TIDAK ADA SEORANGPUN MENJAMIN TIDAK AKAN MENYIMPANG
Tidak ada seorang pun yang menjamin dirinya selamat dari penyimpangan dan kesesatan. Mungkin saja diawal kehidupannya atau dipertengahan kehidupannya, seseorang berada di atas kebenaran, namun akhir kehidupannya, dia menyimpang dan sesat.
Berkata Syaikh Al-'Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah :
وأنا لست ضامنا ألا أتغير وكل أحد لا يستطيع أن يضمن نفسه من التغير
"Aku tidak pernah menjamin diriku tidak akan BERUBAH (menyimpang), dan semua orang tidak ada yang mampu menjamin dirinya selamat dari PENYIMPANGAN." (Tuhfatul Mujib hal. 143).
Berkata Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah :
لا أحد يزكي نفسه، ولا أحد لا يخاف من الفتنة، ما دام على قيد الحياة اﻹنسان معرض للفتنة، ضلََّّ علماء أحبار، وزلّت أقدامهم، وختم لهم بالسّوء وهم علماء، فالخطر شديد، ولا يأمن اﻹنسان على نفسه أن تنزلق قدمه في الضلال.
"Tidak ada seorangpun yang boleh menganggap dirinya SUCI, dan tidak ada seorangpun yang boleh merasa tidak takut terhadap KESESATAN, selama masih hidup seseorang menjadi sasaran kesesatan, telah banyak ulama yang tersesat, kaki mereka telah tergelincir, dan mereka ditimpa su'ul khatimah, padahal mereka ulama. Jadi bahaya yang mengintai sangat besar, dan seseorang tidak bisa merasa aman terhadap dirinya dari tergelincir dalam kesesatan. (I'anatul Mustafid, jilid 1 hlm. 129).
Jika melihat seseorang di atas petunjuk, di atas kebenaran dan beramal kebaikan, maka janganlah kagum dan memuji berlebihan sebelum kita melihat akhir dari kehidupannya. Karena akhir itulah yang menentukan. Bukan diawal atau pertengahan kehidupannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِعمل أَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ" (صحيح، أخرجه ابن أبي عاصم في السنة (1/174) وأحمد في مسنده (19/246)، صححه الشيخ الأرناؤوط والألباني وغيره)
"Janganlah kalian merasa terkagum-kagum dengan amalan salah seorang dari kalian hingga kalian dapat melihat amalan DIAKHIR HAYATNYA,
Sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ternyata ia berubah [di akhir hayatnya] dan beramal dengan amal keburukan [maka ia termasuk ahli neraka].
Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ternyata ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan [maka ia termasuk ahli Surga].
Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal baik sebelum kematiannya, " para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?" beliau bersabda: "Allah akan Memberinya taufik untuk beramal kebaikan –pada akhir hayatnya-, setelah itu Ia mewafatkannya." (HR Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1/174), Ahmad dalam Musnadnya. (19/246). Berkata Syeikh Syu'aib Al-Arna'ut dan Syeikh Al-Albani : Hadist Shahih).
Semoga Allah Ta'ala mewafatkan kita semua di atas islam dan sunnah dan beramal kebaikan.
AFM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar