kegiatan tersebut. Dan kemudahan teknologi komunikasi zaman sekarang memudahkan mereka berinteraksi walaupun sekedar dari rumah. Mengucapkan selamat, menanyai kabar dan lain-lainnya.

Wanita  boleh keluar dari rumahnya jika ada keperluan, tidak ada yang mengharamkan. Mengenai berbicara dengan bukan mahram maka bukan tidak boleh sama sekali, boleh jika memang ada keperluan asalkan memperhatikan adab dan aturan Islam.

Berikut fatwa ketua Lajnah Daimah [MUI Arab Saudi] syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

هل يجوز للمرأة أن تكلم الأجانب عن طريق الهاتف، جزاكم الله خيراً.

وهل هناك من شروط معينة تودون بيانها؟ جزاكم الله خيراً

Pertanyaan: Bolehkah seorang wanita berbicara dengan laki-laki bukan mahrom via telepon. Jazakallah khair. Adalah syarat tertentu yang membolehkan hal tersebut, jazakallahu khair?

لا حرج في تكليم أهل الرجل من طريق الهاتف إذا كان في مصلحةٍ شرعية،

أو أمرٍ مباح كالسؤال عن العلم، أو سؤاله عن مريض، أو

عن سؤاله عن صحته، أو عن شيءٍ مهم لا بأس بذلك

Jawaban: "Tidak mengapa seorang wanita berbicara dengan laki-laki via telepon jika memang ada maslahat yang syar'i, atau ada urusan yang sifatnya mubah seperti bertanya perihal agamanya, atau mungkin bertanya tentang kondisinya sakit ataukah sudah sehat. Hal-hal semacam itu tidaklah mengapa.

أما إذا كانت المكالمة للمغازلة كما يقولون، ولأسباب الفتنة، والدعوة إلى الفاحشة،

أو ما يجر إلى الفاحشة هذا لا يجوز، الواجب على المرأة أن تحذر ذلك،

وعلى الرجل أن يحذر ذلك، ليس للرجل أن يكلم النساء لهذا الغرض،

وليس للمرأة أن تكلم الرجال لهذا الغرض، بل هذا يجر إلى شرٍ كثير وفسادٍ عظيم

Adapun jika berbicaranya adalah bermesra-mesraan yang menimbulkan fitnah (godaan bagi si pria), atau mengajak pada perbuatan bejat (zina), atau sebagai sarana menuju perbuatan yang dimurkai, maka tidak dibolehkan. Seorang wanita haruslah berhati-hati akan hal ini. Begitu pula dengan si pria perlu juga menjaga diri dari hal semacam ini. Janganlah sampai laki-laki berbicara dengan wanita via telepon untuk tujuan semacam ini, begitu pula si wanita. Bahkan hal semacam ini bisa mengantarkan kepada kerusakan yang banyak dan teramat bahaya.

، أما كونها تكلم زوج أختها، أو ابن عمها تسأل عن صحته، أو صحة أولاده،

أو صحة والدته، أو أبيه، أو عن حاجةٍ تسألها عنه، شراء حاجة،

أو يبيع حاجة، أو ما أشبه من الأمور التي ليس فيها شبهة، ولا ريبة ولا شر فلا حرج في ذلك

Adapun jika si wanita tadi berbicara dengan suami dari saudara perempuannya, atau berbicara kepada anak pamannya, ia menanyakan kesehatan mereka, kesehatan anak mereka, kesehatan ayah mereka, atau pada perkara yang ada hajat untuk ditanyakan, atau pada urusan jual beli yang urgent, selama itu tidak mengandung syubhat dan kejelekan maka tidaklah mengapa.


Dan tidak mengapa misalnya wanita berbicara kepada laki-laki yang menjual barang dagangannya, asal sebatas keperluannya. Dan perlu diingat juga, jika meyakini hukumnya hanya sunnah kemudian terkadang memakainya dan terkadang melepasnya. Maka tidak akan ada lagi kesan tertutup.

Takut celaan manusia bahwa ia ekstrim dalam agama dan merasa malu

"Nak, ber-Islamlah biasa-biasa aja, pakai jilbab yang lebar biasa, ga usah ekstrim seperti itu, pakai tutup muka, nanti kamu tertutup, ibu malu dengan teman-teman Ibu, kamu dikira sombong, ga mau berinteraksi"

Ini sedikit sindrian bagi mereka yang memakai cadar. Tidak sedikit wanita penggenggam bara api akan mendapat celaan, bahwa mereka akan terkungkung di rumah, tertutup, ketinggalan zaman karena kembali ke zaman Arab kuno serta tidak berkembang pikiran dan ilmunya.

Mengenai celaan maka, kita katakan inilah ujiannya. Semakin tinggi keimanan seseorang maka akan semakin tinggi pula ujiannya. Allah Ta'ala berfirman mengenai orang mukmin,

وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"dan yang tidak takut celaan orang yang suka mencela." [QS. Al-Maidah: 54]

kemudian Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari radhiallhu 'anhu,

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: "Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: …beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah… [HR. Ahmad dalam musnadnya V/159, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 2166]

Celaan ini hilang dengan segera jika ia menghiasi cadarnya dengan kesabaran, akhlak yang baik, interakasi yang baik dan dakwah yang bijaksana kepada orang sekitarnya dan masyarakat. Dan ini sudah banyak terbukti.

Mengenai malu bercadar, mengapa anda harus malu jika itu benar? Kemana ghirah/cemburu anda terhadap wanita-wanita yang tidak malu mamakai pakaian yang membuka aurat, bahkan mereka bangga, bangga memakai bikini diajang-ajang, bangga bisa ikut kontes miss universe dan miss world.

Nanti tidak bisa modis, kaku dan serba hitam

Jika modis untuk suami maka anda para wanita dalam hal ini boleh. Tetapi jika untuk modis dan menarik perhatian laki-laki asing maka yang perlu diperbaiki adalah hatinya. Adalah suatu hal yang terlarang dalam agama jika wanita bisa menimbulkan fitnah bagi laki-laki asing baik dengan penampilan dan suaranya. Ingin membuat kecantikannya diakui dan diperebutkan oleh banyak lelaki. Padahal mereka  para lelaki hanya ingin menghisap tebu dan membuang  jauh ampasnya. Dan fitnah wanita bisa menghilangkan akal laki-laki yang istiqamah sekalipun.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

"Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita." [HR. Bukhari no. 304]

Tidakkah anda wanita ingin membuat suami anda atau calon suami anda kelak semakin cinta dengan mengatakan,

"kupersembakan wajahku ini hanya untukmu, suamiku"

Kita sudah tahu bahwa kecantikan wajah adalah salah satu bagian yang paling nikmat bagi laki-laki. Maka kami heran jika ada laki-laki yang rela wajah dan kecantikan istrinya dinikmati oleh orang banyak dan leluasa. Apa ia tidak cemburu? Padahal cemburu adalah bagian dari cinta. Kemana rasa memiliki itu? Mengapa foto istri anda dipajang ditempat-tempat umum dan jejaring sosial? Sungguh lelaki zaman sekarang sudah dipengaruhi oleh budaya barat dimana rasa cemburu itu telah hilang. Lihat bagaimana Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu melarang para lelaki membiarkan istrinya di pasar dan berdedak-desakan dengan laki-laki yang lain.

Mengenai modis, maka terserah anda bergaya bagaimanapun asal untuk suami anda. Pakaian model terbaru atau pakaian yang [maaf] hot seperti lingere. Dan justru untuk suamilah, anda mempersembahkan yang tercantik dan terbaik.  Zaman sekarang sudah terbalik jauh, wanita modis dan harum di luar rumah. Sedangkan di rumah baju seadanya, lusuh dan tua, baunya bau minyak goreng dan minyak gosok.

Mengenai serba hitam, maka tidak mesti jilbab dan cadar warna hitam. Warna hitam diutamakan oleh sebagian ulama karena ia adalah warna mati karena tidak menimbulkan keinginan laki-laki asing. Warnanya boleh warna lain asal tidak menimbulkan fitnah dan menarik perhatian laki-laki.

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ

قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا

فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا

قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى الْمُؤْمِنَاتُ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا

Dari Ikrimah, Rifa'ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh Abdurrahman bin az Zubair. Aisyah mengatakan, "Bekas istri Rifa'ah itu memiliki kerudung yang berwarna hijau. Perempuan tersebut mengadukan dan memperlihatkan kulitnya yang berwarna hijau. Ketika Rasulullah tiba, Aisyah mengatakan, Aku belum pernah melihat semisal yang dialami oleh perempuan mukminah ini. Sungguh kulitnya lebih hijau dari pada pakaiannya." [HR. Bukhari no. 5377]

Begitu juga dengan riwayat bahwa Aisyah dan Istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain melakukan ihram dengan pakaian yang dicelup 'ushfur saat ihram, yang berwarna merah.

Kalau bercadar nanti tertutup dan susah dapat jodoh

Jika anda berkeyakinan seperti ini, maka silahkan lihat dan tanya apakah ada wanita yang bercadar yang berumur di atas 25 tahun yang masih belum menikah? Maka anda akan sangat susah mendapatkannya. Belum lagi mereka genap berumur 20 tahun sudah banyak laki-laki yang bertanya apakah ia sudah siap menikah sehingga bisa dilamar. Yang mencari mereka tentu laki-laki yang bertangggung jawab Insya Allah. Menikahi mereka bukan semata-mata karena kacantikan tetapi karena agama dan akhlaknya dan inilah yang bahan bakar utama kebahagiaan rumah tangga sampai menjadi pasangan abadi di akhirat kelak.

Malah yang kita sering dengar adalah para wanita "kurir" yang susah mendapatkan jodoh. Entah karena sibuk bekerja atau mencari yang lebih tinggi di atas mereka. Sudah berumur hampir mendekati menopouse masih saja kesulitan mencari jodoh.

Kalau bercadar nanti bisa identik dengan kumuh dan bau

Ini juga anggapan yang salah. Mungkin mereka beranggapan bahwa wanita bercadar berpatokan kaku dengan hadist berikut.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

"Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur." [HR. An Nasa'i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami' no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih]

Dan Islam memang tegas dalam hal ini mengingat sangat besarnya fitnah wanita terhadap laki-laki. Bahkan jika sudah terlanjur memakai parfum kemudian hendak ke masjid maka ia diperintahkan mandi agar tidak tercium bau semerbaknya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أيما امرأة تطيبت ثم خرجت إلى المسجد لم تقبل لها صلاة حتى تغتسل

"Perempuan manapun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi."[Hadits riwayat Ahmad, 2/444; syaikh Al-Albani menshahihkannya dalan Shahihul Jami' no.2703]

Akan tetapi bukan berarti wanita tidak boleh memakai wewangian sama sekali. Perhatikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

إن طيب الرجال ما خفي لونه وظهر ريحه ، وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه

"Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi nampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak." [HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman no.7564 dll, hasan. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa', hal. 387]

Maka jika parfum dengan wangi sedikit atau untuk sekedar menetralkan bau, seperti deodorant maka boleh. Dan jika untuk suami maka silakan berwangi seharum mungkin. Dan perlu diperhatikan bahwa parfum wanita warnanya jelas. Jadi menunjukkan bahwa nampaknya selalu hitam. Apalagi telah jelas bahwa warna cerah diperbolehkan bagi wanita. Dan kita sudah melihatnya sekarang ada yang memakai jubah dan cadar berwarna biru, hijau, merah muda, ungu dan sebagainya asal tidak terlalu menarik perhatian. Maka kesan kumuh perlu dibuang jauh-jauh.

Pakai cadar dan jilbab besarnya gerah dan panas.

Neraka lebih panas lagi. Segala sesuatu butuh pengorbanan. Ini sama seperti jawaban anda kepada mereka yang belum berjilbab dan menutup aurat. Mereka yang belum berjilbab juga merasa nantinya akan kepanasan dan gerah jika memakai jilbab. Maka sama juga dengan anda sekarang yang belum memakai cadar atau purdah.

Ini hanya masalah kebiasaan. Jika sudah terbiasa maka perasaan gerah dan panas akan hilang dan juga jika mamatuhi perintah Allah dan Rasul-Nya dengan tidak sering-sering keluar rumah. Maka perasaan panas dan gerah bisa diminimalkan.

III. Motivasi untuk memakai cadar

Engkau berpartisipasi melestarikan sunnah dan ajaran Islam

Siapa lagi kalau bukan engkau? Engkau yang telah Allah karuniakan hidayah kepada engkau untuk peduli terhadap agama ini. Janganlah berharap kepada kebanyakan manusia, karena mereka tenggelam dengan kenikmatan dunia dan lupa bahkan pura-pura lupa terhadap agama. Apalagi mau menolong agama Allah dengan menjaganya. Kita yang mau peduli terhadap agama sangat sedikit dan janganlah kita mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi. Allah Ta'ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." [Al-An'am: 116]

Siapa lagi yang akan mengenalkan ajaran cadar kepada manusia? Siapa lagi yang akan menolong agama Allah? Siapa lagi yang melestarikan sunnah agar tidak punah dimuka bumi? Cadar dan sunnah yang lain sudah terasing, apakah ia hendak punah lenyap tak berjejak? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

"Pada awalnya Islam itu asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana pada awalnya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing." [HR Muslim no. 389]

Engkau merintis dan memberikan contoh, pahala engkau bagaikan jejaring MLM

Ini adalah kesempatan emas. Dimana jika engkau merintis sunnah ini disaat keterasingan cadar merajalela. Renungkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ

"Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik [sunnah] dalam Islam maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" [HR Muslim no 2398]

Tidakkah engkau ingin, disaat engkau sedang tertidur lelap akan tetapi pahala engkau terus mengalir? Disaat engkau sedang bermanja-manja dengan suami, pahala engkau tetap tercatat? Dan tidakkah engkau tertarik, disaat engkau bercanda bersama manusia dan disaat engkau menangis dikeheningan munajat, pahala engkau terus terangkat ke langit? Dari mana pahala itu? Dari pahala mereka yang mencontoh engkau dan mereka yang mencontoh engkaupun dicontoh lagi oleh yang lainnya. Semua pahala mereka adalah milikmu insya Allah.

Engkau benar-benar lebih cantik dengan cadarmu

Ini bukanlah hanya arti maknawi dan kiasan. Betapa banyak wanita yang mengaku tambah putih wajahnya setelah bercadar, karena sinar jahat matahari tidak leluasa memancing pigmen melanosit hitam menyembul keluar. Betapa banyak wanita yang mengaku wajahnya bertambah halus. Karena debu dan oksidan yang keji tidak mampu bersarang di lembah pori-pori dan jerawat wajah.

Cadar adalah sebaik-baik make-up alami, sebaik-baik pemoles natural, sebaik-baik pelindung wajah. Jauh berbanding bumi dan langit dengan kosmetik bahan kimia lagi masih belum jelas halal-haramnya. Cadarlah yang membuat wajah putih semakin bening bersinar atas izin Allah. Cadarlah yang membuat wajah kecoklatan memutih susu atas izin Allah. Dan cadarlah yang membuat wajah hitam menjadi terang bercahaya atas izin Allah.

Apalagi cadar dihiasi dengan akhlak yang mulia, kelembutan, kepatuhan, qona'ah, hapalan Al-Quran, dan hadits. Maka, jangan heran jika yang akan meminang engkau adalah seorang pemuda insya Allah. Pemuda dengan  akhlak menyerupai akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, wajahnya setengah ketampanan Nabi Yusuf, kekayaannya setara harga gembok perbendaharaan Qorun dan kekuasaannya adalah kekuasaan beranda istana Zulqarnain [maaf agak berlebihan]. Mustahilkah? Jika Allah mengizinkan. Karena wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan wanita yang hampir sempurna untuk laki-laki yang hampir sempurna.

Engkau akan menyelamatkan pandangan laki-laki dari panah setan

Engkau telah mengetahui, jika seorang laki-laki menjumpai wanita, maka apa yang paling ingin dilihat laki-laki pertama kalinya. Iya, wajahnyalah yang paling pertama ingin disaksikan. Karena wajah adalah bagian pertama yang paling dinikmati oleh laki-laki . Jika shalat adalah penentu baik-tidaknya keseluruhan amal seorang hamba, maka wajah wanita itulah yang menentukan elok-tidaknya keseluruhan tubuhnya.

Jika engkau pampang gambar pemandangan alam terindah didunia kepada laki-laki, atau engkau perlihatkan lukisan terbaik, atau engkau berikan ukiran yang teristimewa, kemudian engkau buka sedikit saja tirai gambar para wanita. Manakah yang akan dipilih oleh laki-laki? Akan tetapi dengan cadarmu, Engkau telah mematahkan panah tersebut sebelum busurnya direntangkan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ

أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

"Pandangan adalah satu anak panah di antara anak panah-anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan keimanan dan ia merasakan manisnya di hatinya" [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875, dia berkata: sanad hadist shahih dan tidak dikeluarkan oleh bukhari dan muslim, tahqiq Musthofa Abdul Qodir Atha]

"Tapi wajah saya tidak cantik?"

Subhanallah, Allah menciptakan manusia dalam kesempurnaan bentuk, wanita adalah ujian bagi terberat laki-laki, melalui wanita setan seolah-olah memiliki sebaik-baik make-up untuk menghiasinya. Seolah-olah setan memasang kaca mata bagi laki-laki yang membuatnya cantik dan indah menjadi-jadi. Tidak percaya? Anda pasti percaya karena Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَ فَهَا الشَّيْطَانُ

"Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki)." [HR. At-Tirmidzi no. 1173, dishahihan oleh Al-Albani mengatakan dalam Misykatul Mashabih no. 3109]

Syaikh Abul 'Ala' Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال

وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء

"Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu." [Tuhfatul Ahwadzi4/283, Darul Kutub Al-'Ilmiyah, Beirut, Asy-Syamilah].

Terbukti benar, sejelek-jeleknya wanita di muka bumi ini, pasti saja kita dengar berita bahwa ia sudah menikah dan ada yang meminangnya.

"saya kan mau kepala empat, ngapain pakai cadar, sudah terlambat"

Ini bukan alasan untuk terlambat, tidak ada kata terlambat dalam kebaikan, kami jadi teringat pepatah arab kuno,

لكل ساقطة لاقطة

"Setiap barang yang terjatuh pasti ada saja yang memungutnya"

Walaupun sudah kepala empat yang namanya wanita pasti ada saja yang masih berhasrat. Apalagi dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi zaman sekarang, seorang ibu-ibu dan tante-tante bisa disulap dan dipermak menjadi gadis pingitan.

Jangan mau masuk surga cuma emperannya saja atau tengah-tengahnya

Jika dalam ujian kelulusan engkau ingin mendapatkan nilai 10 sempurna, maka mengapa untuk akhirat kampung kekal abadi hanya ingin mendapatkan nilai 7 atau 8. Cadar adalah puncak kesempurnaan wanita. Sebagaimana engkau berlomba-lomba mencari dunia karena keimanan engkau akan kejadian beberapa hari lagi saat pengumuman nilai. Maka berlomba-lomba jugalah karena keimanan engkau akan kejadian yang sudah pasti.Allah Ta'ala berfirman,

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ

"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan". [Al-Baqarah: 148]

IV.    Yang perlu diperhatikan jika sudah bercadar

Jangan merasa lebih mulia hanya dengan memakai cadar

Karena cadar bukanlah patokan keshalihahan seorang wanita. Apalagi ia adalah amalan dzahir, sedangkan amalan dzahir sangat dipengaruhi oleh niat apa yang terpatri dalam hatinya. Ada yang memakai cadar hanya karena ingin menjadi perhatian dan bahan pembicaraan. Ada yang hanya ingin ikut-ikutan artis dan ada yang ingin ikut meramaikan mode yang sedang nge-trend. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan". [HR. Bukhari  no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689 dan 6953, Muslim no. 3530]

Jangan meremehkan wanita yang belum bercadar

Apalagi jika menyakini cadar hukumnya sunnah. Maka amalan yang wajib tentu lebih utama dari amalan sunnah. Bisa jadi orang lain sholat lima waktunya lebih baik dan lebih ikhlas daripada engkau. Bisa jadi orang lain lebih berbakti kepada orang tuanya. Bisa jadi ia lebih berkhidmat kepada suaminya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ُ

"Sesungguhnya Allah berfirman: 'Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengobarkan peperangan dengannya. Dan tidaklah ada seorang hambaKu yang mendekatkan dirinya kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya…' [HR. Bukhari no: 6502]

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan hadits ini,

فكانت الفرائض أكمل فلهذا كانت أحب إلى الله تعالى وأشد تقريبا

"Amalan-amalan yang wajib lebih sempurna, oleh karena itu lebih dicintai oleh Allah dan lebih mendekatkan diri/ taqarrub" [Fahtul Baariy 11/343, Darul Ma'rifah, Beirut, Asy-Syamilah]

Termasuk dalam hal ini contohnya adalah jika sedang kajian, maka para wanita berkumpul dan membentuk kelompok sendiri di pojok masjid. Tidak berbaur dengan wanita lainnya yang tidak bercadar sehingga terkesan sebagai kelompok yang eksklusif atau bahkan tidak mau sekedar menyapa mereka.

Lebih ramah terhadap orang lain khususnya sesama wanita

Jangan kita gengsi untuk sekedar menyapa duluan. Memberi salam duluan dihiasai dengan wajah yang ceria. Karena di jalan-jalan terkadang kalian wanita yang bercadar tidak dikenal. Jika berjumpa dengan sahabat wanitanya, maka menyapalah duluan dengan wajah yang ceria dan akhlak yang baik. Jika tidak ada laki-laki disekitar maka, bukalah cadar, salaman dan tempel pipi kiri-kanan sebagaimana ajaran dalam Islam. Akhlak engkau sangat berperan dalam dakwah yang mulia ini.

Jangan sekedar chasing dan pandai menjaga diri dari laki-laki

Begitu tubuh sudah berbalut jubah besar dengan cadarnya. Maka janganlah prilakunya lebih parah dari wanita dengan jilbab saringan tahu. Genit, sering keluar malam, suka bercanda setengah mesra dengan laki-laki. Atau matanya berlindung dibalik cadar dengan melihat hal-hal yang kurang baik, mengintai laki-laki dan seterusnya.

Atau wajahnya berhijab syar'i akan tetapi hatinya tidak dihijab di balik SMS, e-mail dan inbox facebook. Begitu gampanganya berhubungan bebas dengan laki-laki. Senang digoda genit, senang di tanya-tanya macam-macam dan senang dimanja-manja oleh pujian. Itupun tidak cukup dengan satu laki-laki akan tetapi HP dipenuhi dengan nomor laki-laki asing, inbox email dipenuhi dengan surat dari laki-laki ajnabiy, dan akun facebook dipenuhi dengan list friend laki-laki genit non-mahram.

Dan perlu kalian ketahui bahwa laki-laki yang sudah mengerti agama juga bisa terfitnah walaupun kalian lewat lengkap dengan cadar dan pakaian besar menutup tubuh. Silahkan tanya bagaimana sekelompok laki-laki  yang mengerti agama, kemudian lewat seorang wanita bercadar di depan mereka. Maka mereka akan salah tingkah atau minimal terjadi perubahan gerak atau sikap hati dari mereka. Dan tentunya jantung wanita tersebut juga ikut berdegup kencang. Dan bisa dibayangkan seandainya mereka berdua satu-persatu berpapasan di suatu jalan.

Penutup

Harapan kami agar sunnah ini tidak punah dan terasing. Kami ingin melihat kita umat Islam kembali ke ajaran Islam yang benar. Kami ingin melihat pemandangan sekumpluan gagak-gagak hitam sebagaimana yang diceritakan oleh Ummu Salamah radhiallahu 'anha, beliau berkata,

لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية

Ketika turun firman Allah (yang artinya), "Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" [Al-Ahzab :59] wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka). [HR Abu Daud no 4101; dishahihkan oleh Syaikh al Albani]

Karena kami yakin bahwa jika kita ingin berjaya seperti umat Islam dahulu, maka kita harus berjaya dengan apa yang membuat berjaya umat sebelum kita. Yaitu berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

Imaam Malik rahimahullah berkata,

قال الإمام مالك رحمه الله تعالى : لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها؛ فما لم يكن يومئذ

ديناً لا يكون اليومدين

 "Akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan apa-apa yang membuat baik generasi pendahulunya. Maka apa-apa yang pada hari itu [di zaman Rasulullah dan para sahabatnya] bukan merupakan dien (ajaran Islam), maka pada suatu hari kapanpun tidak bisa menjadi dien (ajaran Islam)." [Syarof Ashaabil Hadiits, Al Khathib Al Baghdadiy, dikutip dari At-Tashil]

Segeralah pastikan jilbab besar lengkap dengan cadarnya ada di lemari pakaian engkau dan bagi yang sudah memakainya berilah hadiah kepada saudarimu. Beri hadiah ia berupa jilbab dan cadarnya. Siapa tahu suatu saat ia melihatnya dan ada dilemari pakaiannya, ia berkeinginan untuk memakainya. Karena dengan saling memberi hadiah kalian akan saling mencintai.

Demikianlah yang dapat kami jabarkan, semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

18 Dulqo'dah 1432 H, Bertepatan  16 oktober 2011

Penyusun:  Raehanul Bahraen


Via HijrahApp

*Dakwah Sembunyi-Sembunyi

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Sirah Nabi ﷺ_ Bagian 20

NABI MUHAMMAD ﷺ MEMULAI DAKWAH SEMBUNYI-SEMBUNYI

Setelah turun ayat قُمْ فَأَنْذِرْ (Bangunlah dan berilah peringatan!), Rasūlullāh ﷺ akhirnya sadar bahwa beliau telah diutus oleh Allāh untuk mengemban risalah, suatu beban dan tanggung jawab serta amanat yang sangat berat, yaitu mendakwahi manusia yang kala itu dalam keadaan serusak-rusaknya manusia, secara umum di muka bumi dan secara khusus di kota Mekkah. Mulai dari merebaknya perzinahan, saling membunuh (peperangan antar kabilah), perjudian, minum khamr, berbagai macam kesyirikan, seperti penyembelihan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla, perdukunan, pengkeramatan terhadap hewan-hewan dan bahkan di Ka'bah ada 360 berhala yang berada di sekitarnya.

Nabi ﷺ diperintah oleh Allāh dengan "Qum fa Andzir" (bangunlah dan berilah peringatan!). Rasūlullāh ﷺ pun dengan sigap berupaya menjalankan tugas yang Allāh embankan kepada Beliau. Disebutkan oleh para ulama, sebelum Beliau berdakwah dengan terang-terangan, Beliau mengalami suatu fase dakwah yang disebut dengan ad-da'wah as-sirriyyah, yaitu dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Ada perbedaan pendapat diantara para ulama tentang berapa tahun Nabi ﷺ menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi, ada yang berpendapat 3 tahun dan ada pula yang berpendapat 4 tahun[1]. Saat Rasūlullāh ﷺ berdakwah secara sembunyi-sembunyi, maka secara tabi'at dan alami, beliau akan memulai dakwah dari orang yang terdekat terlebih dahulu, orang yang mengenal dan mengetahui seluk beluk kehidupan Nabi ﷺ, serta mengetahui bagaimana akhlak Beliau. Oleh karenanya, Beliau mendakwahi orang-orang yang mencintainya terlebih dahulu. Inilah metode dakwah Nabi ﷺ, karena dakwah akan sulit diterima oleh orang yang membenci kita.


✿ *Orang Yang Pertama Kali Masuk Islam* ✿

Berikut ini adalah para sahabat Nabi yang paling pertama masuk Islam :

✿ *Khadījah binti Khuwailid radhiyallāhu 'anhā.*

Beliau adalah orang yang pertama kali beriman kepada Nabi ﷺ secara mutlak. Di saat Nabi ﷺ didatangi oleh malaikat Jibrīl dan gemetaran ketakutan, beliaulah yang menenangkannya.


✿ *Waraqah bin Naufal radhiallahu 'anhu, sepupu Khadījah radhiyallāhu 'anhā.*

Beliau adalah seorang pendeta Nashrani yang masih di atas tauhid (Hanifiyah). Beliau mengatakan, "Wahai Muhammad, seandainya aku masih muda saat kaummu mengusirmu maka saya lah yang akan menolongmu dengan sekuat tenaga."

Ini menunjukkan bahwa Waraqah beriman kepada Nabi ﷺ, meskipun setelah itu dia meninggal dunia dan tidak sempat menjalani Islam. Namun Rasūlullāh ﷺ mengabarkan dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hākim dalam Mustadraknya,

لا تَسبُّوا ورقةَ بنَ نوفلٍ، فإنِّي رأيتُ له جَنةً أو جَنتينِ

"Jangan kalian cela Waraqah bin Naufal. Sesungguhnya aku melihat dia memiliki satu atau dua taman (di surga)." (HR. al-Hakim 4211. Dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam ash-Shahihah 405).

Oleh karenanya kita yakin dalam hadits yang shahih bahwasanya Waraqah telah dijamin masuk surga oleh Rasūlullāh ﷺ dan dia adalah lelaki yang pertama kali beriman.


✿ *Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiallahu 'anhu[2]*

Waraqah adalah orang yang lebih dahulu beriman daripada Abū Bakr Ash-Shiddīq, akan tetapi Waraqah radhiyallāhu 'anhu tidak sempat menjumpai fase dakwah Nabi ﷺ karena beliau meninggal terlebih dahulu. Karena itu, lelaki pertama Islam yang berperan dalam dakwah adalah Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu Ta'āla 'anhu. Peran Abū Bakr Ash-Shiddīq sangatlah banyak, nanti akan dipaparkan dan disebutkan sebagiannya. Beliau juga turut merasakan beban yang dipikul oleh Nabi ﷺ. Banyak para sahabat yang masuk Islam, dan termasuk yang dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ melaluis sebab dakwah adalah Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Rasūlullāh ﷺ memuji Abū Bakr Ash-Shiddīq dalam banyak hadits, diantaranya :

مَا عَرَضْتُ الإِسْلاَمَ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ كَبْوَةٌ، إِلاَّ أَبُو بَكْرٍ، فَإِنَّهُ لَمْ يَتَلَعْثَم فِي قَوْلِهِ

Tidak ada seorangpun yang aku tawarkan Islam kepadanya kecuali semuanya ragu-ragu, kecuali Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu Ta'āla 'anhu. Karena beliau tidak terbata-bata di dalam perkataannya (yaitu dalam menerima Islam)." (Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan diantaranya HR Ad-Dailami di Musnad al-Firdaus no 6286, demikian juga Ibnu Ishaq dalam sirohnya, akan tetapi semua sanadnya lemah. Namun meskipun lemah maknanya benar karena ditunjukan oleh hadits-hadits shahih sehingga sering dijadikan dalil oleh para ulama).

Nabi ﷺ bersabda :

وَبَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوْقُ بَقَرَةً قَدْ حَمَّلَ عَلَيْهَا فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ فَكَلَّمَتْهُ فَقَالَتْ : إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا وَلَكِنِّي خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ قَالَ النَّاسُ سُبْحَانَ اللهِ (أَبَقَرَةٌ تَكَلَّمَ)؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي أُوْمِنُ بِذَلِكَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ

"Dan pada saat seseorang sedang membawa seekor sapi dan ia telah memikulkan (barang) di atasnya, maka sang sapi menoleh ke orang tersebut dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk ini, tetapi aku diciptakan untuk pertanian." Maka orang-orang berkata: "Maha suci Allah, apakah sapi berbicara?" Nabi ﷺ berkata: "Sesungguhnya aku beriman akan hal ini, begitupun Abu Bakar, serta Umar bin Al-Khaththab." (HR. Al-Bukhari No. 3663 dan Muslim No. 2388)

Dalam riwayat yang lain (وَمَا هُمَا ثَمَّ) "Abu Bakar dan Umar pada saat itu tidak hadir." (HR. Al-Bukhari No. 3471)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang keheranan pada saat Nabi mengabarkan ada sapi yang berbicara. Akan tetapi, jika hal ini didengar oleh Abu Bakar maka akan langsung dibenarkan tanpa ada keraguan sama sekali. Oleh karena itu, meskipun Abu Bakar dan Umar sedang tidak hadir, Nabi menyatakan: "Sesungguhnya aku beriman dengan hal itu, begitupun Abu Bakar, dan juga Umar."

Dalam sebuah hadits

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعَدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ: اُثْبُتْ أُحُد فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيْقٌ وَشَهِيْدَانِ

"Bahwasanya Nabi ﷺ naik di atas gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Maka gunung Uhud pun bergetar, Nabi berkata: "Diamlah Uhud, sesungguhnya yang ada di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang siddiiq, dan dua orang yang akan mati syahid." (HR. Al-Bukhari No. 3675)

Dalam hadits ini jelas Abu Bakar disebut oleh Nabi ﷺ sebagai Ash-Shiddiq yaitu yang selalu membenarkan.

Abū Bakr Ash-Shiddīq adalah salah satu teman dekat Rasūlullāh ﷺ. Umurnya sebaya, mungkin selisihnya hanya sekitar 2 tahun. Ketika Rasūlullāh ﷺ diangkat menjadi Nabi berumur 40 tahun sedangkan Abū Bakr Ash-Shiddīq berumur 38 tahun.

Sebagian shahābat diriwayatkan bahwasanya saat menerima Islam terbetik sedikit keraguan dan kebimbangan dalam diri mereka, tidak langsung menerima. Sedangkan Abū Bakr Ash-Shiddīq ketika masuk Islam, beliau langsung berkhidmat menyumbangkan hartanya untuk Islam sebagaimana Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā tatkala masuk Islam maka dia mengorbankan seluruh hartanya untuk suaminya berdakwah.

Karenanya Rasūlullāh ﷺ memuji Abū Bakr Ash-Shiddīq. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda :

"مَا نَفَعَنِي مالٌ قط ما نفعني مَالُ أَبِي بَكْرٍ"،  فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ: مَا أَنَا وَمَالِي إِلَّا لك!

"Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku sebagaimana bermanfaatnya harta Abū Bakr Ash-Shiddīq". Maka Abu Bakarpun menangis dan ia berkata, "Tidaklah diriku dan hartaku kecuali untukmu (wahai Nabi)" (HR At-Tirmidzi  dan Ibnu Hibban no 6819 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2718)

Artinya, setelah Islam berkembang banyak orang yang menyumbang hartanya bisa jadi lebih banyak dari hartanya Abū Bakr Ash-Shiddīq. Akan tetapi di awal Islam, Rasūlullāh ﷺ sangat butuh bantuan dalam dakwahnya. Oleh karena itu, meskipun harta yang dikeluarkan Abū Bakr Ash-Shiddīq mungkin lebih sedikit dibandingkan sahabat kaya lainnya, tetapi harta beliau dikeluarkan di saat-saat penting di awal Islam sehingga tidak ada yang bisa memberi manfaat sebagaimana bermanfaatnya harta Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Jundab radhiallahu 'anhu berkata

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ، وَهُوَ يَقُولُ: «إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا»

Aku mendengar Nabi berkata -5 hari sebelum beliau meninggal-, "Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah kalau ada seorang dari kalian yang menjadi kekasihku, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku kekasihNya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim kekasihNya. Kalau seandainya aku boleh mengambil kekasih (selain Allah), maka saya akan mengambil kekasih (dari kalangan manusia) Abū Bakr Ash-Shiddīq sebagai kekasihku." (HR Muslim no 532, demikian juga diriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas di Shahih al-Bukhari no 467)

Abu Bakr adalah pria yang paling dicintai Nabi ﷺ. 'Amr bin al-'Aash berkata

فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ» قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: «أَبُوهَا» قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «عُمَرُ» فَعَدَّ رِجَالًا، فَسَكَتُّ مَخَافَةَ أَنْ يَجْعَلَنِي فِي آخِرِهِمْ

"Aku mendatangi Nabi dan aku bertanya kepadanya, "Siapa orang yang paling engkau cintai, wahai Rasūlullāh? Rasūlullāh ﷺ berkata, "Āisyah". Aku berkata, "Dari kalangan lelaki?" Kata Rasūlullāh ﷺ, "Ayahnya", aku berkata, "Lalu siapa?", ia berkata, "Umar", lalu Nabi menyebutkan beberapa orang, maka akupun terdiam aku khawatir Nabi menjadikan aku nomer terakhir" (HR Al-Bukhari no 3662, 4358 dan Muslim no 2384)

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَدْ غَامَرَ» فَسَلَّمَ وَقَالَ: إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الخَطَّابِ شَيْءٌ، فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ ثُمَّ نَدِمْتُ، فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَيَّ، فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ، فَقَالَ: «يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ» ثَلاَثًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ، فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ، فَسَأَلَ: أَثَّمَ أَبُو بَكْرٍ؟ فَقَالُوا: لاَ، فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ، فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَعَّرُ، حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ، فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ، مَرَّتَيْنِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي» مَرَّتَيْنِ، فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا

Dari Abu Ad-Darda' radhiallahu 'anhu ia berkata, "Aku duduk di sisi Nabi ﷺ, tiba-tiba datang Abu Bakar sambil memegang ujung jubahnya hingga tersingkap kedua lututnya. Nabi ﷺ berkata, "Adapun sahabat kalian ini, ia sedang ada masalah". Lalu Abu Bakar memberi salam dan berkata, "Sesungguhnya terjadi sesuatu antara aku dan Umar bin Al-Khatthab, aku tergesa-gesa untuk berkata kasar kepadanya, lalu akupun menyesal. Lalu aku memohon kepadanya agar memaafkan aku namun ia enggan memaafkan aku, maka akupun datang kepadamu". Maka Nabi berkata, "Allau mengampunimu wahai Abu Bakar", Nabi mengulangi ucapannya tiga kali. Kemudian Umar pun menyesal, lalu ia mendatangi rumah Abu Bakar, dan ia bertanya, "Apakah ada Abu Bakar?", maka mereka (para penghuni rumah) berkata, "Tidak ada". Maka Umar mendatangi Nabi ﷺ lalu mengucapkan salam kepada Nabi, akan tetapi wajah Nabi terlihat berubah (karena jengkel) hingga Abu Bakar kasihan (melihat Umar) lalu Abu Bakar duduk berlutut seraya berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah akulah yang lebih bersalah" -ia ulangi ucapannya dua kali-. Nabi ﷺ berkata, "Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian lalu kalian berkata "Engkau (Muhammad) berdusta", namun Abu Bakar berkata, "Ia (Muhammad) benar", dan ia telah menolongku dengan jiwanya dan hartanya, maka apakah kalian tidak bisa meninggalkan mengganggu sahabatku demi aku?" -Nabi mengucapkannya dua kali-. Maka Abu Bakar setelah itu tidak pernah diganggu lagi. (HR Al-Bukhari no 3661)

Abū Bakr Ash-Shiddīq ketika masuk Islam, beliau langsung aktif berdakwah secara sembunyi-sembunyi sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. Beliau berdakwah dengan luar biasa sehingga masuklah ke dalam Islam orang-orang yang hebat melalui perantaraan Abū Bakr Ash-Shiddīq. Diantara mereka adalah 5 orang yang dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ, yaitu:

⑴ 'Utsmān bin Affan radhiyallāhu Ta'āla 'anhu[3]

⑵ Az-Zubayr bin Awwam radhiyallāhu Ta'āla 'anhu[4]

⑶ 'Abdurrahmān bin 'Auf radhiyallāhu Ta'āla 'anhu[5]

⑷ Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallāhu Ta'āla 'anhu[6]

⑸ Thalhah bin 'Ubaidillāh radhiyallāhu Ta'āla 'anhu[7]

Inilah 5 dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga, sebagaimana dalam hadīts bahwa Rasūlullāh ﷺ menyebutkan orang-orang yang dijamin masuk surga.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبُو بَكْرٍ فِي الجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ فِي الجَنَّةِ

"Dari Abdurrahman bin 'Auf, dia berkata: Rasūlullāh ﷺ bersabda: Abu Bakr di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin 'Auf di surga, Sa'ad di surga, Sa'id di surga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di surga." (HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih)

Seluruh kebaikan yang dikerjakan oleh 'Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin 'Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqash pahalanya mengalir kepada Abū Bakr Ash-Shiddīq karena Abū Bakr Ash-Shiddīq lah yang menyebabkan mereka masuk Islam. Demikian pula sahabat lainnya yang masuk Islam melalui perantaraan beliau.

Tentang 'Utsmān Nabi ﷺ mengatakan :

أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ؟

"Tidakkah sepatutnya aku malu kepada seorang (yakni 'Utsman) yang para malaikat malu kepadanya?" (HR. Muslim no. 2401)

Dimana 'Utsmān pernah berinfaq dengan harta yang sangat banyak saat Perang Tabuk, lalu beliau di kemudian hari menjadi khalifah dengan sangat baik.

Lihat pula 'Abdurrahmān bin 'Auf, saudagar kaya raya yang menginfakkan hartanya untuk Islam. Beliau mendapatkan pahala yang berlimpah dan juga seluruh pahalanya turut mengalir kepada Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, karena Rasūlullāh ﷺ mengatakan:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya (tanpa mengurangi pahalanya)." (HR. Muslim no. 1893)

Dari sini kita bisa mengatahui bagaimana hebatnya Abū Bakr Ash-Shiddīq dalam berdakwah. Para ulama menyebutkan beberapa rahasia dan alasan kenapa dakwah Abū Bakr Ash-Shiddīq begitu mudah untuk diterima? Disebutkan diantaranya karena Abū Bakr Ash-Shiddīq adalah orang yang berakhlaq mulia. Beliau adalah pedagang besar dan cara berdagangnya membuat orang lain senang kepada beliau. Beliau juga orang yang cerdas dan berilmu, banyak mengetahui tentang nasab Arab sehingga sebagian shahābat senang dengan pembicaraan Abū Bakr Ash-Shiddīq, karena beliau orang yang mudah bergaul.

Keutamaan Abū Bakr Ash-Shiddīq terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Beliaulah yang menemani Rasūlullāh ﷺ dalam perjalanan maut dari Mekkah menuju Madinah saat hijrah, sementara orang-orang kafir mengadakan sayembara "Siapa yang bisa membunuh Muhammad atau Abū Bakr akan diberikan 100 ekor unta". Karena itu, alangkah terhinanya orang-orang yang mengkafirkan dan mencela Abū Bakr Ash-Shiddīq, yang menuduh bahwa Abū Bakr Ash-Shiddīq dahulu sujud di zaman Nabi ﷺ sementara dia mengalungkan patung di lehernya. Mereka mengatakan Abū Bakr Ash-Shiddīq menginfakkan banyak harta di awal Islam karena ingin mengambil tahta dari Muhammad ﷺ, sebab dia telah mendengar dari dukun-dukun bahwasanya Muhammad akan menjadi raja maka Abū Bakr Ash-Shiddīq harus menjadi pengikutnya sehingga saat Muhammad meninggal, maka Abu Bakr lah yang akan menggantikannya. Ini perkataan keji dan buruk orang-orang Syi'ah. Pekerjaan Syiah hanyalah mengkafirkan Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, bahkan mereka jadikan melaknat Abū Bakr sebagai sebuah ibadah.

Sebagai pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, kita sadar bahwasanya diantara sebab Islam bisa sampai kepada kita adalah melalui sebab jasa Abū Bakr Ash-Shiddīq dan juga para shahābat lainnya. Merekalah orang-orang yang seharusnya kita cintai karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Kita wajib membela mereka apabila ada orang yang mencaci mereka. Kita juga wajib membenci mereka (para pencaci) yang mencaci para pahlawan Islam. Sejatinya ini adalah agenda orang-orang kafir. Mereka ingin kita membenci para shahābat, padahal Islam mengajarkan kita untuk mencintai para shahābat, dan di zaman mereka lah Islam berjaya, sehingga kita bisa kembali kepada kejayaan lagi.

Akan datang suatu masa dimana muncul orang-orang munafiq yang mengatakan bahwa para shahābat adalah generasi terburuk, kafir, munafiq, dan mencari dunia dengan berita-berita dusta yang mereka sebarkan. Sejatinya mereka telah mencela Rasūlullāh ﷺ. Bagaimana bisa seluruh shahābat Nabi semuanya dianggap kafir kecuali hanya beberapa orang saja? Jika demikian, Muhammad ﷺ adalah Nabi yang gagal, 23 tahun berdakwah tetapi semuanya murtad sepeninggal Nabi ﷺ. Maka berhati-hatilah dengan kelompok sesat yang membawa pemikiran seperti ini.


​✿ *'Ali bin Abī Thālib radhiyallāhu Ta'āla 'anhu*

'Ali bin Abī Thālib radhiyallāhu Ta'āla 'anhu adalah seorang pahlawan pemberani yang sangat hebat. Beliau adalah salah satu putera Abū Thālib. Abū Thālib memiliki 3 orang putra; Ja'far, Aqīl dan 'Ali. Ketika Rasūlullāh ﷺ melihat pamannya, Abu Thalib, hidup dalam kesusahan, beliau memberi usul kepada pamannya yang lain, 'Abbas bin 'Abdul Muththalib, yang saat itu adalah seorang yang kaya, agar turut membantu Abu Thalib? Paman Nabi ﷺ yang lain adalah Hamzah dan Abū Lahab. Hamzah adalah paman Nabi ﷺ yang menyambut Islam sedangkan Abū Thālib enggan masuk Islam hingga akhir hayatnya, tetapi beliau memiliki andil besar di dalam membela Rasulullah. Adapun Abū Lahab adalah paman Nabi yang paling memusuhi Islam, sedangkan 'Abbas masuk Islam belakangan.

Menyambut usulan Muhammad ﷺ, maka berangkatlah mereka berdua (Rasulullah dan 'Abbas) menemui Abū Thālib, kemudian menawarkan bantuan untuk merawat anak-anaknya Abū Thālib. Lantas Abū Thālib mengizinkan dan mengatakan "selama Aqil bersama saya, lakukanlah apa yang dikehendaki." Akhirnya, Rasūlullāh ﷺ mengambil 'Ali bin Abī Thālib, Al-'Abbas mengambil Ja'far sedangkan Aqil masih bersama bapaknya Abū Thālib.

Jadi, 'Ali bin Abī Thālib sebenarnya dirawat oleh Rasūlullāh ﷺ, seakan-akan anak Nabi ﷺ. Karena itulah ketika 'Ali ditawarkan untuk masuk Islam, beliau langsung menerimanya dan masuk Islam, saat itu umur 'Ali baru 10 tahun. Meski masih 10 tahun, Rasulullah tahu betapa cerdas dan pintarnya 'Ali bin Abī Thālib radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.


​✿ *Zaid bin Hāritsah (Budaknya Rasūlullāh ﷺ)*

Zaid bin Hāritsah bin Syurahbil al-Ka'biy adalah seorang Arab, yang suatu hari -di zaman jahiliyah- ia keluar bersama ibunya, tiba-tiba datang sebagian kabilah dan menculik si kecil Zaid bin Hāritsah dari ibunya. Setelah diculik, Zaid lalu dijadikan budak dan diperjualbelikan di pasar 'Ukaazh dan akhirnya dibeli oleh seorang shahābat bernama Hakīm bin Hizam (keponakannya Khadījah) dengan harga 400 dirham. Setelah itu, Hakīm bin Hizam menghadiahkan Zaid bin Hāritsah kepada Khadījah bintu Khuwailid radhiyallāhu Ta'āla 'anhā. Tatkala Khadijah menikah dengan Rasūlullāh ﷺ, maka Khadījahpun menghadiahkan budak ini kepada suaminya, Rasūlullāh ﷺ.

Rasūlullāh ﷺ sangat menyayangi Zaid bin Hāritsah, sampai-sampai para shahābat pun mengenal bahwa Zaid bin Hāritsah adalah kesayangan Rasūlullāh ﷺ. Saat Rasūlullāh ﷺ menikah dengan Khadījah, mereka dikaruniai 6 orang anak (2 laki-laki dan 4 perempuan), sementara saat diangkat menjadi Nabi kedua putranya sudah meninggal dunia semua, yang bersisa tinggal putri-putrinya. Maka tatkala Zaid bin Hāritsah tinggal dirumahnya, Rasūlullāh ﷺ begitu sayang kepadanya karena Rasulullah ﷺ sudah tidak punya anak laki-laki.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya keluarga Zaid bin Hāritsah mengetahui bahwa Zaid bin Hāritsah masih hidup. Mereka telah mencari-cari anaknya yang hilang selama bertahun-tahun. Ayahnya (yaitu Haritsah bin Syurahbil) dan pamannya (yaitu Ka'ab) lalu menemui Rasūlullāh ﷺ untuk meminta kembali anak mereka. Mereka mengatakan "Kami ingin membayar kepadamu uang untuk menebus anak kami." Kemudian kata Rasūlullāh ﷺ, "Tidak perlu Anda membayar apapun, cukup tanyakan saja kepada Zaid, jika dia mau maka silakan ambil dia dan tidak usah membayar."

Kemudian mereka menemui Zaid bin Hāritsah dan menawarkan kepada dirinya apakah ia ingin kembali kepada keluarganya atau tetap bersama Muhammad. Maka Zaid bin Hāritsah memilih untuk tetap bersama Muhammad. Padahal bapak dan paman Zaid bin Hāritsah sendiri yang langsung meminta. Hal ini menyebabkan mereka marah lalu mengatakan, "Apakah engkau lebih memilih menjadi budaknya Muhammad daripada ikut kami, ayah, paman dan keluargamu?" Zaid menjawab, "Iya, sungguh aku telah melihat sesuatu pada orang ini (yaitu Muhammad) yang menjadikan aku tidak bisa meninggalkannya dan mengikuti yang lain". Walaupun statusnya budak, tetapi Zaid bin Hāritsah sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Rasūlullāh ﷺ. (Lihat Al-Ishabah fi Tamyiz As-Shahabah, Ibnu Hajar 2/495-496)

Ibnu 'Umar berkata :

أَنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ، مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كُنَّا نَدْعُوهُ إِلَّا زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ القُرْآنُ»، {ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ}

"Bahwasanya Zaid bin Haritsah -yaitu budaknya Rasulullah ﷺ – kami tidaklah memanggilnya kecuali Zaid bin Muhammad, hingga turunlah firman Allah (Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah)" (HR Al-Bukhari no 4782 dan Muslim no 2425)

Zaid tadinya dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad, sampai akhirnya Allāh melarang dan menghapuskan hukum bahwa tidak boleh seseorang menyandarkan nasab kepada yang bukan ayahnya. Jadilah Zaid bin Hāritsah, kembali ke nasab sebelumnya. Setelah menikah, Zaid memiliki anak yang bernama Usamah bin Zaid yang juga dicintai oleh Nabi ﷺ dan dianggap layaknya cucu sendiri.

Perhatikanlah, sebagian besar yang pertama kali masuk Islam adalah para pemuda. Abū Bakr Ash-Shiddīq bisa dianggap yang paling tua saat itu, usia beliau sebaya dengan Nabi ﷺ yaitu sekitar 38 tahun (2 tahun lebih muda dari Nabi). Adapun 'Utsman berumur sekitar 34 tahun, 'Ali baru berusia 10 tahun, sedangkan Zaid bin Hāritsah sekitar 20 tahunan. Zubair bin Awwam masih 15 tahun, 'Abdurrahman bin 'Auf 30 tahun, Sa'ad bin Abi Waqqash masih 14 tahun, Thalhah bin 'Ubaidillah masih 15 tahun, dan pemuda-pemuda lainnya semoga Allah merahmati mereka semua.

Para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memulai dakwahnya kepada para pemuda karena para pemuda lebih mudah menerima daripada orang-orang yang lebih tua. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa anak muda mudah menerima dakwah, diantaranya:

⑴ Orang tua lebih sulit menerima dakwah karena mereka sudah lebih lama dan bertahun-tahun terbiasa dengan tradisi. Berbeda dengan anak muda, yang lebih dinamis dan mudah menerima perubahan. Selain itu, tradisi berlum terlalu mendarah daging dalam diri mereka.

⑵ Anak-anak muda cenderung kritis dan senang dengan hal-hal yang "baru" (fresh). Rasūlullāh ﷺ sendiri membawa ajaran "baru" yang menyelisihi tradisi. Sebenarnya ajaran Islam bukanlah ajaran yang "baru", namun ajaran yang "memperbaharui" (tajdid), yang sejatinya mengembalikannya kepada ajaran Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām. Ajaran ini sebenarnya ajaran yang lebih tua tetapi karena lama ditinggalkan, maka kaum musyrikin menganggapnya sebagai ajaran yang baru.

⑶ Anak muda lebih semangat dan antusias.

Oleh karena itu, Al-Imām Ibnu Katsir ketika membawakan firman Allāh:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

"Mereka adalah anak-anak muda yang beriman kepada Rabb mereka maka kami tambahkan lagi petunjuk kepada mereka." (QS Al-Kahfi : 13)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa demikianlah anak-anak muda lebih mudah untuk menerima dakwah daripada orang-orang tua. Itulah sebabnya di zaman Rasūlullāh ﷺ kebanyakan yang menyambut dakwan Nabi ﷺ adalah dari kalangan anak-anak muda. Sebagaimana para penghuni gua (Ashhābul Kahfi), yang dikisahkan Allah dalam surat al-Kahfi, mereka adalah anak-anak muda yang beriman kepada Allāh sementara penduduk negerinya semuanya kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ibnu Katsir berkata :

فَذَكَرَ تَعَالَى أَنَّهُمْ فِتْيَةٌ -وَهُمُ الشَّبَابُ-وَهُمْ أَقْبَلُ لِلْحَقِّ، وَأَهْدَى لِلسَّبِيلِ مِنَ الشُّيُوخِ، الَّذِينَ قَدْ عَتَوْا وعَسَوا فِي دِينِ الْبَاطِلِ؛ وَلِهَذَا كَانَ أَكْثَرُ الْمُسْتَجِيبِينَ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَابًا. وَأَمَّا الْمَشَايِخُ مِنْ قُرَيْشٍ، فَعَامَّتُهُمْ بَقُوا عَلَى دِينِهِمْ، وَلَمْ يُسْلِمْ مِنْهُمْ إِلَّا الْقَلِيلُ. وَهَكَذَا أَخْبَرَ تَعَالَى عَنْ أَصْحَابِ الْكَهْفِ أَنَّهُمْ كَانُوا فِتْيَةً شَبَابًا

"Allah menyebutkan bahwa mereka (Ash-hābul Kahfi) adalah "fityah" yaitu para pemuda. Mereka lebih mudah menerima kebenaran dan lebih mudah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus dari pada orang tua, yang mana mereka telah lama dan kokoh di atas agama kebatilan. Oleh karena itu, mayoritas orang-orang yang menerima seruan Allah dan Rasulullah ﷺ adalah para pemuda. Adapun golongan tua dari Quraisy, mayoritas mereka tetap bersikukuh di atas agama mereka, dan tidaklah beriman dari mereka kecuali hanya sedikit. Demikianlah Allah mengabarkan tentang Ashhābul Kahfi bahwasanya mereka adalah para pemuda" (Tafsir Ibnu Katsir 5/140)

Karena itu tidak boleh meremehkan anak-anak muda, karena mereka adalah pelanjut dakwah yang mulia ini. Mereka harus dibimbing, didakwahi, dan diarahkan. Sebagaimana pula tidak boleh meremehkan orang tua, karena mereka tetap harus dihormati dan dimuliakan. Ketika orang-orang yang lebih tua cenderung sulit atau bahkan menolak dakwah, maka anak-anak mudanya yang didakwahi dan dibimbing, sebagaimana cara Nabi di dalam berdakwah. Anak-anak muda dari kalangan shahābat Nabi inilah yang akan menjadi pejuang Islam dan generasi masa depan. Jangan heran apabila orang-orang kafir sangat memahami bahwa untuk merusak suatu bangsa maka tidak perlu memeranginya tetapi cukup merusak generasi mudanya. Karena rusaknya generasi muda adalah rusaknya suatu bangsa.


                    🌴🌴🌴🌴

​✿ *Faidah Berdakwah Secara Sirriyah (Sembunyi-Sembunyi)* ​✿

Ada beberapa faidah yang bisa dipetik dari dakwah Nabi ﷺ secara sembunyi-sembunyi ini sebelum beliau berdakwah secara terang-terangan, diantaranya:

⑴ Jika kaum muslimin saat itu dalam kondisi lemah dan dalam keadaan ditekan, maka tidak mengapa berdakwah secara sembunyi-sembunyi, sebagaimana yang dilakukan Nabi selama 3 atau 4 tahun.

Para ulama mengatakan bahwa hukum asal berdakwah bagi kaum muslimin adalah secara terang-terangan, selama itu tidak mendatangkan mudharat. Misalnya pemerintah jahat melarangnya, dan yang berani melanggar akan ditangkap atau dibunuh, maka dalam kondisi inilah berdakwah itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Lain halnya jika tidak ada mudharat ketika menampakkan dakwah, namun ternyata ada kelompok yang malah berdakwah secara sembunyi-sembunyi, maka yang demikian kita wajib berhati-hati, sebab seringkali dakwah yang seperti ini mereka telah menyembunyikan sesuatu dan mereka berada di atas kebathilan.

Seorang muslim berada di atas kebenaran, karena itu pada asalnya dia harus menyampaikan kebenaran secara terang-terangan. Dia berani berdialog, berdiskusi, dan berdakwah. Namun, orang yang dakwahnya selalu sembunyi-sembunyi seakan-akan seperti gerakan rahasia, dan tidak boleh ada yang mengetahui, dan ternyata di dalam dakwanya tersebut ada prosesi bai'at (sumpah setia), maka ini tidak benar dan merupakan dakwah sesat. Apalagi jika mereka berada di negeri kaum muslimin yang mana dakwah itu dibebaskan, maka hukum asal dakwah adalah terang-terangan. Berbeda halnya jika kondisinya tidak bebas, seperti di Rusia beberapa dasawarsa silam. Dahulu di sana jika ketahuan ada orang yang shalat dan membaca Al-Qurān maka dia akan ditangkap lalu disiksa dan dibunuh. Dalam kondisi seperti ini, Muslim di sana tetap wajib berdakwah. Namun mereka berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi.

Ada juga sebagian kelompok yang menganggap bahwa dakwah saat ini harus dengan fase Makiyyah dan fase Madaniyah. Karena tidak ada khilafah, zaman ini dianggap sama dengan fase Makkiyah yaitu fase dakwah sembunyi-sembunyi. Ini semua adalah anggapan yang keliru dan tidak benar. Metode dakwah Rasūlullāh ﷺ secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan berkaitan dengan kondisi. Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk dakwah secara terang-terangan, maka Rasūlullāh ﷺ akan berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

⑵ Dakwah Islam adalah dakwah yang universal (menyeluruh), bukan untuk satu bangsa atau suku Arab saja.

Ketika Rasūlullāh ﷺ mulai berdakwah dan dibantu oleh sahabat setia beliau Abū Bakr Ash-Shiddīq, banyak orang yang masuk Islam dari berbagai kalangan, dari kalangan orang yang nasabnya tinggi hingga yang biasa, ada orang-orang yang kaya dan ada pula orang yang miskin. Ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh ﷺ menawarkan Islam kepada siapa saja. Bahkan bukan hanya kepada orang merdeka, budak pun juga diajak untuk masuk Islam. Tanpa terkecuali orang Persia dan orang Romawi. Semua orang berhak untuk ditarik dan diajak masuk ke dalam Islam. Meskipun Islam turun di Jazirah Arab, namun Islam adalah agama untuk semua tanpa pandang bulu dan warna. Islam tidak memuliakan seseorang lantaran nasab, jabatan, atau harta, tetapi Islam memuliakan dengan takwa.


                      🌴🌴🌴🌴

=========
FOOTNOTE:

📚📚📚
[1] Lihat : As-Siroh An-Nabawiyah As-Shahihah 1/132

[2] Menurut Ibnu Ishaq Abu Bakar adalah kunyah beliau, adapun nama beliau adalah 'Atiq. Akan tetapi menurut Ibnu Hisyam nama beliau adalah Abdullah, adapun 'Atiq adalah laqab (gelar) karena indahnya wajah beliau. Adapun ayahnya yaitu Abu Quhafah namanya adalah 'Utsman. Sehingga nama lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin 'Utsman bin 'Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murroh bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr.

Abu Bakar adalah seorang yang mudah bergaul di kaumnya, beliau adalah orang yang paling paham tentang nasab kaum Quraisy demikian juga tentang sejarah Quraisy, baik berita yang baik maupun yang buruk. Beliau adalah seorang pedagang yang dikenal dengan budi pekerti yang luhur. Karenanya banyak orang yang datang menemui beliau dengan berbagai tujuan, ada yang karena urusan dagang, ada yang karena ilmu beliau, atau karena sekendar senang ngobrol dengan beliau. (lihat Siroh Ibnu Hisyam 1/231-232)

[3] Nama beliau adalah 'Utsman bin 'Affaan bin Abil 'Aash bin Umayyah  bin 'Abdi Syams bin 'Abdi Manaf bin bin Qushai bin Kilab bin Murroh bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib.

[4] Nama beliau : Az-Zubair bin 'Awwam bin Khuwalid bin Asad bin 'Abdil 'Uzza bin Qushai bin Kilaab

[5] Nama beliau : 'Abdurrahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abd bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murroh

[6] Nama beliau : Sa'ad bin Abi Waqqash (Abu Waqqas namanya : Malik) bin Uhaib bin 'Abdi Manaf bin Zuhrah bin Murroh bin Kilab bin Murroh bin Ka'ab bin Luay

[7] Thalhah bin 'Ubaidillah bin 'Utsman bin 'Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murroh bin Kilab bin Lu'ay



🌏 https://firanda.com https://firanda.com/2510-sirah-nabi-22-dakwah-sembunyi-sembunyi.html