Senin, 18 Oktober 2021

Kalimat Tauhid Lebih Berat Timbangannya Dari Langit Dan Bumi

Kalimat Tauhid Lebih Berat Timbangannya Dari Langit Dan Bumi

Dari Abu Sa'id Al-Khudri rodhiyallahu 'anhu bahwa Rosulullah ﷺ bersabda,

يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به قال قل يا موسى لا إله إلا الله قال يا رب كل عبادك يقولون هذا

"Musa berkata, "Ya Robb, ajarkanlah aku sebuah kalimat yang dengannya aku berdzikir kepada-Mu dan berdoa. Allah berfirman, "Katakanlah wahai Musa, "Laa ilaaha illallaah". Lalu Musa berkata, "Ya Robb, semua hamba-Mu mengucapkannya."

قال يا موسى لو أن السماوات السبع عامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ولا إله إلا الله في كفة مالت بهن لا إله إلا الله

Allah berfirman, "Wahai Musa, andaikata langit yang tujuh beserta penghuninya selain Aku dan bumi yang tujuh diletakkan di atas satu anak timbangan, sedangkan kalimat "Laa ilaaha illallaah" diletakkan pada anak timbangan yang lain, maka lebih berat timbangan yang di sana ada kalimat "Laa ilaaha illallaah"."

(HR. Ibnu Hibban dalam "Shohihnya" 2324, Al-Hakim dalam "Al-Mustadroknya" 1/528 dishohihkan oleh beliau dan disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi, sanadnya dishohihkan Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam "Al-Fath" 11/208)

Nabi Musa 'alaihissalam di dalam hadits ini memohon kepada Allah agar mengajarinya untuk berdzikir dan berdoa. Ini menunjukkan dzikir dan doa harus dilandasi dalil.

Syariat tidak mengizinkan berdzikir dengan kalimat yang mengada-ada begitu pula dengan cara berdzikirnya.

Seperti model berdzikir dengan menyebut ismul jalal yang diulang-ulang yaitu Allah, Allah, Allah sekian kali atau menyebut ism dhomir yaitu huwa, huwa, huwa sekian kali sembari menggoyangkan kepala dan badan.

Hal tersebut tidak ada petunjuknya dari Rosulullah ﷺ dan tidak pernah dicontohkan oleh para shohabat. Alhamdulillah Islam syariat yang mudah.

Para ulama juga telah meluruskan kesalahpahaman istidlal (cara berdalil) mereka di samping riwayat-riwayatnya yang tidak shohih.

Syaikh Abdullah Alu Jarullah berkata,

"Adapun yang dimaksud berdzikir kepada-Mu dari ucapan Nabi Musa dalam hadits yaitu maknanya memuji Allah. Sedangkan berdoa yaitu memohon kepada-Nya.

Firman Allah, "Katakanlah wahai Musa, "Laa ilaaha illallaah", menunjukkan betapa agungnya kalimat tauhid yang Allah istimewakan untuk menjawab pertanyaan Musa.

Hadits juga memberi faidah bahwa langit terdiri dari tujuh lapis dan ada penghuninya. Dan beriman dengan adanya mizan yaitu timbangan yang memiliki dua anak timbangan."

(Al-Jami'ul Farid hlm. 16)

Maka setinggi-tinggi pujian dari kalimat dzikir adalah kalimat tauhid "Laa Ilaha Illallaah" yaitu tidak ada yang sesembahan yang benar selain Allah. Bukan Allah, Allah, Allah atau huwa, huwa, huwa.

Para ulama juga berdalil dengan hadits ini yang menunjukkan ketinggian Allah di atas langit. Sebagaimana dalam ayat yang berbunyi

أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض فإذا هي تمور

"Apakah engkau merasa aman dari Allah yang berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (Al-Mulk: 16)

Frasa "Fis sama'" dalam ayat ini maknanya di atas, bukan di dalam langit yang terkungkung oleh ruang dan waktu.

Kata "Fi" dalam bahasa Arab bisa bermakna "'Ala" yakni di atas seperti dalam ayat:

ولأصلبنكم في جذوع النخل

"Dan sungguh aku (Fir'aun) akan menyalib kalian di atas pohon kurma." (Thoha: 71)

Atau dalam ayat yang lain,

فسيحوا في الأرض أربعة أشهر

"Maka berjalanlah kalian di atas bumi selama empat bulan." (At-Taubah: 2)

Demikian aqidah yang diajarkan oleh Rosulullah ﷺ kepada para shohabat yang sampai kepada kita.

Dan aqidah ini telah disepakati oleh para salaf dan tidak membuka ruang ijtihad atau perselisihan di dalamnya.

Al-Imam Ibnu Batthoh Al-Ukbari berkata,

وأجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أنَّ الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سماواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

"Para ulama dari kalangan shohabat, tabiin dan segenap ulama kaum mukminin telah berijma' (sepakat) bahwa Allah tabaroka wa ta'ala tinggi di atas Arsy-Nya, di atas langit-langit-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya.

لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين 

Tidaklah enggan menerimanya dan tidak pula mengingkarinya melainkan dia telah terpengaruh oleh madzhab hululiyyah. Mereka adalah kaum yang telah menyimpang hatinya dan disesatkan oleh syaithon."

(Al-Ibanah 3/136)

Semoga Allah meneguhkan keyakinan kita di atas kalimat tauhid laa ilaaha illallaah, menjadikannya sebagai sebab gugurnya dosa, dan memperberat timbangan amal sholih kita.

*💟💫manhajulhaq💫💟* 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar