Selasa, 26 Januari 2021

Manfa'atkan waktu dipagi hari

Manfa'atkan waktu dipagi hari

🕋 Sholat Subuh dan qobliyah Subuh, sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan oleh malaikat. QS. Al-Isra: 78

🌾Dzikir pagi
🍃Perbanyak istighfar
🔰Rutinkan membaca Al-Qur'an
💰Rutinkan bersedekah meskipun sedikit
📚 Menuntut ilmu                                                         🍁Masa dimana banyak mendengar kabar bahwa orang-orang terdekat kita banyak yang jatuh sakit

Beberapa orang disekitar kita yang kita kenal namanya telah mendahului kita kembali kepada Allah Subhanahu wata'ala

Semoga Allah mengampuni mereka dan menjaga kesehatan kita agar Istiqomah dalam keta'atan kepadaNya. Aamiin

Sabtu, 23 Januari 2021

Menghilangkan Penderitaan Sesama Muslim

Menghilangkan Penderitaan Sesama Muslim

👤 *_Ustadz DR. Firanda Andirja, M.A_*

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dari shāhabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, beliau berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang Muslim penderitaannya dari penderitaan-penderitaan di dunia, maka Allāh akan menghilangkan penderitaannya dari penderitaan-penderitaan hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan bagi orang yang mengalami kesulitan karena terlilit utang, maka Allāh akan memudahkan baginya urusan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib orang Islam, maka Allāh akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allāh senantiasa menolong hamba tersebut jika seorang hamba menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan kaidah yang sangat agung yaitu

الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

"Balasan sesuai dengan amal perbuatan."

Barangsiapa yang melakukan kebaikan, maka Allāh akan balas dengan kebaikan. Barangsiapa yang melakukan keburukan, maka Allāh akan balas dengan keburukan. Perhatikan hadits ini!

*    Barangsiapa yang menghilangkan penderitaan orang lain, maka Allāh akan menghilangkan penderitaannya.

*    Barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan, maka Allāh akan mengilangkan kesulitannya.

*    Barangsiapa yang menutup aurat seorang Muslim, maka Allāh akan menutup auratnya.

*    Barangsiapa menolong seorang hamba, maka Allāh akan menolongnya.

Ini semua menunjukkan bahwasanya "balasan seusai dengan perbuatan".

Hadits ini membicarakan beberapa permasalahan.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang menghilangkan penderitaan seorang muslim dari penderitaan-penderitaannya di dunia maka Allāh ﷻ akan menghilangkan penderitaanya pada hari kiamat kelak."

Di sini Rasūlullāh ﷺ tidak mengatakan "Allāh akan menghilangkan penderitaannya di dunia dan di akhirat", tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam hanya mencukupkan "Allāh akan menghilangkan penderitaannya di hari kiamat kelak."

Kenapa bisa demikian? Hal ini dijelaskan oleh Al-Hāfizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jamī'ul 'Ulūm wal Hikām, beliau menyebutkan bahwasanya, "Karena penderitaan di dunia tidak ada apa-apanya (tidak ada bandingannya) jika dibandingkan dengan penderitaan pada hari kiamat kelak."

Sesungguhnya penderitaan pada hari kiamat kelak sangatlah berat. Oleh karenanya, Allāh menyediakan bagi orang yang menghilangkan penderitaan saudaranya di dunia, Allāh akan menghilangkan penderitaannya di akhirat.

Kenapa? Penderitaan di dunia masih bisa dihadapi tapi penderitaan di akhirat maka sangat mengerikan. Tidak ada orang yang bisa menghadapi penderitaan di akhirat, kecuali jika ditolong oleh Allāh ﷻ.

Seperti dalam hadits disebutkan,

Rasūlullāh ﷺ mengatakan bahwasanya, "Allāh akan mengumpulkan seluruh manusia sejak awal sampai akhir di satu dataran; Matahari akan direndahkan oleh Allāh ﷻ; Maka orang-orang akan mengalami penderitaan dan kesulitan dan penderitaan yang mereka tidak mampu untuk menghadapinya, mereka tidak mampu untuk memikulnya; Maka sebagian orang berkata kepada yang lainnya, "Tidakkah kalian melihat yang kalian rasakan, tidakkah kalian melihat siapa yang bisa memberi syafa'at bagi kita di sisi Rabb kita." (HR. Bukhari dan. Muslim)

Ini adalah hadits tentang syafa'at yang menjelaskan manusia dalam kondisi sangat sulit tatkala itu, karena matahari diturunkan dalam jarak satu mil.

Oleh karenanya, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh ﷻ,

Di sini Rasūlullāh ﷺ mengkhususkan "Barangsiapa yg menghilangkan penderitaan seorang mukmin di dunia maka Allāh akan menghilangkan penderitaannya di akhirat

♻️ *Reshared : @kajianwestcovina*

Rabu, 20 Januari 2021

SHOLAT LAIL (SHOLAT MALAM), WUJUD SYUKUR SEORANG HAMBA KEPADA ALLOH TA’ALA

SHOLAT LAIL (SHOLAT MALAM), WUJUD SYUKUR SEORANG HAMBA KEPADA ALLOH TA'ALA

_Saudaraku kaum Muslimin rohimakumulloh...._

Mungkin ada yang bertanya : _"Mengapa kita harus sering dan membiasakan diri dengan melakukan Sholat Lail (yakni sholat di malam hari, yang kita kenal dengan Sholat Tahajjud) ?"_

Salah satu jawabannya adalah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits *Ummul Mu'minin Aisyah* rodhiyallohu 'anha, yang diriwayatkan oleh *Al-Imam Al-Bukhori* rohimahulloh dan *Imam Muslim* rohimahulloh, dalam kitab *Shohih* keduanya, sebagai berikut :
'Aisyah rodhiyallohu 'anha pernah menceritakan : 

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقوم من الليل حتى تتفطر قدماه، فقلت له : لم تصنع هذا يا رسول الله، وقد غفره الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر ؟ قال : أفلا أحب أن أكون عبدا شكورا ؟

_"Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam pernah melakukan sholat di malam hari, sampai pecah-pecah telapak kakinya (karena lamanya beliau berdiri dalam sholatnya tersebut). Lalu aku bertanya kepada beliau : "Mengapa Anda melakukan hal ini wahai Rosululloh, padahal sungguh Alloh telah mengampuni dosa-dosa Anda, yang dahulu maupun yang akan datang ?" Beliau pun menjawab : "Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang paling pandai bersyukur ?"_ 

(HR *Imam Al-Bukhori* no. 4837 dan *Imam Muslim* no. 2820)

Hadits tersebut di atas, menunjukkan kepada kita *beberapa faedah (pelajaran penting)*, diantaranya adalah  sebagai berikut :

1.  Menunjukkan betapa besar kesungguhan Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam dalam beribadah kepada Alloh Ta'ala.  

2.  Bahwa orang yang merasa banyak diberi nikmat oleh Alloh Ta'ala dengan berbagai kelebihan dan kenikmatan, maka *sudah selayaknya dan wajib baginya untuk bersyukur kepada Alloh Ta'ala.* 

Hal itu diwujudkan dengan *semakin bersungguh-sungguh dalm beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.*

3.  Bahwa adanya nikmat dari Alloh Ta'ala, baik itu sedikit ataupun yang banyak,  adalah *sebab terbesar untuk bersyukur kepada Alloh Ta'ala.*

4.  Jika Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga dan diampuni semua dosa-dosanya, *seperti itu ibadahnya, lalu bagaimana dengan kita ?*

Adakah jaminan bagi kita masuk surga ? Adakah jaminan bahwa dosa-dosa kita semua telah diampuni oleh Alloh Ta'ala ? 

Lalu mengapa kita bermalas-malasan beribadah kepada Robb kita ? 

Mengapa kita enggan bangun di waktu malam untuk bersujud dan memohon ampunan kepada-Nya ? 

Mana rasa syukur kita kepada Alloh Ta'ala ?

_Saudaraku...._

Ayo kita *hidupkan kembali kebiasaan sholat di malam hari (yakni sholat Tahajjud) kita.* 

Bukankah sepanjang bulan Romadhon yang baru lalu, kita telah *terbiasa Sholat Tarowih ?* 

*Sholat Tarowih itu adalah nama lain sholat Lail atau Tahajjud yang kita lakukan di bulan Romadhon.* 

*Maka apa yang dulu biasa kita lakukan, janganlah kita tinggalkan begitu saja setelah berakhirnya bulan Romadhon yang lalu.* Khususnya amalan yang berupa *sholat Lail ini.*

Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang sahabat beliau, yakni *Abdulloh bin 'Amr bin Al-'Ash* rodhiyallohu 'anhu sebagai berikut :

يا عبد الله، لا تكن مثل فلان، كان يكوم الليل، فترك قيام الليل

_"Wahai Abdulloh, janganlah kamu menjadi seperti si fulan. Dahulu dia biasa mengerjakan sholat lail (tahajjud), tetapi kemudian dia meninggalkan sholat lail tersebut."_ 

(HR *Imam Al-Bukhori* no. 1152 dan *Imam Muslim* no. 1154) 

Hadits tersebut di atas memberikan pelajaran bagi kita sebagai berikut :

1.  Anjuran bagi seseorang, untuk *melanggengkan (merutinkan) dalam melakukan amalan kebaikan,* meskipun amalan tersebut hukumnya sunnah (tidak wajib). 

2.  Dan juga menunjukkan *dimakruhkannya (dibencinya) bagi seseorang meninggalkan amalan kebaikan yang biasa dia kerjakan,* meskipun amalan tersebut hukumnya hanyalah sunnah (tidak wajib). 

Karena dengan meninggalkannya, berarti *memutuskannya dari mendapatkan pahala yang besar, yang biasanya dia dapatkan.*

3.  Hadits ini juga menunjukkan bahwa *Sholat Lail (Tahajjud) itu hukumnya adalah Mustahab atau Sunnah*, yakni tidak wajib. 

4.  Bahwa diantara sebab seseorang meninggalkan amalan yang biasa dia kerjakan, adalah karena *"berlebih-lebihan"* atau *"terlalu meremehkan".*

Yang dimaksud *"berlebih-lebihan"* disini adalah, terlalu berlebih-lebihan dalam melakukan amalan tersebut, dan memaksakan diri di luar batas kemampuannya dalam melakukannya, sehingga menimbulkan *futur (lemah semangatnya),* dan akhirnya putus asa sehingga meninggalkannya sama sekali. Dan ini termasuk perbuatan yang tercela.

Dan yang dimaksud dengan  *"terlalu meremehkan"* di sini adalah tidak mau tahu dengan keutamaan sholat lail, dan tidak ada kepeduliaan untuk melakukannya. Sehingga dia pun meninggalkannya sama sekali. Maka ini pun juga sangat tercela.

*Maka yang benar adalah, jangan berlebih-lebihan, dan jangan pula meremehkan.* 

Lakukanlah sholat lail atau ibadah apapun sesuai dengan kemampuan. 

Artinya, kalau sedang mempunyai semangat, lakukan sebaik dan sesempurna mungkin. Tapi kalau sedang capek atau kurang semangat, lakukanlah sesuai kemampuan meskipun sedikit, dan jangan tinggalkan sama sekali. 

*Sedikit, tetapi rutin dan terus menerus, inilah amalan yang dicintai oleh Alloh ta'ala.*

Sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

أحب الأعمال إلى الله أدوامها وإن قل

_"Amalan yg paling dicintai oleh Alloh itu adalah yg rutin (kontinyu/terus menerus), walaupun sedikit (jumlahnya)."_ ( HR *Imam Muslim*, dari Aisyah rodhiyallohu anha)

_Saudaraku ......_

Itulah diantara sebab *mengapa kita harus berusaha untuk istiqomah menunaikan Sholat Lail (Sholat Tahajjud).* 

Ya, salah satunya adalah *karena sholat lail itu sebagai bukti rasa syukur seorang hamba kepada Alloh Ta'ala* !

Dan masih banyak sebenarnya alasan-alasan lainnya. Tetapi insya Alloh apa yg telah disebutkan itu sudah mencukupi.

Semoga Alloh ta'ala senantiasa memberikan taufiq-Nya dan kemampuan bagi kita untuk melaksanakannya.

Semoga apa yang sedikit ini bermanfaat bagi yang menulisnya, dan juga bagi saudaraku semuanya. Barokallohu fiikum.

*Surabaya*, Senin pagi yg sejuk, 6 Syawal 1440 H / 10 Juni 2019 M

✍ Akhukum fillah, *Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby*

Silahkan joint pada channel telegram kami :


Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Kamis, 14 Januari 2021

DERAJAT HADITS MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA

DERAJAT HADITS MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA

Oleh : Yulian Purnama,S.Kom

Mengusap wajah setelah berdoa diperselisihkan para ulama hukumnya. Perselisihan tersebut berporos pada derajat hadits yang menjadi dasar sebagian ulama yang membolehkan atau menganjurkan. Sebagian ulama menganggap hadits-hadits yang ada dalam bab ini adalah hadits lemah, sedangkan sebagian ulama lain memandang hadits-hadits tersebut saling menguatkan sehingga derajatnya naik menjadi hasan. Berikut ini pembahasan singkat mengenai derajat hadits mengusap wajah setelah berdoa.

*Hadits 1*
Dikeluarkan At Tirmidzi dalam Sunan-nya (3386), Al Hakim dalam Al Mustadrak (1967), Al Bazzar dalam Musnad-nya (129), dan yang lainnya, semuanya dari jalan Hammad bin Isa Al Juhani:

حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ "

Hammad bin Isa Al Juhani menuturkan kepadaku, dari Hanzhalah bin Abi Sufyan Al Jumahi, dari Salim bin Abdillah, dari ayahnya dari Umar bin Al Khathab radhiallahu'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo'a, beliau tidak menurunkannya hingga beliau mengusap wajahnya terlebih dahulu dengan kedua telapak tangannya"

Sanad ini lemah karena terdapat perawi Hammad bin Isa Al Juhani.

At Tirmidzi mengatakan: haditsnya sedikit
Abu Hatim Ar Razi mengatakan: "dha'iful hadits"
Al Hakim mengatakan: "ia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari Ibnu Juraij dan Ja'far Ash Shadiq"
Ibnu Hajar mengatakan: "dha'if"
Al Bazzar mengatakan:
layyinul hadits
Abu Daud As Sijistani mengatakan: "dha'if, ia meriwayatkan hadits-hadits munkar"
Ibnu Ma'in mengatakan: seorang syaikh yang shalih"
Dari keterangan-keterangan di atas, jelas bahwa Hammad adalah perawi yang lemah, sehingga sanad ini lemah. Namun masih dimungkinkan untuk menjadi syahid (penguat).

*Hadits 2*
Dikeluarkan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1181, 3866),

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ ، قَالَا : حَدَّثَنَا عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ ، عَنْ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ الْأَنْصَارِيِّ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ ، وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا ، فَإِذَا فَرَغْتَ ، فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ "

Abu Kuraib dan Muhammad bin Ash Shabbah menuturkan kepadaku, mereka berdua berkata: 'A-idz bin Habib menuturkan kepadaku, dari Shalih bin Hassan Al Anshari, dari Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: jika engkau berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan telapak tanganmu dan bukan dengan punggung tanganmu. Dan jika engkau selesai, maka usaplah wajahmu dengan keduanya"

Sanad ini juga lemah karena terdapat perawi Shalih bin Hassan Al Anshari.

Al Baihaqi berkata: "dhaif"
Abu Hatim Ar Razi berkata: "dhaiful hadits, munkarul hadits"
Abu Nu'aim Al Asbahani mengatakan: munkarul hadits, matruk"
Ahmad bin Hambal mengatakan: "laysa bi syai'"
Ibnu Hajar Al Asqalani dan An Nasa'i mengatakan: matrukul hadits"
Al Bukhari mengatakan: "munkarul hadits"
Adz Dzahabi mengatakan: "jama'ah telah mendhaifkannya"
Dari keterangan-keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa Shalih bin Hassan Al Anshari adalah perawi yang matruk dan tidak bisa menjadi penguat.

*Hadits 3*
Dikeluarkan Ahmad dalam Musnad-nya (17943), Abu Daud dalam Sunan-nya (1492),

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ ، عَنْ حَفْصِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ ، عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ "

Qutaibah bin Sa'id menuturkan kepada kami, Ibnu Lahi'ah menuturkan kepada kami, dari Hafsh bin Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqash, dari Sa'ib bin Yazid dari ayahnya bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam jika berdoa beliau mengangkat kedua tangannya untuk mengusap wajahnya dengan keduanya.

Sanad ini lemah karena memiliki 2 masalah:

Perawi Ibnu Lahi'ah diperselisihkan statusnya. Mayoritas ulama mendhaifkannya, dan inilah yang pendapat yang kuat. Terlebih lagi dalam sanad ini, hadits Ibnu Lahi'ah tidak diriwayatkan oleh salah satu Al Abadilah Al Arba'ah. Penjelasan lebih lebar mengenai Ibnu Lahi'ah silakan baca pada tulisan kami mengenai hadits Berdzikirlah Sampai Dikatakan Gila".
Perawi Hafsh bin Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqash. Ibnu Hajar Al Asqalani dan Adz Dzahabi mengatakan: majhul". Dan yang meriwayatkan dari Hafsh bin Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqash hanya Ibnu Lahi'ah yang statusnya lemah, maka jelas bahwa majhul di sini maksudnya adalah majhul 'ain.
Dengan demikian sanad ini juga tidak bisa menjadi penguat.

*Hadits 4*
Dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Mu'jam Al Kabir (13557),

حَدَّثَنَا عُبَيْدٌ الْعِجْلِيُّ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرَوَيْهِ الْهَرَوِيُّ , ثنا الْجَارُودُ بْنُ يَزِيدَ , ثنا عُمَرُ بْنُ ذَرٍّ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي أَنْ يَرْفَعَ الْعَبْدُ يَدَيْهِ فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا لا خَيْرَ فِيهِمَا , فَإِذَا رَفَعَ أَحَدُكُمْ يَدَيْهِ , فَلْيَقُلْ : يَا حَيُّ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ , ثُمَّ إِذَا رَدَّ يَدَيْهِ فَلْيُفْرِغْ ذَلِكَ الْخَيْرَ إِلَى وَجْهِهِ "

Ubaid Al 'Ijli menuturkan kepada kami, Muhammad bin 'Amrawaih Al Harawi menuturkan kepada kami, Al Jarud bin Yazid menuturkan kepada kami, Umar bin Dzarr menuturkan kepada kami, dari Mujahid dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: sesungguhnya Rabb kalian itu Maha Pemalu dan Pemurah. Ia malu jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya lalu Ia membalasnya dengan kehampaan tanpa kebaikan sedikitpun. Maka jika salah seorang dari kalian berdoa, ucapkanlah: yaa hayyu laa ilaaha illa anta, yaa arhamar raahimiin, sebanyak 3x. Lalu jika ingin mengembalikan kedua tangan, telungkupkanlah kebaikan (yang ada di tangannya) ke wajahnya".

Sanad ini lemah karena perawi Al Jarud bin Yazid.

Abu Hatim Ar Razi berkata: "munkarul hadits, tidak ditulis haditsnya
An Nasa-i berkata: "matrukul hadits"
Ad Daruquthni berkata: "matruk"
Hammad bin Usamah Al Kufi berkata: "ia tertuduh sebagai pendusta"
Al Bukhari berkata: munkarul hadits
Ibnu Hibban berkata: "ia bersendirian dalam meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan ia meriwayatkan hadits-hadits yang tidak ada asalnya dari para perawi tsiqah"
Dari sini jelas bahwa Al Jarud bin Yazid sangat lemah dan sanad ini tidak bisa menjadi penguat.

Kesimpulan
Hadits Umar bin Al Khathab adalah yang kualitasnya paling bagus dalam bab ini, namun tetap saja ia riwayat yang lemah. Sedangkan jalan-jalan yang lain kelemahannya lebih parah dan tidak bisa menjadi penguat. Maka dari keterangan-keterangan di atas, hadits-hadits mengenai mengusap wajah setelah berdoa adalah hadits-hadits yang lemah dan tidak dapat saling menguatkan. Sehingga tidak bisa menjadi sandaran untuk amalan mengusap wajah setelah berdoa. Karena amalan ibadah hanya bisa ditetapkan oleh hadits yang maqbul.

Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ أَوْ حَدِيثَانِ لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

adapun mengenai Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam mengangkat tangan dalam berdoa, ini telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Sedangkan mengusap wajah, maka tidak ada kecuali satu atau dua hadits saja yang tidak bisa menjadi hujjah. Wallahu a'lam" (Majmu' Al Fatawa, 22/519).

Ini adalah logika yang cerdas dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pernyataan ini disebutkan dan diperluas lagi oleh Syaikh Al Albani rahimahullah:

وأما مسحهما به خارج الصلاة فليس فيه إلا هذا الحديث والذى قبله ولا يصح القول بأن أحدهما يقوى الآخر بمجموع طرقهما ـ كما فعل المناوى ـ لشدة الضعف الذى فى الطرق , ولذلك قال النووى فى " المجموع ": لا يندب " تبعا لابن عبد السلام , وقال: لا يفعله إلا جاهل. ومما يؤيد عدم مشروعيته أن رفع اليدين فى الدعاء قد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحة وليس فى شىء منها مسحهما بالوجه فذلك يدل ـ إن شاء الله ـ على نكارته وعدم مشروعيته

adapun mengusap wajah (setelah doa) di luar shalat, maka tidak ada hadits kecuali ini dan yang sebelumnya. Dan tidak benar bahwa hadits-haditsnya saling menguatkan dengan banyaknya jalan (sebagaimana dikatakan oleh Al Munawi) karena terlalu beratnya kelemahan yang ada pada jalan-jalannya. Oleh karena itu Imam An Nawawi dalam Al Majmu' mengatakan: hukumnya tidak disunnahkan', juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abdissalam (ulama Syafi'iyyah): 'tidak ada yang melakukannya kecuali orang jahil'.

Dan yang lebih menguatkan lagi bahwa hal tersebut tidaklah disyariatkan adalah bahwasanya mengangkat tangan dalam dia telah ada dalam banyak hadits shahih, namun tidak ada satupun di dalamnya yang menyebukan tentang mengusap wajah. Maka ini insya Allah menunjukkan pengingkaran terhadap perbuatan tersebut dan menunjukkan itu tidak disyariatkan" (Irwa Al Ghalil, 2/182).

Wallahu a'lam bis shawab.

***

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/26976-derajat-hadits-mengusap-wajah-setelah-berdoa.html


📕📖..................✍🏻 

Senin, 04 Januari 2021

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

Hidayah secara bahasa berarti ar-Rasyaad (Bimbingan) dan Ad-Dalaalah (Dalil/Petunjuk) [Lihat kitab "al-Qaamuushul muhiith" (hal. 1733)]

Adapun secara syari, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah ta'ala menjadi empat macam:

Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

{قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى}

"Musa berkata: "Rabb kami (Allah Ta'ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk" (QS Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah ta'ala berikan kepada SEMUA MAKHLUK dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.

Hidayah (yang berupa) PENJELASAN dan KETERANGAN tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini TIDAK berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat. Tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah ta'ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:
{وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى}

"Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk" (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran), tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memeringatkan jalan yang salah. Akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah ta'ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia, agar mau mengikuti petunjuk Allah ta'ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta'ala berfirman tentang Rasul-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

"Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus" (QS asy-Syuuraa: 52).

Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah ta'ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:
{فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

"Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya" (QS Faathir: 8). `

Dan firman-Nya:

{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

"Jika engkau (wahai Muhammad ﷺ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memunyai penolong" (QS an-Nahl: 37).

Juga firman-Nya:

{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

"Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ﷺ) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk" (QS al-Qashash: 56).

Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah ﷺ, dan menetapkan bagi beliau ﷺ hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

"Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus" (QS asy-Syuuraa: 52).

Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka, ketika penghuninya digiring kepadanya.


Allah Ta'ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga), kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami" (QS al-A'raaf: 43).

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah ta'ala berfirman:

{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}

"Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah. Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka" (QS ash-Shaaffaat: 22-23)" [Lihat kitab "Bada-i'ul fawa-id" (2/271-273) dengan ringkasan dan tambahan].

Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:

Hidayah yang bersifat Mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan Islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam" [Lihat kitab "Jaami'ul 'Uluumi Wal Hikam" (hal. 225)].


Dinukil dari artikel berjudul: "Makna Dan Hakikat Hidayah Allah" yang ditulis oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

[Artikel Muslim.Or.Id

#Copas. 

Cara Membalas Ucapan Fii Amanillah

BISMILLAH...
Cara Membalas Ucapan Fii Amanillah

Fii amanillah, sebuah doa yang biasa kita ucapkan kepada mereka yang sedang bepergian memiliki arti yang magis, (semoga) engkau selalu berada dalam lindungan Allah. Sebuah doa yang memiliki makna yang dalam, semoga Allah menjagamu dalam perjalanan ini, kembali kepada keluarga dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa.

Fii amanillah, sebuah doa yang pendek, yang mengucapkannya tidak butuh waktu lebih dari satu menit. Doa pendek yang memiliki beragam makna. Semoga kesehatanmu, agamamu, akhlakmu, segala yang kamu butuhkan dalam perjalanan ini selalu dalam lindungan Allah.

*Fii amanillah, (semoga) engkau selalu berada dalam lindungan Allah* Dilindungi dari hal-hal buruk saat berkendara, dilindungi dari malam-malam yang gelap, dilindungi dari niat orang-orang yang jahat.

Ya… apa sih yang enggak Dilindungi oleh Allah?

*Bagaimana membalas ucapan fii amanillah?* *Cukup ucapkan ma'assalamah* Ma'assalamah yang tidak kalah pendek, menyimpan doa yang tidak kalah dalam. *Ma'assalamah artinya semoga keselamatan menyertaimu*

Ma'assalamah, semoga keselamatan selalu menyertaimu. Keselamatan agama, keselamatan lahir bathin, keselamatan apapun yang ada dalam hidup kamu. Ma'assalamah, semoga keselamatan selalu menyertaimu, selamat dari apa-apa yang tidak baik di hadapanmu.

Ma'assalamah, semoga keselamatan selalu menyertaimu. Ma'assalamah, semoga selamat selalu menyertai hatimu, tidak berpaling kepada laki-laki lain selain suamimu. Tidak tergoda untuk belanja diskonan dan ingat untuk mempersiapkan diri menyambutku pulang dengan ceria. Bhahahaha. Emak  ngelantur, deh.

Indah ya kalau kita berbalas doa setiap kali akan bepergian. Coba deh gunakan gambar ini untuk balas-balasan dengan suami/istri setiap kali beliau bepergian. Bikin nuansa keluarga selalu hangat, membuat kita selalu ingat bahwa dimanapun kita berada ada orang-orang yang menyayangi kita, yang selalu menunggu dengan setia.

Fii amanillah. Semoga engkau selalu berada dalam lindungan-Nya. Dilindungi dari segala godaan yang bertebaran. Ma'assalamah, semoga keselamatan selalu menyertaimu, hingga kita bisa berkumpul kembali dalam ketaatan kepada-Nya.

Via:
Majelis Taklim Al-Fath GAIS